Kalender Liturgi

Senin, 07 November 2011

Hipnoterapi: bolehkah?


Pertanyaan:

Saya senang membaca artikel2 Katolisitas. Tapi belum smua sy baca memang. Tapi lumayan, buat pencerahan. Saya seorang Hypnotherapis/Hypnotist. Saya Katolik tulen, sejak lahir didunia ini. Bagaimana pendapat Katolisitas tentang hipnosis/hipnoterapi? Tmks. Sukses slalu Katolisitas. Salam Joss…

Jawaban:

Shalom Yoseph,

1. Berikut ini kutipan pengajaran dari The Holy Office, Vatikan, 4 Agustus 1956; 26 Juli, 1899, yang saya kutip dari situs EWTN dan Catholic Answers, yang menjabarkan tentang Hipnotis sebagai berikut:
“The phenomenon of artificially induced sleep, which renders the victim abnormally open to suggestion. The subject of hypnosis tends to be dominated by the ideas and suggestions of the hypnotist while under the induced spell and later on. According to Catholic principles, hypnotism is not wrong in itself, so that its use under certain circumstances is permissible. But since it deprives the subject of the full use of reason and free will, a justifying cause is necessary for allowing it to be practiced. Moreover, because hypnotism puts the subject’s will in the power of the hypnotist, certain precautions are necessary to safeguard the subject’s virtue, and to protect him or her and others against the danger of being guilty of any injurious actions. For grave reasons, e.g., to cure a drunkard or one with a suicide complex, it is licit to exercise hypnotism, given the precaution that it is done in the presence of a trustworthy witness by a competent and upright hypnotist. The consent, at least presumed, of the subject must also be had. Several documents of the Holy See set down the norms to be followed in the use of hypnotism.”
Terjemahannya:
“Fenomena yang menyebabkan tidur secara buatan, yang mengakibatkan sang korban secara tidak normal dapat terbuka untuk mengikuti saran. Subyek hipnotism cenderung untuk didominasi oleh ide-ide dan saran-saran dari yang meng-hipnotis, ketika di bawah masa sakitnya atau sesudahnya. Menurut prinsip- prinsip Katolik, hipnotism sendiri tidak salah, sehingga penggunaannya di dalam kondisi-kondisi tertentu diijinkan. Namun karena hipnotism mencabut sang subyek/ pasien dari penggunaan akal budi dan keinginan bebasnya secara penuh, [maka] diperlukan sebuah sebab yang dapat dipertanggungjawabkan untuk memperbolehkan hipnotis ini dipraktekkan. Lagipula, sebab hipnotism meletakkan keinginan subyek/ pasien di dalam kuasa dari yang menghipnotis, maka diperlukan tindakan-tindakan pencegahan untuk menjaga kebajikan subyek/ pasien, dan untuk melindunginya dan orang lain terhadap bahaya menjadi bersalah karena tindakan-tindakan yang dapat melukai. Untuk alasan-alasan yang genting, seperti untuk menyembuhkan seorang pemabuk atau seseorang dengan kelainan yang kompleks ingin bunuh diri, adalah lisit untuk menerapkan hipnotism, asalkan dengan tindakan pencegahan bahwa hal itu diadakan dengan kehadiran seorang saksi yang dapat dipercaya, dengan seorang ahli hipnotis yang sungguh-sungguh kompeten dan jujur/ tulus. Ijin, setidak-tidaknya dianggap/ diperhitungkan, dari subyek/ pasien juga harus ada. Beberapa dokumen dari the Holy See menentukan norma-norma yang harus diikuti di dalam penggunaan hipnotism.”

