- I. Kristus hidup di dalam aku
- II. Sudahkah perkataan Rasul Paulus itu menggema di dalam hati kita?
- 1. Beritakanlah Injil!
- 2. Berpegang pada pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja
- 3. Memberitakan Kristus: kebangkitan-Nya tak terlepas dari kurban salib-Nya
- 4. Menjangkau semua orang, karena Allah menghendaki semua orang diselamatkan
- 5. Pewartaan iman, pengharapan dan kasih, di dalam Kristus
- 6. Menggunakan segala cara yang baik untuk mewartakan Kristus
- 7. Bertekun dalam evangelisasi
- 8. Mahkota abadi merupakan penggenapan janji bagi kita yang turut mewartakan Kristus
- III. Dunia modern di bawah pengaruh modernisme dan sekularisme
- 1. Modernisme
- 2. Sekularisme
- 3. Pemisahan antara iman dan kehidupan sehari-hari
- IV. Peluang dan tantangan pewartaan di era digital
- 1. Membaca tanda-tanda zaman akan pentingnya media digital
- 2. Kelebihan pewartaan dalam era digital
- 3. Tantangan yang perlu diwaspadai
- 4. Beberapa rekomendasi dari Vatikan
- V. Langkah-langkah konkret untuk mewartakan
- 1. Pondasi spiritual
- 2. Pondasi intelektual
- 3. Metode pewartaan
- VI. Kesimpulan
I. Kristus hidup di dalam aku
Jika
membaca riwayat hidup Rasul Paulus, kita akan terinspirasi dengan
betapa besar kasihnya kepada Kristus. Ia benar- benar mempersembahkan
seluruh hidupnya untuk mengabarkan Injil. Ia rela di penjara dan
dianiaya, rela melakukan perjalanan yang berbahaya, demi mewartakan
Kabar Gembira kepada segala bangsa. Semangatnya tak surut bahkan setelah
beberapa kali didera, dan diterpa bahaya maut (lih. 2Kor 11:23, 25; Kis
27:27). Namun sesungguhnya, ia dapat mengasihi Kristus sedemikian rupa
karena Tuhan Yesuslah yang terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni dia.
Perjumpaannya dengan Kristus di perjalanan menuju Damsyik mengubah
seluruh hidupnya, dan melalui sentuhan kasih Kristus ia menjadi manusia
baru. Paulus tidak lagi hidup menurut pengertian dan kehendaknya
sendiri, namun menurut ajaran dan kehendak Kristus. Keseluruhan jiwa dan
kehendaknya begitu terarah kepada Kristus, sehingga ia dapat
mengatakan, “…. namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang
hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang
kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak
Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal
2:20).
Kristus yang hidup di dalam diri Rasul Paulus juga hidup
di dalam diri kita umat Allah yang telah menerima Sakramen Baptis.
Semangat Rasul Paulus untuk mewartakan Kristus, dapat menjadi inspirasi
bagi kita semua untuk juga melakukan tugas pewartaan – yang memang telah
kita terima pada saat kita menerima Sakramen Baptis. Tugas pewartaan
yang dulu dilakukan oleh Rasul Paulus dengan berjalan kaki, menjelajahi
samudra luas, mengalami penghinaan dan penderitaan, sampai akhirnya
menyerahkan nyawa demi Kristus yang tersalib, kini menjadi tugas yang
harus kita emban bersama. Hanya seja sekarang jaman dan keadaannya
berbeda. Dengan kehidupan yang diwarnai dengan informasi digital,
cyberspace,
maka tugas mewartakan Kristus menjadi lebih mudah bagi kita. Kita dapat
melakukan semuanya dari rumah, asal terhubung dengan kabel internet.
Terima kasih kepada teknologi. Selanjutnya, pertanyaannya, apakah kita
mempunyai semangat dan spiritualitas seperti Rasul Paulus untuk
memberitakan Kristus?
II. Sudahkah perkataan Rasul Paulus itu menggema di dalam hati kita?
Jika
kasih kita kepada Tuhan diukur dari sejauh mana kita telah melakukan
perintah- perintah-Nya (lih. 1Yoh 5:3), dan sejauh mana kita mempunyai
kehendak yang sama dengan kehendak Kristus, maka baik jika kita tanyakan
kepada diri sendiri, sudahkah kita mempunyai kerinduan seperti Rasul
Paulus, yang melakukan apa saja untuk mewartakan Kristus? Berikut ini
adalah beberapa prinsip ajaran Rasul Paulus yang mungkin dapat kita
jadikan sebagai patokan dasar pewartaan kita:
1. Beritakanlah Injil!
“Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Kor 9:16) Rasul
Paulus mempunyai kecintaan yang besar kepada Injil. Maka pewartaannya
tentang Kristus juga merupakan pewartaan akan segala pengajaran dan
perintah Kristus dalam Injil. Semangat Rasul Paulus ini harus mendorong
kita untuk juga semakin bersemangat untuk membaca Kitab Suci,
merenungkannya dan melaksanakannya; supaya Injil menjadi sungguh hidup
di dalam keseharian kita. Dengan kata lain, Injil yang kita imani itu
menentukan sikap hidup, pikiran dan tutur kata kita; inilah sesungguhnya
bentuk pewartaan yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasul Paulus
(Flp 1:27). Selanjutnya Injil inilah yang harus kita wartakan dalam
tugas kerasulan kita sebagai katekis.
