Kalender Liturgi

Kamis, 21 Maret 2013

mendoakan kenangan

Mendoakan kenangan Ariditas 3 tahun lalu.

Sabtu, 09 Maret 2013

Jumat, 01 Maret 2013

Arti Emeritus

Emeritus adalah kata sifat positif yang digunakan untuk menunjuk seorang pensiunan profesor, uskup, Paus, atau profesional lainnya. Untuk perempuan sering digunakan kata "Emerita".

Dalam banyak kasus, istilah ini diberikan secara otomatis kepada semua orang yang pensiun pada peringkat tertentu. Untuk pensiunan profesor  hal ini sudah menjadi hal biasa.

Dalam kasus lain, digunakan ketika orang penting dalam sebuah profesi diberikan pensiun atau alih posisi sehingga mantan pangkat masih dapat digunakan dalam gelarnya. Ini sangat berguna untuk mempertahankan hak kekuasaan seseorang di dalam memberikan komentar, memberi ceramah, kuliah atau menulis subjek-subjek terkait dengan profesi mereka meskipun sudah pensiun. Kata ini bisa ditulis didepan gelar (Emeritus Profesor) atau dibelakan gelar (Profesor Emeritus).

Sebagai bentuk pangkat, biasanya "emeritus" ditempatkan sebelum nama seseorang (Professor Emeritus). Seperti sebutan Paus Emeritus, gelar kehormatan yang diberikan Gereja Katolik untuk Paus Benediktus XVI, yang mengundurkan diri pada 28 Februari 2013 pukul 20.00 waktu Vatikan Roma, atau 1 Maret 2013 pukul 02.00 WIB.

Kata Emerere terdiri dari awalan e- yang berarti "keluar dari" atau "dari" dan merēre yang berarti "mendapatkan". [1]

Referensi ^  A Press Lord Without a Rosebud  — "New York Times",17 Januari  1993.
Dan disadur juga dari wikipedia.

Selasa, 26 Februari 2013

Arti Latae sententiae

Latae sententiae adalah istilah Bahasa Latin yang digunakan di dalam Hukum Kanon Gereja Katolik Roma yang berarti secara harafiah "dijatuhi hukuman".

Secara resmi, sebuah hukuman latae sententiae secara langsung terjadi begitu hukum dilanggar.[1]

Sebuah hukuman latae sententiae bisa berbentuk salah satu dari tiga hal berikut: ekskomunikasi, interdiksi, atau penangguhan. Ekskomunikasi melarang dilakukannya hak-hak pembaptisan tertentu, dan bisa melibatkan pelarangan keikut-sertaan dalam acara-acara liturgi dan kepengurusan gereja, dan pelarangan penerimaan rahmat-rahmat gereja.[2][3] Sebuah interdiksi melibatkan pelarangan-pelarangan liturgis seperti ekskomunikasi, naun tidak memengaruhi keikut-sertaan di dalam kepengurusan gereja.[4] Penangguhan, yang memengaruhi hanya para anggota pengurus gereja, memengaruhi seluruh atau sebagian kuasa memerintah, kepengurusan, atau fungsi yang melekat pada suatu jabatan tertentu.[5]

Dalam undang-undang Hukum Kanon Katolik Roma yang berlangsung sekarang, terdapat delapan situasi dimana seseorang bisa menerima ekskomunikasi latae sententiae. Kecuali kondisi pengecualian yang ada di kanon 1321-1330[6] dapat dibuktikan, orang-orang dibawah ini menerima ekskomunikasi latae sententiae: seseorang yang murtad dari iman, seorang pengikut ajaran yang menentang ajaran gereja, atau suatu gerakan yang memecah gereja (skisma);[7] seseorang yang membuang benda-benda Ekaristi yang telah diberkati atau yang mengambil dan menyimpannya semua untuk tujuan yang mencemarkan kesuciannya;[8] seseorang yang menyerang Sri Paus secara fisik;[9] seorang imam yang mengampuni seseorang yang terlibat dalam dosa terhadap Printah Allah keenam (pelarangan akan perzinahan) kecuali di bawah ancaman bahaya kematian;[10] seorang uskup Gereja Katolik yang mentahbiskan seseorang menjadi uskup tanpa mandat Sri Paus, dan seseorang yang menerima pentahbisan darinya;[11] seorang penerima pengakuan dosa yang secara langsung melanggar kerahasiaan pengakuan dosa yang sangat suci;[12] seseorang yang mengadakan suatu aborsi yang lengkap;[13] dan para pelanggar hukum yang tidak berkenaan dengan hukum yang membentuk ekskomunikasi latae sententiae namun tanpa peran mereka pelanggaran terhadap hukum ini tidak akan terjadi.[14]