2. Maka kita ketahui bahwa ada 4 hal yang harus ada sehingga hipnotis/ hipnoterapi dapat secara lisit dilakukan, yaitu: 1) adanya alasan yang genting; 2) adanya ijin dari orang yang bersangkutan; 3) diadakan tindakan precaution/ pencegahan untuk mengantisipasi hal-hal negatif yang mungkin bakal terjadi,  yaitu dengan kehadiran saksi yang dapat dipercaya, dan 4) dilakukan oleh seorang yang benar- benar ahli dengan integritas yang tinggi, jujur dan tulus.
Pertama, alasan genting di sini misalnya, untuk menolong seseorang yang insomnia berat, pemabuk, kleptomania, penyakit kecanduan lainnya ataupun gejala-gejala histeria yang menyebabkan frigiditas, impotensi, dst. Jadi di sini, alasan entertainment bukanlah alasan yang lisit untuk praktek hipnotis. Kedua, ijin dari pasien di sini diperlukan karena pada dasarnya tidak seorangpun berhak menarik seseorang dari kemampuannya mengontrol keinginan dan akal budinya. Jadi pemaksaan penggunaan hipnotis adalah pelanggaran hak-hak dari subyek/ pasien. Dalam kasus orang yang kurang waras dan anak-anak kecil, maka dokter harus meminta persetujuan dari orang tua atau orang yang bertanggung jawab untuk mengasuh/ memelihara pasien tersebut. Ketiga, tindakan pencegahan adalah bahwa pelaku hipnotis/ hypnotherapist-nya adalah seseorang yang secara medis memenuhi syarat (medically qualified) untuk melakukan hipnotis. Jika yang menghipnotis tidak ahli, maka ia dapat mendatangkan efek negatif terhadap kondisi mental pasien. Dalam hal ini maka dokter ahli dapat mencegah efek negatif yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan hipnotis. Syarat kedua adalah bahwa harus ada saksi yang diberi kuasa, yang harus mempunyai karakter yang baik, yang berperan untuk melindungi baik pasien maupun dokternya.

3. Jika dilihat dari definisinya hipnosis, yaitu: “kondisi sementara dari pengalihan/ perubahan perhatian yang dapat diakibatkan kepada seseorang oleh orang lain dan di mana berbagai reaksi/ fenomena dapat timbul, baik secara spontan atau sebagai tanggapan atas perkataan atau stimulus lainnya.” (New Catholic Encyclopedia, The Catholic University of America, vol VII, p. 304).
Fenomena di sini terdiri dari perubahan dalam hal kesadaran dan ingatan, peningkatan kecenderungan untuk mendengarkan saran-saran dan penghasilan bermacam tanggapan dan ide yang tidak familiar bagi pasien. Mengingat fenomena akibat yang dapat terjadi, maka terdapat beberapa bahaya, jika hipnoterapi sebagai alat terapi ini dilakukan tidak dengan semestinya. Beberapa pendapat medis merangkum bahaya hipnotism, sebagai berikut: 1) karena yang diterapi adalah gejala, maka penyakitnya sendiri tidak terobati, karena penyebabnya tidak dihilangkan dengan hipnoterapi; 2) ketika hipnoterapi menangani gejala emosional dan bukannya penyebabnya, maka dapat berpengaruh negatif pada kepribadian; 3) hipnoterapi tersebut dapat mengarah kepada khayalan/ angan-angan dan keterpisahan dari realitas, meskipun kelihatannya pasien sedang ’sadar’; 4) pasien dapat mempunyai kecenderungan abnormal menjadi cepat mengantuk/ tidur; 5) sekali-kali kehilangan ingatan dan keseimbangan mental; 6) perkataan-perkataan pasien menjadi in-koheren/ tidak cocok.
Maka di sini, peran hypnotherapist menjadi sangat dominan, sebab ia dapat mempengaruhi pikiran pasien. Hypnotherapist dapat memasukkan hal-hal positif maupun negatif ke dalam pikiran pasien, sehingga di sinilah peran integritas moral para hypnotherapist untuk hanya memberikan saran-saran yang positif bagi kebaikan pasien. [Karena anda adalah seorang hypnotherapist, ini mungkin kesempatan bagi anda untuk memberikan saran-saran yang berdasarkan ajaran Tuhan Yesus].