2. Berpegang pada pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja
“Sebab
itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu
terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes
2:15) Rasul Paulus mengajarkan kepada kita agar berpegang
kepada ajaran-ajaran para rasul, baik yang disampaikan secara lisan
-yaitu Tradisi Suci- maupun yang tertulis -yaitu Kitab Suci. Dengan
demikian, jika kita mengikuti jejak Rasul Paulus dalam pewartaan Sabda
Tuhan, selain kita menyampaikan ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci,
kita harus juga menyampaikan ajaran Tradisi Suci yaitu pengajaran dari
para Bapa Gereja dan Magisterium, yang walaupun tidak termasuk di dalam
Kitab Suci namun berasal dari sumber yang sama -yaitu dari Kristus, para
rasul dan para penerus mereka- sehingga baik Kitab Suci maupun Tradisi
Suci perlu mendapat penghormatan yang sama.[]
Di samping sumber Kitab Suci dan Tradisi Suci, Rasul Paulus juga mengajarkan untuk
“Jadi
jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup
sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (ekklesia = Gereja) dari Allah yang
hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1Tim 3:15 ) Dari
sini kita tahu, bahwa Rasul Paulus sangat menghargai Gereja. Dan
penghargaan dan ketaatan Rasul Paulus akan keputusan Gereja diwujudkan
dengan mentaati segala sesuatu yang diputuskan dalam Konsili Yerusalem
I.
3. Memberitakan Kristus: kebangkitan-Nya tak terlepas dari kurban salib-Nya
“Sebab
aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu
selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” (1Kor 2:2)
Rasul Paulus mengajarkan kepada kita agar tidak ragu untuk mewartakan
Kristus yang disalibkan, sebab kebangkitan-Nya tidak pernah terlepas
dari sengsara dan wafat-Nya di kayu salib. Maka sebagai umat Kristiani,
seharusnya kita tidak menekankan hanya pada hal kebangkitan Kristus dan
mengabaikan sengsara dan wafat-Nya, sebab tidak ada hari Minggu Paskah
tanpa hari Jumat Agung. Sebenarnya tantangan pewartaan Rasul Paulus
kepada kaum Yahudi dan kepada kaum Yunani pada jamannya juga masih
relevan saat ini. Sebab pewartaan Yesus yang disalibkan itu memang
menjadi batu sandungan bagi banyak orang, dan sering dianggap sebagai
kebodohan bagi kaum cendekiawan dunia. Namun bagi kita yang percaya,
Kristus yang disalibkan merupakan kekuatan dan hikmat Allah (lih. 1 Kor
1:23).
4. Menjangkau semua orang, karena Allah menghendaki semua orang diselamatkan
“[Allah] menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim 2:4)
Pesan pewartaan berikutnya yang perlu disampaikan sehubungan dengan
Kristus yang disalibkan adalah: melalui kurban salib-Nya itu, Allah
menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan
akan kebenaran. Jadi pesan ini jugalah yang harus kita sampaikan saat
kita mewartakan Kristus.
5. Pewartaan iman, pengharapan dan kasih, di dalam Kristus
“Sebab
karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman…. ” (Ef 2:8)…. “yang
bekerja oleh kasih” (Gal 5:6) …karena kita menaruh pengharapan kita
kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, (1Tim 4:10)
“[karena] kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam
Kristus Yesus.” (Rom 6:11) Pewartaan Kristus yang tersalib itu
adalah pewartaan kebenaran akan kasih karunia Allah kepada kita manusia,
dan dengan mengimaninya dan mewujudkan iman itu di dalam perbuatan
kasih, kita diselamatkan. Pewartaan akan pentingnya iman yang tak
terpisahkan dari kasih ini menjadi salah satu inti pengajaran Rasul
Paulus. Walaupun sebelum bertobat ia berlatar belakang Farisi yang
sangat taat kepada hukum Taurat, namun setelah perjumpaannya dengan
Kristus, Rasul Paulus mengetahui bahwa manusia diselamatkan bukan dari
melakukan hukum Taurat tetapi karena kasih karunia Allah yang mengubah
seseorang sehingga ia memperoleh hidup yang baru di dalam Kristus.
6. Menggunakan segala cara yang baik untuk mewartakan Kristus
“Demikianlah
bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku
memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah
hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat,
sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku
dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi
orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti
orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup
di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku
dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.” (1Kor
9:20-21) Dalam usaha menghantar banyak orang agar mengenal
Kristus, Rasul Paulus tidak memusatkan perhatiannya kepada dirinya
sendiri, tetapi kepada mereka yang dilayaninya. Ia seolah menempatkan
dirinya sejajar dengan mereka dengan harapan mereka dapat menerima pesan
yang disampaikannya. Demikian pula dalam tugas pewartaan yang kita
lakukan, penting bagi kita untuk mengetahui latar belakang orang yang
sedang kita ajak bicara, karena dengan memahami pola berpikir mereka,
kita akan dapat mewartakan pesan Injil dengan lebih efektif.
7. Bertekun dalam evangelisasi
“Aku
lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di
luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang
Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku
didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam
kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam
perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun,
bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan
Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut,
dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah
dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga;
kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak
menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk
memelihara semua jemaat-jemaat…. Jika aku harus bermegah, maka aku akan
bermegah atas kelemahanku.” (2Kor 11:23-30) Mungkin baik kita
diam sejenak membaca kesaksian Rasul Paulus ini, dan kita biarkan kata-
kata ini menembus kedalaman hati kita. Sebab mungkin pengorbanan kita
dalam mewartakan Kristus sungguh masih belum apa-apa jika dibandingkan
dengan pengorbanan Rasul Paulus. Namun, betapa sering kita tergoda
menjadi tawar hati jika ada kesulitan ataupun tantangan dalam tugas
pewartaan kita sebagai katekis.
8. Mahkota abadi merupakan penggenapan janji bagi kita yang turut mewartakan Kristus
“Tiap-tiap
orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan … berbuat demikian
untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh
suatu mahkota yang abadi.” (1 Kor 9:25) Namun pada akhirnya
Rasul Paulus mengimani bahwa mahkota abadi akan tersedia bagi kita yang
turut mengambil bagian dalam tugas pewartaan Kristus ini, sebagaimana
para atlet yang turut mengambil bagian dalam pertandingan. Semoga di
akhir hidup kita, kita dapat berkata bersama dengan Rasul Paulus, “Aku
telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir
dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota
kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan…” (2Tim 4:7).