Pihak-pihak lain yang menerima ekskomunikasi latae sententiae berdasarkan dekrit kepausan diantaranya adalah: seseorang yang melanggar kerahasiaan pemilihan paus, atau yang mengganggunya dengan cara-cara seperti suap dan sebagainya;[15] seorang wanita yang ditahbiskan menjadi imam atau seorang uskup yang mentahbiskan seorang wanita menjadi imam.[16]

Referensi ^  "Can. 1314" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4V.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1331" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4X.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Excommunication" . Catholic Encyclopedia. New Advent. http://www.newadvent.org/cathen/05678a.htm . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1332" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4X.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1333" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4X.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Cann. 1321-1330" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4W.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1364" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P52.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1367" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P52.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1370" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P53.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1378" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P54.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1382" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P54.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1388" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P54.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1398" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P57.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1329" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4W.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  John Paul II. "Universi Dominici Gregis" . http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/apost_constitutions/documents/hf_jp-ii_apc_22021996_universi-dominici-gregis_en.html . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  Vatican says will excommunicate women priests | International | Reuters

By http://en.m.wikipedia.org/wiki/Latae_sententiae#section_language

Minggu, 24 Februari 2013

wawancara Paus dengan penulis biografinya (bagian I)


Wawancara terakhir Paus Benediktus dengan Penulis Biografinya  Paus dan kondisi kesehatannya  «Saya adalah akhir dari yang lama dan awal dari yang baru »  « Pendengarannya menurun. Dia tidak bisa melihat dengan mata kirinya. Tubuhnya semakin kurus: penjahit mengalami kesulitan dalam menyelesaikan jubah yang baru »  Pertemuan terakhir kami terjadi sepuluh minggu yang lalu. Waktu itu Paus menerima saya di Istana Apostolik untuk melanjutkan pembicaraan kami yang ditujukan untuk penulisan biografinya. Pendengarannya menurun, mata kirinya tidak bisa melihat lagi, tubuhnya semakin kurus, sehingga penjahit mengalami kesulitan dalam menyelesaikan jubah yang baru. Ia menjadi lebih lemah, bahkan lebih ramah dan rendah hati, dari kesemuanya ia menjadi pendiam. Ia tidak tampak sakit, tetapi kelelahan yang telah menguasai seluruh dirinya, tubuh dan jiwa, semua tidak bisa lagi diabaikan.  Kami membicarakan tentang saat dirinya membelot dari pasukan Hitler; tentang hubungannya dengan kedua orangtuanya; tentang cd yang digunakannya untuk belajar banyak bahasa; tentang tahun-tahun fundamental-nya di Mons doctus*, sebuah bukit berisikan ajaran-ajaran di Freising di mana sejak 1000 tahun lamanya para Pemimpin Spiritual di sana diperkenalkan kepada Misteri Iman. Di sini ia telah memulai kotbah-kotbah awalnya di hadapan murid-murid sekolah, sebagai pastor paroki ia telah membantu para pelajar dan di dalam kedinginan ruang pengakuan dosa di Katedral ia telah mendengarkan penderitaan orang-orang. Pada bulan Agustus tahun lalu, selama wawancara di Castel Gandolfo yang berlangsung satu setengah jam, saya bertanya kepadanya berapa besar dirinya terpukul oleh kejadian Vatileaks. “Saya tidak jatuh ke dalam semacam keputusasaan atau nyeri yang universal - katanya - hanya bagi saya hal itu tampak tak terpahamkan. Bahkan menunjuk kepada pelakunya (Paolo Gabriele), saya tidak mengerti apa yang bisa diharapkan. Saya tidak mampu memahami psikologi-nya”. Bagaimanapun, ia mengaku, bahwa kejadian ini tidak membuatnya kehilangan kompas juga tidak merasa lelah atas peranannya, “karena hal itu dapat kapanpun terjadi”. Yang penting baginya adalah bahwa di dalam elaborasi kasus itu “di Vatikan terjamin kemerdekaan dari keadilan, dimana raja tidak mengatakan: sekarang aku akan mengatasinya!”.  Belum pernah saya melihat dirinya begitu lelah, begitu terkonsumasi. Dengan tenaganya yang tersisa ia telah menyelesaikan bagian ketiga dari karyanya mengenai Yesus, “ini buku saya yang terakhir”, begitu yang katanya kepada saya dengan tatapan yang sedih pada saat bersalaman. Joseph Ratzinger adalah seorang manusia yang tak tergoyahkan, seseorang yang selalu mampu bangkit kembali dengan cepat. Sementara dua tahun lalu, meskipun ada gejala-gejala awal usia lanjut, ia masih tampak lincah, hampir seperti orang muda, sekarang ia merasakan setiap pengikat kertas kerja baru yang mendarat di mejanya oleh Sekretaris Negara sebagai suatu pukulan.  