4. Perlu dicermati juga adalah praktek New Age tentang hipnotis ini, yang seolah-olah ingin membawa seseorang ke dalam alam kehidupan sebelumnya, karena aliran ini mempercayai re-inkarnasi. Praktek yang demikian sangat bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Fakta menunjukkan bahwa kasus Virginia Tighe dari Colorado, USA, yang sering disebut-sebut sebagai contoh ternyata merupakan fiksi, dan setelah diselidiki (dan dicocokkan dengan fakta sejarah/ kenyataan di masa lampau tentang deskripsi pasien) ternyata hal itu tidak benar. Silakan klik di link ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang kisah Tighe ini.

5. Kesimpulannya, walaupun hipnotism diijinkan, karena pada dasarnya hal itu sendiri tidak dinilai Gereja sebagai perbuatan jahat, namun karena dapat disalahgunakan atau jika tidak dilakukan secara benar dapat mengancam kesehatan mental pasien, maka Gereja menganjurkan agar umat berhati-hati terhadap praktek hipnotism ini.
Silakan melihat dasar yang digunakan Gereja Katolik untuk menilai suatu perbuatan sebagai perbuatan baik/ bermoral atau perbuatan jahat/ tak bermoral di tulisan ini, silakan klik. Dalam kasus hipnoterapi, maka 1) objek moral yaitu terapi yang melibatkan perubahan perhatian pasien tidak dengan sendirinya “evil“/ jahat, namun tergantung 2) circumstance/ keadaan pelaksanaannya dan 3) maksudnya. Kalau keadaan dan maksudnya tidak baik, maka hipnotism merupakan tindakan tidak baik secara moral, sedangkan jika kedua hal tersebut (2 dan 3) dipenuhi dengan baik, maka dapat dikatakan hypnoterapi dapat diterima secara moral.
Contoh: Keadaan pelaksanaannya dikatakan baik/ dapat diterima secara moral, kalau dilakukan atas ijin dari pasien, dan dilakukan oleh terapist yang bermoral dan kompeten, dengan adanya saksi yang  juga bermoral. Intensi/ maksud dikatakan baik/ legitim, jika ditujukan untuk menolong seseorang yang dalam keadaan genting ( in grave reasons), atas usulan pihak medis.

Demikian uraian singkat tentang hipnotism menurut sudut pandang Gereja Katolik. Semoga bermanfaat bagi anda. Saya berharap anda adalah seorang hypnotherapist yang menjalankan tugas anda dalam keadaan medis yang sungguh-sungguh genting, dan bukan untuk sekedar entertainment. Dengan definisi di atas (dengan alasan yang genting, ijin dari yang dihipnotis, harus ada saksi yang dapat dipercaya dan harus dilakukan oleh pakar yang berintegrasi tinggi) maka tidak dibenarkan penggunakan hipnoterapi jika tidak dipenuhi semua syarat di atas, misalnya dengan mendengarkan CD hipnotis sendirian, atau ikut-ikutan menjalani hipnoterapi tanpa tahu persis apakah terapi tersebut benar-benar diperlukannya. Sebab yang diijinkan Gereja adalah hipnoterapi untuk menolong pasien dan bukan untuk ‘main-main’ atau ‘coba-coba’ apalagi hiburan/ bahan tertawaan. Gereja-pun sangat berhati-hati dalam hal ini, sehingga mengingatkan umatnya akan resiko- resiko negatif nya jika hipnoterapi ini tidak dilakukan dengan semestinya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