III. Dunia modern di bawah pengaruh modernisme dan sekularisme
Untuk dapat melakukan karya
evangelisasi di tengah dunia
modern
ini, maka kita harus mengerti apa yang menjadi pergulatan dan tantangan
di dunia pada saat ini, yang sering bertentangan dengan nilai-nilai
Kristiani. Dunia tempat kita tinggal dipenuhi dengan begitu banyak tipu
daya, sehingga banyak orang yang terseret masuk ke dalamnya. Rasul
Yohanes mengatakan “
…manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh 3:19). Bahaya paling besar yang dihadapi oleh dunia modern adalah
modernisme dan juga sekularisme.
1. Modernisme
Modernisme dikatakan oleh Paus Pius X sebagai “
sintesis dari semua bidaah”/ gabungan dari semua ajaran sesat[], yang kemudian ditegaskan oleh Paus Benediktus XV[].
Dapat dikatakan bahwa modernisme menggabungkan semua ajaran bidaah
karena modernisme ingin menghilangkan semua hal yang berhubungan dengan
Tuhan dari seluruh sendi kehidupan. Prinsip dari
modernisme ini dapat disarikan sebagai: (a)
Prinsip emansipasi, yang menghendaki kebebasan ilmu pengetahuan, tata negara dan hati nurani, yang terpisah dari Gereja; (b)
Prinsip perubahan,
yang mempercayai bahwa satu-satunya yang statis di dunia ini adalah
perubahan dan menolak sesuatu yang tetap, yang terstruktur, yang pada
akhirnya akan melawan otoritas Gereja, karena dipandang sebagai
organisasi yang terlalu kaku dan terstruktur; (c)
Prinsip rekonsiliasi,
yang mencoba untuk menyatukan semua perbedaan berdasarkan perasaan
hati. Dengan demikian, tidak diperlukan doktrin-doktrin dan
kebenaran-kebenaran absolut, karena doktrin-doktrin hanyalah memecah
belah rekonsiliasi.
Kita melihat contoh-contoh ada cukup banyak
situs, facebook, twitter, maupun bbm, yang sering mengungkapkan semua
agama sama saja; yang penting adalah ajaran kasih; Gereja Katolik
terlalu kaku dan tidak membumi; Gereja Katolik dan dogma dan doktrinnya
hanyalah bikinan manusia semata; tidak perlu terlalu fanatik, dll.
Dan
sering perkataan-perkataan seperti di atas dituliskan oleh umat Gereja
Katolik dan bahkan para katekis! Inilah sebabnya para Paus menyebutkan
bahwa modernisme merupakan sintesis dari semua bidaah atau kesesatan,
karena bukan hanya melawan salah satu pengajaran dari Gereja Katolik,
namun melawan semua pengajaran Gereja Katolik sampai kepada
akar-akarnya. Seorang tidak dapat menjadi Katolik dan sekaligus menjadi
penganut
modernisme.
2. Sekularisme
Sekularisme
adalah suatu prinsip yang hanya menaruh perhatian pada hal-hal yang
dialami di dunia ini saja. Artinya, paham ini memisahkan diri dari
agama, yang mengajarkan kehidupan kekal. Prinsip dari pengajaran ini
adalah: (a) meningkatkan kehidupan ini dengan hal-hal material saja, (b)
ilmu pengetahuan yang dapat menjawab segalanya, (c) berfokus untuk
melakukan kebaikan untuk hidup di dunia ini saja. Prinsip di atas, pada
akhirnya akan menghasilkan
materialisme, karena fokus dari
prinsip ini adalah meningkatkan kehidupan dengan hal-hal material dan
kehidupan hanya dilihat sebagai apa yang dialami di dunia ini. Kita
melihat di dalam dunia digital, komentar-komentar, yang kadang datang
dari umat Katolik sendiri, tentang pentingnya untuk melakukan
karya-karya sosial dan tidak perlu untuk mempelajari dogma dan doktrin
Gereja Katolik, karena dogma dan doktrin tidak diperlukan.
3. Pemisahan antara iman dan kehidupan sehari-hari
Keadaan
di atas diperparah dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
umat beriman, termasuk umat Gereja Katolik. Ada sebagian umat Katolik,
yang mengaku diri Katolik namun hidupnya tidak mencerminkan bahwa mereka
adalah orang-orang yang telah mengenal Tuhan dan telah diselamatkan.
Orang-orang ini, yang walaupun adalah umat beragama – termasuk umat
Katolik – namun hidupnya seolah-olah tidak mengenal Tuhan. Paus Yohanes
Paulus II menyebut kelompok ini sebagai “
practical atheism“
karena mereka hidup seolah-olah tidak mengenal Tuhan. Mereka menolak
adanya kebenaran absolut, dan menganggap berbagai pandangan di dunia
ini -bahkan yang bertentangan dengan ajaran Kristus sekalipun- sebagai
sama-sama benar (ini disebut relativisme). Dalam dunia digital ini, iman
seolah-olah hanyalah urusan hari Minggu, selebihnya pornografi dalam
internet tidak dipandang sebagai dosa.
Kita tahu bahwa sesuatu
yang buruk atau salah akan cepat sekali menyebar. Dan di dunia yang
serba cepat dan serta serba digital, mempermudah penyebaran informasi,
termasuk informasi akan paham-paham yang salah. Dengan masuknya dan
berkembangnya ajaran-ajaran tersebut, maka sebenarnya umat Kristen hidup
di zaman yang penuh dinamika dan tantangan yang besar. Namun, apakah
kemudian kita hanya menyesali nasib dan membiarkan semua penyesatan ini
terjadi? Kalau Rasul Paulus hidup di zaman ini, apakah kita berfikir
bahwa dia hanya duduk diam dan berpangku tangan serta hanya menyesali
nasib dan menyalahkan masyarakat?