Saya bertanya kepadanya, “Apa yang masih dapat kita harapkan dari Yang Mulia, dari kepausan Anda?”. “Dari saya? Dari saya tidak banyak. Saya seorang lanjut usia dan kekuatan saya telah banyak berkurang. Saya pikir telah cukup apa yang telah saya lakukan”. Anda berpikiran untuk mengundurkan diri? “Ini tergantung dari seberapa besar energi fisik saya memaksa saya melakukan hal itu.” Pada bulan yang sama ia menulis kepada salah seorang muridnya bahwa pertemuan mereka selanjutnya akan menjadi yang terakhir kalinya. Hujan turun di Roma waktu kami bertemu untuk pertama kalinya pada bulan November 1992 di Gedung Kongregasi Doktrin Iman. Jabat tangan-nya bukan sesuatu yang meretakkan jari tangan, suaranya cukup tidak biasa untuk seorang “kardinal panzer”, ringan dan lembut. Saya menyukai cara dia berbicara tentang masalah-masalah kecil, dan terlebih tentang masalah-masalah besar; ketika dia mendiskusikan konsep kita mengenai kemajuan dan meminta kita untuk merenungkan apakah orang sungguh-sungguh dapat mengukur kebahagiaan manusia sesuai dengan produk domestik bruto.  Selama bertahun-tahun dirinya mengalami ujian berat. Dia digambarkan sebagai seorang penganiaya sementara dirinya-lah yang dianiaya, sebagai kambing hitam untuk setiap masalah ketidakadilan, sebagai simbol dari “inkuisitor agung”, suatu definisi yang tidak tepat. Namun tak seorang pun pernah mendengar dia mengeluh. Tak seorang pun mendengar dari mulutnya satu kata yang buruk, sebuah komentar negatif tentang orang lain, bahkan tentang Hans Küng. Empat tahun kemudian, kami menghabiskan beberapa hari bersama-sama, untuk membahas rancangan buku tentang iman, Gereja, selibatus dan insomnia. Partner saya itu tidak berjalan mengelilingi ruangan, seperti yang biasa dilakukan para Guru besar. Tidak ada sedikitpun di dalam dirinya jejak kesombongan, tidak juga praduga. Saya terkagum dengan keunggulannya, sebuah pikiran yang tidak sejalan dengan jaman, dan saya agak terkejut mendengar jawaban yang relevan terhadap masalah-masalah pada jaman kita, yang tampaknya hampir tak terpecahkan, diambil dari harta besar kitab Wahyu, dari visi para Bapa Gereja dan dari refleksi-refleksi dari penjaga iman yang saat itu sedang duduk di hadapan saya. Ia adalah seorang pemikir yang radikal - ini adalah kesan saya - dan seorang beriman yang radikal, namun, yang dalam iman-nya yang radikal itu ia tidak menggunakan pedang, melainkan senjata lain yang jauh lebih kuat: kekuatan dari kerendahan hati, kesederhanaan dan kasih. Joseph Ratzinger adalah seseorang dari paradoks-paradoks. Bahasa yang lembut, suara yang kuat. Kelembutan dan ketegasan. Berpikir besar tetapi memberi perhatian terhadap hal-hal kecil. Mewujudkan sebuah kepandaian baru untuk mengenali dan mengungkap misteri iman, ia adalah seorang teolog, namun membela iman rakyat terhadap agama para Guru besar, sedingin abu.  Seperti dirinya yang berkeseimbangan, demikian pula ia mengajar; dengan keringanan khasnya sendiri, dengan keanggunannya, kemampuannya untuk menembus yang membuat ringan apa yang serius, tanpa menghilangkan misterinya dan tanpa menyepelekan kesuciannya. Seorang pemikir yang berdoa, yang baginya misteri-misteri Kristus merupakan kenyataan yang menentukan dari penciptaan dan sejarah dunia, seorang pengasih manusia yang ketika ditanya berapa banyak jalan menuju kepada Allah, tidak perlu berpikir panjang untuk menjawab: “Sebanyak jumlah manusia.”  Ia adalah seorang Paus yang kecil yang menulis dengan pensil karya-karya yang besar. Tak seorang pun sebelum dirinya, seorang teolog Jerman terbesar sepanjang masa, yang telah meninggalkan bagi umat Allah selama masa kepausannya, sebuah karya yang mengesankan tentang Yesus, atau yang telah menyusun kristologi. Para kritikus berpendapat bahwa pemilihan dirinya adalah sebuah pilihan yang salah. Kebenarannya adalah bahwa tidak ada pilihan yang lain. Ratzinger tidak pernah mencari kekuasaan. Ia menjauhi permainan intrik di Vatikan. Selalu menjalani kehidupan bersahaja seorang biarawan, kemewahan itu asing baginya dan lingkungan dengan kenyamanan daripada yang sungguh diperlukan adalah suatu hal yang tidak menarik baginya.  Tetapi baiklah kita bicarakan hal-hal kecil saja, yang sering kali lebih berarti daripada pernyataan-pernyataan besar, dari konferensi-konferensi dan dari program-program. Saya menyukai gaya kepausannya; langkah pertamanya yaitu membuat surat kepada komunitas Yahudi; bahwa ia telah menggantikan tiara, yang juga merupakal kekuatan duniawi dari Gereja, dengan mitria pada lambang kepausannya,; bahwa ia meminta pada Sinode para Uskup untuk berbicara juga kepada para tamu dari agama-agama lain – ini juga adalah hal yang baru.  Dengan Benediktus XVI untuk pertama kalinya seorang pemimpin telah mengambil bagian dalam debat, tanpa sikap sombong yang memandang orang dari atas ke bawah, melainkan memperkenalkan kolegialitas yang ia perjuangkan dalam Konsili. maaf, Bersambung ke bagian 2