IV. Peluang dan tantangan pewartaan di era digital
Kita
bersama yakin, bahwa Rasul Paulus tidak akan berdiam diri menghadapi
tantangan ini. Bahkan kita yakin, bahwa dia akan menjadikan media
komunikasi sebagai satu peluang yang begitu luar biasa yang harus
digunakan untuk mengkomunikasikan/ mewartakan Kristus yang adalah Sang
Kebenaran yang sejati. Dalam salah satu dokumen Instruksi Pastoral yang
dikeluarkan oleh
Pontificum Consilium de Communicationibus Socialibus tentang Komunikasi Sosial,
Aetatis Novae
(1992), dijabarkannya pentingnya hal komunikasi di dalam Gereja, karena
sesungguhnya hal ini mengambil model dari komunikasi yang terjadi di
dalam Pribadi Allah Trinitas. Sebab di dalam Kristus yang adalah Sang
Sabda yang menjadi manusia, komunikasi kasih antara Allah Bapa dan Allah
Putera oleh kuasa Roh Kudus menjadi nyata. Komunikasi ini yang kemudian
ditanggapi oleh manusia dalam iman mewujudkan dialog yang mendalam.[]
Komunikasi kasih inilah yang perlu dihadirkan di tengah kehidupan
manusia, melalui media komunikasi sosial, dan orang- orang yang terlibat
di dalam media ini mempunyai tanggungjawab untuk mewujudkan keselarasan
antara Teladan yang dicontoh dan pelaksanaannya di lapangan, agar para
pembacanya dapat melihat hubungan antara keduanya. Yaitu bahwa Kabar
Gembira yang dikomunikasikan adalah Kasih Allah yang disampaikan di
dalam Kristus.
Hal komunikasi sebagai hakekat Gereja ini pula yang ditekankan dalam dokumen yang dikeluarkan oleh
Pontifical Council for Social Communication,
yang berjudul Gereja dan Internet (2002). Dikatakan demikian,
“Komunikasi di dalam dan oleh Gereja pada dasarnya adalah penyampaian
tentang Kabar Gembira Yesus Kristus. Komunikasi tersebut adalah
pewartaan Injil sebagai nubuat, sabda yang memerdekakan manusia di zaman
sekarang, suatu kesaksian di hadapan sekularisasi radikal tentang
kebenaran ilahi dan tujuan akhir umat manusia; sebuah saksi yang
diberikan kepada semua umat beriman di dalam solidaritas untuk melawan
segala bentuk konflik dan pemisahan menuju keadilan dan persekutuan di
antara orang- orang, bangsa- bangsa, dan budaya.”[]
1. Membaca tanda-tanda zaman akan pentingnya media digital
Oleh
karena itu Gereja Katolik mempunyai perhatian besar terhadap media
komunikasi sosial. Berikut ini adalah beberapa kutipan pengajaran
Magisterium tentang hal komunikasi tersebut:
Paus Pius XII:
Pada tahun 1957 menekankan pentingnya media – baik radio, televisi,
film – untuk dapat digunakan dalam mengekspresikan kebenaran.[]
Paus Paulus VI:
di tahun 1971 mengatakan bahwa Gereja melihat media sebagai karunia
Tuhan, yang dapat dipergunakan manusia sebagai alat untuk persatuan di
dalam persaudaraan dan juga sebagai alat agar manusia dapat menanggapi
warta keselamatan.[] Media modern dapat menawarkan cara-cara baru untuk menghadapkan manusia dengan pesan Injil.[] Selanjutnya, ia mengatakan, “Gereja akan merasa bersalah di hadapan Kristus bila gagal menggunakan media untuk evangelisasi.”[]
Konsili Vatikan II:
Dalam Dekrit Konsili tentang Media Komunikasi Sosial, ditegaskan bahwa
media sosial dapat memberikan kontribusi kepada umat manusia dan Gereja
dapat menggunakannya untuk menyebarkan Injil Kerajaan Allah.[]
Paus Yohanes Paulus II:
“Gereja belumlah cukup untuk menggunakan media sekedar untuk
menyebarkan pesan Injil dan ajaran otentik Gereja. Namun juga perlu
mengintegrasikan pesan Injil ke dalam kebudayaan baru yang diciptakan
oleh komunikasi modern.”[].
“[Meskipun dunia komunikasi sosial] sering nampak tidak cocok dengan
pesan Kristiani, ia menawarkan kesempatan- kesempatan yang unik untuk
mewartakan kebenaran yang menyelamatkan dari Kristus kepada seluruh
keluarga besar umat manusia. Pertimbangkanlah …. kemampuan- kemampuan
positif dari internet untuk menyampaikan informasi dan ajaran religius
yang melampaui segala batas dan penghalang. Luasnya para pendengar akan
menjadi sesuatu yang melampaui batas imajinasi mereka yang mewartakan
Injil jauh sebelum kita …. Umat Katolik tidak perlu takut untuk membuka
lebar- lebar pintu komunikasi sosial kepada Kristus, sehingga Kabar
Gembira-Nya dapat terdengar dari atap- atap rumah di dunia.”[]
Paus Benediktus XVI: menyerukan
agar umat Katolik secara khusus kaum muda, untuk menggunakan media
digital dalam memberitakan kabar gembira, yaitu: Tuhan yang telah
menjadi manusia, yang menderita, wafat, dan bangkit untuk menyelamatkan
kita manusia.[]
Paus juga meminta agar para pastor mempergunakan media ini untuk
melayani dunia, untuk memperkenalkan Gereja dan membawa wajah Kristus
kepada dunia modern ini.[]
Kemudian di tahun berikutnya, Paus kembali menyerukan agar kita sebagai
umat Kristen menyerukan kebenaran di dalam dunia digital, bukan
berdasarkan sensasi atau mencari popularitas, namun memberitakan Kristus
sesuai dengan dinamika kehidupan saat ini, sehingga mereka sendiri
dapat berhadapan dengan kebenaran, yang adalah Kristus sendiri.[]
2. Kelebihan pewartaan dalam era digital
Jadi,
secara umum, Gereja memandang media komunikasi sebagai peluang yang
positif untuk mewartakan Kristus. Selain itu, ada beberapa hal yang
merupakan kelebihan khas internet, yaitu:
a. Informasi dapat disampaikan dengan langsung, segera, bersifat interaktif dan mengundang partisipasi pembaca.[]
b. Informasi interaktif dua arah ini mengakibatkan hal positif seperti menjadikan komunikasi
tidak kaku dan bersifat top-down, tetapi menjadi lebih hidup karena dapat terjadi dialog.[]
c. Karena terbuka untuk umum, maka pendidikan/ pengajaran yang
disampaikan melalui internet berpotensi untuk membentuk penilaian banyak
orang tentang ukuran moral yang benar dan membentuk hati nurani yang
benar[]
3. Tantangan yang perlu diwaspadai
Namun ada beberapa tantangan yang perlu diwaspadai dalam penggunaan media komunikasi sebagai sarana pewartaan ini, yaitu:
a.
Dapat menimbulkan kebingungan:
Peluang interaksi/ dialog dua arah di internet juga dapat berpotensi
menimbulkan kebingungan, karena pihak yang bertanya mempunyai kesempatan
untuk menyampaikan pandangannya dengan bebas, sehingga semua pihak di
sini sepertinya dapat sama- sama ‘berbicara’.[]
Untuk itu, penting untuk tetap diadakan kemungkinan melakukan moderasi,
edit, seleksi, oleh pihak pengelola, agar tidak menimbulkan kebingungan
bagi pembaca yang lain, tentang pihak manakah yang mewakili ajaran
Gereja Katolik. Selain itu, pandangan dari pihak pengunjung yang tidak
sesuai dengan ajaran iman Katolik seyogyanya ditanggapi oleh pihak tuan
rumah dengan menyampaikan ajaran Gereja Katolik. Untuk itu diperlukan
komitmen dari pihak pengelola situs/ blog, untuk mempelajari ajaran
resmi Gereja Katolik.
b.
Antipati dari dunia terhadap nilai-nilai Kristiani:
Dunia media kadang sangat anti terhadap ajaran iman dan moral
Kristiani. Ini disebabkan karena pandangan umum yang menganggap tidak
adanya yang disebut kebenaran mutlak, dan bahwa semua pendapat adalah
benar (relativisme).[]
Waspada terhadap adanya gejala ini, saat mewartakan hal yang berkaitan
dengan iman dalam media, kita perlu mengambil informasi dari
sumber-sumber Katolik yang dapat dipercaya dan tidak asal
cut and paste saja
dari berita sekular, yang kadang malah bernada melecehkan Gereja
Katolik dan ajarannya. Kita juga harus selektif dalam memilih berita
yang ingin disampaikan, dan dalam dialog kita harus berani menyampaikan
kepenuhan kebenaran tanpa bersembunyi di balik pernyataan, “ya semua
agama/ gereja sama saja.” Sebab memang ada unsur-unsur kebenaran di
dalam agama- agama/ gereja-gereja lain, tetapi kepenuhan kebenaran ada
di dalam Gereja Katolik[]
c.
Penyerangan terhadap kelompok agama:
Adanya banyak situs di internet yang ditujukan untuk menyerang
kelompok- kelompok agama ataupun budaya tertentu, tak terkecuali yang
menyerang Gereja Katolik[].
Terhadap hal ini ada setidaknya tiga macam akibat bagi pembaca:
mengacuhkannya, menjadi terpengaruh olehnya, atau menjadi terdorong
untuk mencari tahu fakta yang sesungguhnya dari sumber yang netral dan
dari sisi Gereja Katolik. Kita sebagai katekis selayaknya mempunyai
sikap yang terakhir ini.
d.
Mementingkan opini pribadi:
Bermunculannya situs- situs yang menamakan dirinya Katolik tetapi tidak
menyampaikan informasi yang sungguh sesuai dengan posisi otentik Gereja
Katolik. Walau mungkin didirikan dengan maksud yang baik namun dapat
terjadi yang disampaikan di sana adalah pandangan pribadi yang
eksentrik/ berbeda dengan ajaran resmi Gereja Katolik[].
e.
Pilih-pilih ajaran:
Adanya kecenderungan dari pihak umat Katolik sendiri yang memilih-milih
ajaran yang mau ditaatinya dan mana yang ingin ditolaknya[]. Hal ini perlu diwaspadai, bahkan oleh pihak pengelola situs/
blog,
supaya jangan sampai ia sendiri termasuk di dalam golongan ini, dan
dengan demikian menjadi selektif dan bias dalam menyampaikan informasi,
dan tanpa disadari memasukkan opini pribadi yang mempertanyakan atau
bahkan menentang ajaran resmi Gereja Katolik. Misalnya, pandangan
seperti: umat Katolik harus menjadi vegetarian, harusnya Gereja
menahbiskan imam wanita, harusnya perayaan Misa lebih spontan dan tak
perlu pedoman, dst.
f.
Lupa akan realitas: Realitas dunia maya ini tidak bisa menggantikan realitas sakramen, dan kegiatan-kegiatan penyembahan dalam komunitas gerejawi[].
Jadi jangan sampai Internet menggeserkan kecintaan para pembaca dan
pengelola terhadap sakramen dan interaksi sosial yang nyata antara umat
beriman.