wawancara Paus dengan penulis biografinya (bagian 2)

Tetapi baiklah kita bicarakan hal-hal kecil saja, yang sering kali lebih berarti daripada pernyataan-pernyataan besar, dari konferensi-konferensi dan dari program-program.

Saya menyukai gaya kepausannya; langkah pertamanya yaitu membuat surat kepada komunitas Yahudi; bahwa ia telah menggantikan tiara, yang juga merupakan simbol kekuatan duniawi dari Gereja, dengan mitria pada lambang kepausannya,; bahwa ia meminta pada Sinode para Uskup untuk berbicara juga kepada para tamu dari agama-agama lain – ini juga adalah hal yang baru. Dengan Benediktus XVI untuk pertama kalinya seorang pemimpin telah mengambil bagian dalam debat, tanpa sikap sombong yang memandang orang dari atas ke bawah, melainkan memperkenalkan kolegialitas yang ia perjuangkan dalam Konsili.

Tolong koreksi saya, katanya, saat ia mempresentasikan bukunya tentang Yesus, yang tidak ingin mengumumkan sebagai sebuah dogma atau membubuhkan stempel otoritas tertinggi. Penghapusan ciuman tangan adalah yang paling sulit untuk diterapkan. Pernah ia menahan lengan seorang mantan muridnya yang membungkuk untuk mencium cincinnya itu, dan mengatakan, “mari kita bersikap dengan normal.”

Banyak pengalaman-pengalaman pertama. Untuk pertama kalinya seorang Paus mengunjungi sebuah sinagoga Jerman (dan selanjutnya banyak sinagoga di dunia daripada semua paus sebelum dia dikumpulkan bersama). Untuk pertama kalinya seorang Paus mengunjungi biara Martin Luther, sebuah tindakan bersejarah yang berbeda. 