4. Beberapa rekomendasi dari Vatikan
Dengan
adanya peluang yang besar di media internet, “Gereja dapat dengan lebih
lagi memberitakan kepada dunia akan apa yang diimaninya dan menjelaskan
alasan- alasannya tentang suatu hal atau kejadian. Ia dapat lebih lagi
mendengar suara- suara pandangan publik dan masuk dalam diskusi yang
berkesinambungan dengan dunia di sekelilingnya, dan karena itu
melibatkan dirinya sendiri dengan lebih langsung di dalam pencarian
bersama akan solusi-solusi terhadap masalah-masalah yang menekan umat
manusia.”[]
Selanjutnya, mengingat peluang yang besar dan positif yang dapat
diberikan oleh internet/ media komunikasi terhadap pewartaan Kristus,
maka Gereja menyarankan:[].
a.
Kepada para pemimpin Gereja:
Orang- orang yang menempati kepemimpinan Gereja di semua sektor harus
memahami media, dan menerapkan pemahaman ini dalam pembentukan rencana
pastoral untuk komunikasi sosial. Jika perlu mereka sendiri harus
menerima pendidikan tentang media. Mereka harus memperhitungkan
penggunaan media sebagai kesempatan bagi kegiatan kerjasama ekumenis dan
antar-agama.
Sebagai langkah untuk mengatur maraknya situs yang menamakan diri Katolik tetapi sebenarnya bukan situs resmi (
unofficial)
yang berkaitan dengan otoritas Gereja, maka “sebuah sistem sertifikasi
yang sukarela di tingkat lokal dan nasional di bawah supervisi
wakil-wakil dari Magisterium akan dapat membantu, yang berkaitan dengan
materi- materi yang mengandung sifat pengajaran atau kateketik. Ide ini
bukan untuk menekan ataupun memberi sensor tetapi untuk menawarkan
kepada para pengguna internet semacam patokan yang dapat dipercaya
terhadap apa yang mengekspresikan posisi otentik Gereja.”[]
b.
Kepada petugas pastoral:
Para imam, diakon, biarawan/biarawati dan pekerja awam di bidang
pastoral harus mempunyai pendidikan media untuk meningkatkan
pemahamannya akan pengaruh komunikasi sosial kepada setiap orang dan
masyarakat. Mereka perlu mendapat pelatihan tentang internet dan
bagaimana menggunakannya di dalam pekerjaan mereka. Mereka dapat memetik
manfaat dari situs-situs yang menawarkan saran- saran teologis dan
pastoral.
Kepada petugas Gereja yang secara langsung terlibat di
media, mereka harus memperoleh pelatihan profesional, namun juga
mempunyai formasi yang baik tentang pengajaran maupun spiritualitas.
Sebab “untuk memberi kesaksian tentang Kristus, adalah penting untuk
mengalami perjumpaan sendiri dengan Dia dan untuk memperdalam hubungan
pribadi dengan Dia melalui doa, Ekaristi dan sakramen Pengakuan Dosa,
membaca dan merenungkan Sabda Tuhan, mempelajari ajaran Kristiani dan
melayani sesama.”[]
c.
Kepada para pendidik dan katekis:
Sekolah- sekolah Katolik mempunyai tugas yang genting untuk melatih
para komunikator dan penerima komunikasi sosial dengan prinsip- prinsip
Kristiani. Universitas Katolik, kolese, sekolah dan program pendidikan
di segala tingkat perlu memberikan kursus-kursus kepada berbagai
kelompok: calon imam, imam, biarawan, biarawati, pemimpin awam, guru,
orang tua dan murid- dengan pelatihan dalam hal teknologi komunikasi,
manajemen dan etika untuk mempersiapkan pekerjaan media profesional atau
peran pengambil keputusan, termasuk mereka yang bekerja di dalam
komunikasi sosial bagi Gereja.
d.
Kepada para orang tua: Demi anak- anak dan diri mereka sendiri, orang tua harus memainkan peran sebagai
supervisor
bagi anak- anak mereka dalam menggunakan internet. Orang tua harus
memberikan contoh yang bijaksana untuk menggunakan media di rumah
mereka. Supervisi ini termasuk memastikan digunakannya sistem filter/
penyaringan di dalam komputer yang digunakan oleh anak- anak, agar
melindungi mereka sedapat mungkin dari pornografi dan sejenisnya. Anak-
anak tak dapat diperbolehkan untuk menjelajahi internet tanpa pengawasan
orang tua. Orang tua dan anak harus berdialog tentang informasi apa
yang boleh dilihat. Tugas mendasar dari para orang tua adalah agar
membantu anak menjadi selektif dan menjadi pengguna internet yang
bertanggungjawab dan agar tidak menjadi pecandu internet dan mengabaikan
kontak dengan teman- temannya dan dunia sekelilingnya.
e.
Kepada anak- anak dan orang muda:
Anak- anak dan orang muda harus terbuka terhadap pendidikan sikap
terhadap media, agar dapat menolak godaan terbawa arus, terbawa bujukan
teman- teman dan eksploitasi komersial. Mereka harus diarahkan untuk
menggunakan internet dengan bertanggungjawab, dan agar tidak terjerumus
ke dalam konsumerisme, pornografi dan fantasi-fantasi kekerasan dan
pengucilan diri.
f.
Kepada semua orang yang berkehendak baik: disarankan agar menumbuhkan beberapa kebajikan untuk menggunakan internet:
1.
Kebijaksanaan: untuk dapat melihat dengan jelas adanya pengaruh yang
baik atau buruk, dan untuk menanggapi dengan kreatif peluang maupun
kesempatannya.
2. Keadilan: untuk memperkecil jarak antara mereka yang kaya akan informasi dan yang kurang informasi di dunia ini.
3.
Keperkasaan dan keberanian: untuk berani menyatakan kebenaran di
hadapan pandangan relativisme, kemurahan hati di hadapan konsumerisme,
kesopanan di hadapan sensualitas dan dosa.