Ratzinger adalah seseorang yang bertradisi, dengan kerelaan ia bergantung dengan apa yang telah ditetapkan, namun mampu membedakan apa yang sungguh abadi daripada apa yang yang muncul dan berlaku hanya untuk suatu periode tertentu. Dan jika diperlukan, seperti dalam kasus Misa Tridentin, menambahkan yang lama ke yang baru, supaya bersama-sama mereka tidak mengurangi ruang liturgi, melainkan mengembangkannya. Dia tidak melakukan segalanya dengan benar, tetapi mengakui kesalahan, bahkan kesalahan (seperti skandal Williamson), di mana ia tidak bertanggung jawab. Tidak ada kegagalan yang lebih dideritanya daripada imam-imamnya, meskipun sejak dari prefek ia sudah memulai semua tindakan yang memungkinkan untuk menemukan pelanggaran seksual yang mengerikan dan menghukum yang bersalah. Benediktus XVI pergi, tetapi warisannya tetap. Penerus dari Paus yang amat rendah hati di era modern ini akan mengikuti jejaknya. Seseorang dengan dengan karisma lain, dengan gaya sendiri, tapi dengan misi yang sama: tidak mendorong kekuatan sentrifugal, tetapi mereka yang terus bersama-sama menjalankan warisan iman, yang tetap pemberani, memberitakan pesan dan membuat kesaksian yang sejati. 

Bukan suatu kebetulan bahwa Paus yang mengundrkan diri itu telah memilih Hari Rabu Abu menjadi liturgi besar-nya yang terakhir. Lihatlah, dia ingin membuktikan, di sinilah saya ingin membawamu dari awal, ini adalah jalannya. Sadarkanlah dirimu, bergembiralah, bebaskan dirimu dari pemberat, jangan biarkan dirimu dimakan oleh semangat waktu, jangan buang-buang waktu, lepaskan dirimu dari sekolarisme! Menguruskan badan untuk menaikkan berat adalah program Gereja masa depan. Menyangkal lemak untuk mendapatkan vitalitas, kesegaran rohani, bukan dari inspirasi dan daya tarik terakhir. Dan keindahan, daya tarik, akhirnya juga kekuatan, untuk dapat mengatasi sebuah tugas yang menjadi begitu sulit. “Bertobatlah”, demikian ia berkata dengan kata-kata dalam Alkitab ketika ia menandai dahi para kardinal dan imam dengan abu, “dan percayalah pada Injil”. “Apakah Anda akhir dari yang lama - saya bertanya kepada Paus dalam pertemuan terakhir kami - atau awal yang baru? ». Jawabannya adalah: “Keduanya.” 

Peter Seewald  (Terjemahan oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli )  Sumber: 2013 Focus dan Corriere della Sera  *Mons doctus adalah sebuah bukit yang dahulu pernah menjadi pusat Biara Benediktin. 

Shirley Hadisandjaja Mandelli Email: sicilia_shirley@yahoo.com Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),  jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Senin, 04 Februari 2013