4. Pengendalian diri: untuk mendisiplinkan diri sendiri agar dapat menggunakannya dengan bijak dan hanya untuk kebaikan.
V. Langkah-langkah konkret untuk mewartakan
Setelah
kita melihat apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus, kondisi dunia ini,
dukungan Gereja terhadap penggunaan media, serta beberapa pedoman yang
diberikan Gereja, maka mari sekarang kita melihat beberapa langkah
konkret yang dapat kita lakukan. Didorong ingin cepat bertindak dan
mengedepankan kepraktisan, banyak orang memikirkan program-program atau
aktivitas-aktivitas yang harus segera dijalankan. Namun, Yesus
mengingatkan kita bahwa jika badai menerjang, rumah yang didirikan di
atas pasir akan hancur berantakan, dan sebaliknya rumah yang didirikan
di atas batu akan tetap berdiri kokoh. (lih. Mat 7:24-27) Demikian juga
dapat pewartaan lewat dunia digital, langkah pertama adalah membuat
pondasi yang kokoh. Pondasi yang kokoh adalah pondasi spiritual. Pondasi
spiritual ini adalah merupakan jiwa dari karya kerasulan di dalam media
digital.
1. Pondasi spiritual
a.
Pertobatan:
Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa untuk melakukan pewartaan, kita
harus bertobat terlebih dahulu. Kita dapat belajar dari rasul Paulus,
yang menunjukkan bahwa setelah pertobatannya yang luar biasa dalam
perjalanan ke Damsyik, dia dapat mewartakan Tuhan dengan luar biasa
(lih. Kis 9:1-22). Sebagian dari kita, mungkin telah mengalami
pertobatan pertama, yaitu pertobatan yang menuntun kita pada Sakramen
Pembaptisan. Namun, pertobatan yang kedua (KGK, 1428) atau pertobatan
secara terus menerus diperlukan sehingga kita senantiasa dalam kondisi
rahmat. Dan dalam hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kita
menyampaikan kebaikan Tuhan dengan lebih benar dan indah.
b.
Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama:
Dua perintah utama ini harus menjadi dasar dari karya kerasulan ini.
Jangan pernah berfikir bahwa karya kerasulan adalah merupakan tujuan (
end). Semua karya kerasulan hanyalah cara (
means)
untuk mengasihi Kristus dan Gereja-Nya, yang diwujudkan dengan
mengasihi sesama. Kecintaan kita kepada Kristus dan Gereja-Nya merupakan
perwujudan bahwa kita mengasihi Kristus secara keseluruhan. Karena
Kristus sebagai Mempelai Pria mengasihi Mempelai wanita-Nya, yaitu
Gereja, maka kita juga harus mengasihi Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik.
Di sisi lain, kita mengasihi sesama, karena Kristuslah yang terlebih
dahulu mengasihi mereka, yang menginginkan agar semua orang diselamatkan
(lih. 1Tim 2:3-4). Kita dapat belajar bagaimana Rasul Paulus
sungguh-sungguh mengasihi Kristus namun pada saat yang bersamaan dia
bersedia melakukan apa saja demi keselamatan umat Allah (lih. Flp
1:23-24)).
c.
Berakar pada Sakramen, Sabda Allah, doa:
Kalau kita benar-benar mengasihi Allah, maka kita senantiasa mendalami
Allah, seperti yang dinyatakan-Nya dalam Kitab Suci. Dan kalau kita
mengasihi Allah, maka kita akan menimba rahmat-Nya yang mengalir melalui
sakramen- sakramen – terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat –
serta bercakap-cakap dengan Allah dalam doa-doa pribadi. Kita harus
belajar dari Rasul Paulus untuk mengucap syukur senantiasa dalam segala
hal, terutama dalam Perjamuan Suci (lih. 1 Kor 10:16; Ef 5:4). Kalau
sampai hal-hal ini dilupakan dan waktu yang ada hanya digunakan untuk
melakukan karya kerasulan di dunia digital, maka lama kelamaan, kita
akan menjadi lemah, karena kehilangan jiwa dan alasan utama untuk
melakukan semua ini.
d.
Mohon rahmat kerendahan hati dan kebijaksanaan:
Dalam melakukan karya kerasulan, kita perlu meminta rahmat agar
diberikan kerendahan hati. Kerendahan hati memungkinkan kita untuk
menempatkan kebenaran yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik di
atas pengertian kita sendiri; dan pada saat yang bersamaan mencoba
dengan segala kekuatan untuk menerima kebenaran tersebut – walaupun
mungkin sulit – dengan sukacita dan menjalankannya dalam hidup
sehari-hari. Mengetahui kebenaran adalah satu hal, namun menyampaikan
kebenaran adalah hal yang berbeda. Kita harus meminta rahmat
kebijaksanaan, sehingga kita dapat menyampaikan kebenaran dengan tepat,
hormat dan lemah lembut, tanpa mengorbankan kebenaran, namun justru
memperkuat kebenaran yang disampaikan.
2. Pondasi intelektual
Mempelajari iman Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja:
Kalau kita menyadari bahwa karya kerasulan dalam dunia digital adalah
untuk mewartakan Kristus dan Gereja-Nya, maka kita juga harus menggali
sumber-sumber yang menjadi pilar kebenaran, baik Kitab Suci, Tradisi
Suci maupun Magisterium Gereja. Dengan menggali dasar kebenaran tersebut
secara terus-menerus, maka kita akan dapat mewartakan kebenaran sesuai
dengan apa yang diinginkan oleh Gereja. Kita minta karunia Roh Kudus,
yaitu karunia pengertian, sehingga kita dapat masuk lebih dalam misteri
iman.
Mengikuti keputusan Magisterium: Sangat
penting kita benar-benar mempelajari apa yang sebenarnya diajarkan oleh
Magisterium Gereja. Semakin kita mengetahui apa yang diajarkan oleh
Magisterium Gereja Katolik – yang mendasarkan dogma dan doktrin
berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci – maka kita akan semakin
mewartakan apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Dan
dengan kerendahan hati, kita harus menerima, bahwa apa yang telah
diputuskan oleh Magisterium Gereja sesungguhnya merupakan kebenaran,
yang tentu saja harus kita ikuti.
3. Metode pewartaan
Setelah
kita mengetahui pondasi spiritual dan intelektual, maka kita dapat
mulai memikirkan tentang metode yang dapat kita lakukan. Dari sikap
Gereja Katolik tentang media yang telah dipaparkan di atas, serta
meneladani semangat Rasul Paulus yang menggunakan segala cara agar dapat
memperkenalkan Kristus kepada segala bangsa, kita harus melihat
kesempatan dan keadaan di mana Tuhan menempatkan kita sebagai peluang.
Sebab penggunaan media komunikasi dapat menghubungkan orang- orang di
dalam keluarga, sekolah, pergaulan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-
hari lainnya, dan ini merupakan kesempatan yang baik untuk menaburkan
benih Injil. Hal tersebut dapat kita lakukan melalui beberapa cara:
Telpon, BBM, SMS, E-mail dan Milis:
Hal yang paling sederhana yang dapat dilakukan oleh hampir semua orang
adalah menelpon teman yang membutuhkan penghiburan, mengirim e-mail, SMS
atau BBM ayat- ayat maupun permenungan Kitab Suci. Dalam kategori ini,
kita dapat juga membuat milis. Sebagai contoh dalam kelas katekumen,
baik juga jika kita sebagai katekis dapat meminta alamat e-mail para
katekumen, sehingga tiap- tiap hari/ secara berkala katekis dapat
mengirimkan ayat- ayat Kitab Suci atau renungan harian, ataupun
penjelasan tentang pokok-pokok iman Katolik.
Facebook, Twitter:
Mulai membuat facebook atau twitter dan menceritakan bagaimana Kristus
hidup dalam kejadian sehari-hari, serta bagaimana merefleksikan bacaan
Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Lihat contoh twitter dari
Vatikan:
https://twitter.com/news_va_en
Membuat website atau blog: Dewasa
ini, membuat website atau blog pribadi, entah dengan Blogger,
Wordpress, Joomla, dll sangatlah mudah dan tidak memerlukan biaya
banyak. Semua umat Katolik dapat mulai dengan menceritakan pengalaman-
pengalaman iman, sehubungan dengan apa yang dialaminya sehari-hari. Dan
bagi yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang iman – baik awam
maupun klerus – dapat mulai untuk memaparkan iman Katolik secara lebih
mendalam. Silakan melihat website Vatikan:
http://vatican.va
Membuat forum:
Membuat forum Katolik juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan
Kristus dan Gereja-Nya. Di satu sisi, forum dapat memberikan daya tarik
bagi pengunjung untuk memberikan opini dan membangun dialog. Namun, di
sisi yang lain, tanpa moderator forum yang baik, maka diskusi dapat
menjadi liar dan tidak terarah.
Youtube: Salah
satu media komunikasi adalah film. Dan dalam era internet ini, kita
semua dapat menampilkan video melalui youtube. Isilah dengan kesaksian
iman, pendalaman iman, kegiatan anak-anak muda dalam paroki maupun dalam
tingkat keuskupan. Lebih jauh media ini juga dapat dimanfaatkan untuk
merekam tahap-tahap dalam melakukan katekese, baik secara terstruktur
atau per topik bahasan. Vatikan sendiri mempunyai channel youtube:
http://www.youtube.com/user/vatican
Applikasi mobile: Dewasa ini telepon pintar (
smartphone),
seperti iphone, blackberry, telepon dengan OS Android telah merajalela
di Indosia. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk membuat applikasi
mobile, sehingga umat Katolik dapat mengakses informasi tentang iman
Katolik di mana saja, termasuk pada waktu menghadapi kemacetan.
VI. Kesimpulan
Dari
pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa kondisi dunia ini penuh
dengan arus informasi dan teknologi untuk berkomunikasi. Gereja
mempunyai tugas untuk menggunakan kesempatan ini untuk mewartakan
Kristus. Teknologi saja tidaklah cukup. Kita perlu meniru Rasul Paulus
yang dipenuhi dengan kasih Allah; dan yang mempunyai kerinduan besar
untuk membagikannya bagi semua orang, bukan hanya umat Yahudi namun
kepada seluruh umat manusia. Demikianlah kita dipanggil untuk mewartakan
Kristus, tidak saja kepada umat Katolik, tetapi juga kepada semua orang
yang berkehendak baik. Pengorbanan yang kita lakukan tidaklah
sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Rasul Paulus. Namun
demikian, sebagai umat Allah yang telah menerima Sakramen Baptis, kita
mengemban tugas yang sama untuk mewartakan Kristus, walaupun dengan cara
dan porsi yang berbeda-beda. Akhirnya, biarlah kata-kata dari Paus
Yohanes Paulus II dapat memberikan inspirasi di dalam hati kita untuk
melakukan pewartaan di dunia digital ini.
“Semoga umat Katolik
yang terlibat di dunia komunikasi sosial mewartakan kebenaran akan Yesus
dengan lebih berani dari atap- atap rumah, sehingga semua orang dapat
mendengar tentang kasih yang adalah jantung hati komunikasi Allah
sendiri di dalam Yesus Kristus, yang tetap sama kemarin, dan hari ini,
dan selamanya.”[]
[Catatan:
Artikel ini dibuat untuk retret Hari Studi Katekis Keuskupan Surabaya
“Seandainya Rasul Paulus Hidup di Zaman Digital ini, apa yang akan Dia
lakukan Untuk Pewartaannya?”, yang diselenggarakan di Wisma Hening
Katarina, Pohsarang, Kediri 24-26 Oktober 2011]
CATATAN KAKI:
Ditulis oleh
Stefanus Tay & Ingrid Tay pada 23 10 11 Disimpan dalam
Artikel,
Hal Kontemporer,
Misi Evangelisasi.
Sumber utama: http://katolisitas.org/2011/10/23/pewartaan-kristus-di-zaman-digital-dengan-semangat-rasul-paulus/