Semangat OMKers


Semangat OMKers Oleh: @SYmelkiSP Saya bersemangat kembali ketika berada dalam komunitas OMK paroki Santa Clara. Saya bersyukur kepada Tuhan atas hari ini, 24 Januari 2013. Saya boleh melihat dan menikmati kebersamaan dengan OMK dalam Pleno Seksi Kepemudaan yang dihadiri para pengurus OMK wilayah dan kategorial OMK, serta beberapa orang perwakilan dari seksi Dewan Paroki Santa Clara. Pada pertemuan Pleno kali ini, para OMK membicarakan tentang program kerja (proker) 2013, evaluasi kepengurusan 2012, data jumlah OMK (ter-updated), serta hambatan dan prestasi setiap kegiatan OMK. Banyak sekali catatan-catatan dari, oleh, dan untuk sesama OMK. Banyak proker dan kegiatan-kegiatan OMK yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 sesuai visi "persaudaraan sejati." Saya sangat mengapresiasi kepada seluruh OMK Clara. EVALUASI Dalam pertemuan Pleno kali ini, ada yang menarik perhatian saya tentang masih adanya kebiasaan lama (kisah klasik) yang dihadapi OMK di dalam berorganisasi. Kebiasaan lama yang turun-menurun itu adalah perihal "waktu", suka terlambat untuk berkumpul dan lama bubar meskipun acara kegiatan sudah selesai. Selain persoalan "waktu" yang selalu "ngaret", persoalan lainnya adalah OMK "malas" hadir untuk berkegiatan bersama dalam komunitas OMK. Parahnya lagi, masih ada juga orangtua yang kurang mendukung anaknya untuk berkumpul dalam komunitas seiman, yang berakibat beberapa OMK kurang memahami konsep diri dan tidak memiliki motivasi sebagai Orang Muda yang beragama Katolik. "Kalau kendala wilayah OMK kami biasanya mengenai 'waktu' ya. Sering ga ontime, terus jarak tempat untuk ikut kegiatan jauh. Orangtuanya ga ngijinin anaknya, dan bahkan ada OMK yang ga mau ikut kegiatan karena dia ngga ngerasa dapat apa-apa dari kegiatan OMK." itu beberapa ungkapan jujur dari evaluasi beberapa pengurus OMK Clara. Ya...sungguh menjadi bahan evaluasi kita bersama sebagai Katolikers. Ya kita...Orang Muda Katolik. Meskipun OMK sering terkendala dengan managemen waktu, belum sepenuhnya memahami motivasi dan komitmen berorganisasi, dan belum memahami kepemimpinan dengan spiritualitas Yesus Kristus. Tapi sebagai Katolikers, kita mesti tetap aktif bersama OMK. Pilihannya: Apakah OMK mau dan bersedia dipersiapkan dengan baik untuk menjadi Pribadi harapan bangsa dan Gereja? atau kita mau membentuk OMK tanpa arah pasti, seperti sebagian orang muda lainnya? REFLEKSI SEBAGAI OMKers Saya mau berbagi pengalaman tentang keikutsertaan saya terlibat sebagai Muda-mudi Gereja. Saya bersyukur kepada Yesus, sahabat sejati OMK bahwa saya boleh berbagi dalam refleksi singkat ini. Hampir 10 tahun saya terlibat sebagai OMK, sekaligus pemerhati organisasi kerohanian OMK dan Kepemudaan. Pertama kali saya mengenal komunitas muda-mudi Katolik pada waktu SMP kelas III/IX. Waktu itu saya pernah diajak untuk gabung dengan Mudika. Tapi saya cuma satu malam saja bergabungnya. Waktu itu saya dengan muda-mudi wilayah YP terpaksa batal berangkat pergi kegiatan camping rohani separoki gara-gara rombongan kami hanya terlambat beberapa menit saja. Panitia pada waktu itu sangat mengecewakan kami. Saya waktu itu agak menyesal tidak jadi berangkat gara-gara tidak ada kesalingpengertiaan sesama anggota komunitas beriman. Akhirnya, kakak-kakak senior Mudika YP waktu itu meredam kesedihan kami dengan mengelar tenda di dalam komplek perumahan Barata, di rumah salah satu pengurus Mudika YP. Dari malam sampai pagi hari kami begadang dengan menghabiskan bekal kami, bernyanyi-nyanyi, masak mie, dsbnya. Itu pengalaman singkat saya dengan Mudika YP. Setelah hari itu saya tidak mau diajak lagi kalau ada pertemuan Mudika. Di satu sisi saya kecewa dengan Mudika yang dibatalkan keikutsertaan acaranya. Malu dan aneh menjelaskan kepada orangtua kami, meskipun mereka tampak memaklumi "kesalahan kecil" kami yang kurang berkoordinasi dengan panitia. Di sisi yang lainnya saya nyaman dengan muda-mudi Gereja yang asik dan gaul dengan gaya orang Katolik. Di sisi lainnya, saya merasa seperti "jatuh cinta" dengan komunitas Muda-mudi Katolik. "oh... Cinta satu malam... oh indahnya... Cinta satu malam buatku melayang, walau satu malam, akan kukenang, dalam hidupku }2x" #loh ko malah jadi nyanyi lagu dangdut ya? Saya jadi teringat beberapa tahun setelah peristiwa di atas. Saya mulai terlibat aktif dalam organisasi Mudika (pengertian dulu: Muda-mudi Katolik) di paroki Santo Yohanes Pemandi Raha, kabupaten Muna, Keuskupan Agung Makassar. Saya mengalami banyak hal ketika beraktivitas bersama muda-mudi seiman di sana. Suka dan duka mewarnai perjalanan saya sebagai pengurus maupun menjadi anggota suatu kegiatan OMK (pengertian sekarang: Orang Muda katolik). Awalnya, saya diajak teman-teman Mudika Raha untu bantu-bantu saja. #Lagi-lagi diajak (modus man). Waktu itu sekitar tahun 2004, Oma dan Om saya menyuruh saya untuk ikut kegiatan Mudika paroki Santo Yohanes Pemandi Raha, Sulawesi Tenggara, Keuskupan Agung Makassar. Sejujurnya, saya tidak mau bergabung, apalagi datang ke pertemuan. Saya masih kecewa dengan "cinta satu malam" dengan organisasi orang muda di Bekasi Utara. Selain itu, pikiran saya waktu itu adalah karena saya merasa tidak pantas bersentuhan dengan hal-hal suci dalam kelompok keagamaan. Apalagi dipilih oleh teman-teman saya untuk menjadi pengurus Mudika. Ogah banget waktu itu, saya tolak! Beberapa kali teman-teman saya mengajak dan mendatangi saya yang tinggal di rumah Oma saya. Namun, saya belum juga mau bergabung. Pada suatu hari, entah "kenapa" saya merasa ada yang berbeda setiap kali datang perayaan Ekaristi di Gereja. Ada sekelompok muda-mudi yang bertugas sebagai koor. Mereka juga membagi tugas sebagai kolektan. Selain itu yang menarik perhatian saya adalah mereka tampil beberapa kali di setiap bulan. Ada yang menjadi pemazmur, dirigen, pianis, dan lektor. Meskipun muda-mudinya itu-itu saja. Entah mengapa hati saya tergerak untuk mengenal Mudika setempat. Saya semakin tersentuh ketika seorang Mudika memainkan musik dengan iringan gitar. Ketika itu saya tersentuh oleh musik yang dibunyikan gitaris itu. Komposisi permainannya pas di saat komuni sedang dibagikan. Suasana saat itu begitu tenang dengan iringan instrumental gitar akustik. Saya mengalami suka cita dan kedamaian Roh Kudus ketika berdoa sesudah komuni (bdk. Galatia 5:22). Saat itu hati kecil saya mengatakan mau terlibat dengan mereka. "apa ya kelompok mereka itu? bisa ngga ya saya masuk dalam grup mereka?" pikir saya kira-kira saat itu. Singkat cerita, saya akhirnya bergabung dengan Mudika Raha. Meskipun awalnya malu-malu, tapi saya dapat beradaptasi dengan cepat. Maklum ada beberapa teman SMU saya yang sekelas menjadi anggota Mudika. Beberapa waktu kemudian, entah mengapa akhirnya saya diminta teman-teman untuk menjadi wakil ketua Mudika. Saya pun perlahan-lahan mengikuti proses kebersamaan dengan Mudika setempat dan menyesuaikan budaya dan luas teritorial pelayanan pastoral paroki Santo Yohanes Pemandi Raha. Berbagai kegiatan kami laksanakan. Angkatan kami mempelopori kembali kejayaan "didukung berbagai kegiatan Mudika." Para orangtua dan umat menantikan kami untuk terus berpastoral. Apalagi dukungan kuat datang dari pastor paroki untuk mendukung perkembangan iman spiritualitas kami. Pastor paroki kami waktu itu membimbing kami dengan rekoleksi khusus. Kami pun jadi semakin bersemangat mengimani Yesus Kristus, hal ini tercermin dalam keaktifan kami dalam berkumpul dan berkegiatan bersama. Waktu itu kami tidak punya pendamping awam tetap atau pemerhati OMK khusus. Semua kegiatan kami persiapkan bersama dan kami saling membagi tugas. Jadi kalau ada pertemuan ibadat doa rutin, mau tidak mau kami sendiri yang menyiapkan bahan-bahan liturgisnya, para petugas dan lagu-lagu ibadatnya. Kami bertanggungjawab sepenuhnya sampai hari pelaksanaan. Saya masih berkesan akan satu tugas yang diberikan kepada saya waktu itu. Saya diberikan kesempatan untuk memberikan renungan pada waktu ibadat Mudika. Jadi,

Minggu, 03 Februari 2013

arti RD dan RP untuk Imam Gereja

Kepanjangan R.D. adalah Reverendus Dominus. Reverendus Dominus adalah atribute baru di depan nama pastor atau romo [PROJO / Diosesan] yg artinya kurang lebih Tuan Pastor. Penggunaan R.D. tidak lagi diikuti Pr. di belakang nama tersebut. misal R.D  Marsel Lolo Tandung Kepanjangan R.P. adalah Reverendus Pater. Reverendus Pater adalah atribute untuk pastor atau romo [tarekat/ordo] yg artinya kurang lebih Tuan Pastor. Penggunaan R.P. harus digunakan untuk para imam Tarekat/Ordo. misal R.P. Mosses, Ofm

Kamus Indonesia