http://katolisitas.org/2009/09/02/hipnoterapi-bolehkah/

Pewartaan Kristus di Zaman Digital dengan Semangat Rasul Paulus

 
 PEMBAHASAN
  • I. Kristus hidup di dalam aku
  • II. Sudahkah perkataan Rasul Paulus itu menggema di dalam hati kita?
  • 1. Beritakanlah Injil!
  • 2. Berpegang pada pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja
  • 3. Memberitakan Kristus: kebangkitan-Nya tak terlepas dari kurban salib-Nya
  • 4. Menjangkau semua orang, karena Allah menghendaki semua orang diselamatkan
  • 5. Pewartaan iman, pengharapan dan kasih, di dalam Kristus
  • 6. Menggunakan segala cara yang baik untuk mewartakan Kristus
  • 7. Bertekun dalam evangelisasi
  • 8. Mahkota abadi merupakan penggenapan janji bagi kita yang turut mewartakan Kristus
  • III. Dunia modern di bawah pengaruh modernisme dan sekularisme
  • 1. Modernisme
  • 2. Sekularisme
  • 3. Pemisahan antara iman dan kehidupan sehari-hari
  • IV. Peluang dan tantangan pewartaan di era digital
  • 1. Membaca tanda-tanda zaman akan pentingnya media digital
  • 2. Kelebihan pewartaan dalam era digital
  • 3. Tantangan yang perlu diwaspadai
  • 4. Beberapa rekomendasi dari Vatikan
  • V. Langkah-langkah konkret untuk mewartakan
  • 1. Pondasi spiritual
  • 2. Pondasi intelektual
  • 3. Metode pewartaan
  • VI. Kesimpulan

I. Kristus hidup di dalam aku

Jika membaca riwayat hidup Rasul Paulus, kita akan terinspirasi dengan betapa besar kasihnya kepada Kristus. Ia benar- benar mempersembahkan seluruh hidupnya untuk mengabarkan Injil. Ia rela di penjara dan dianiaya, rela melakukan perjalanan yang berbahaya, demi mewartakan Kabar Gembira kepada segala bangsa. Semangatnya tak surut bahkan setelah beberapa kali didera, dan diterpa bahaya maut (lih. 2Kor 11:23, 25; Kis 27:27). Namun sesungguhnya, ia dapat mengasihi Kristus sedemikian rupa karena Tuhan Yesuslah yang terlebih dahulu mengasihi dan mengampuni dia. Perjumpaannya dengan Kristus di perjalanan menuju Damsyik mengubah seluruh hidupnya, dan melalui sentuhan kasih Kristus ia menjadi manusia baru. Paulus tidak lagi hidup menurut pengertian dan kehendaknya sendiri, namun menurut ajaran dan kehendak Kristus. Keseluruhan jiwa dan kehendaknya begitu terarah kepada Kristus, sehingga ia dapat mengatakan, “…. namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” (Gal 2:20).
Kristus yang hidup di dalam diri Rasul Paulus juga hidup di dalam diri kita umat Allah yang telah menerima Sakramen Baptis. Semangat Rasul Paulus untuk mewartakan Kristus, dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk juga melakukan tugas pewartaan – yang memang telah kita terima pada saat kita menerima Sakramen Baptis. Tugas pewartaan yang dulu dilakukan oleh Rasul Paulus dengan berjalan kaki, menjelajahi samudra luas, mengalami penghinaan dan penderitaan, sampai akhirnya menyerahkan nyawa demi Kristus yang tersalib, kini menjadi tugas yang harus kita emban bersama. Hanya seja sekarang jaman dan keadaannya berbeda. Dengan kehidupan yang diwarnai dengan informasi digital, cyberspace, maka tugas mewartakan Kristus menjadi lebih mudah bagi kita. Kita dapat melakukan semuanya dari rumah, asal terhubung dengan kabel internet. Terima kasih kepada teknologi. Selanjutnya, pertanyaannya, apakah kita mempunyai semangat dan spiritualitas seperti Rasul Paulus untuk memberitakan Kristus?

II. Sudahkah perkataan Rasul Paulus itu menggema di dalam hati kita?

Jika kasih kita kepada Tuhan diukur dari sejauh mana kita telah melakukan perintah- perintah-Nya (lih. 1Yoh 5:3), dan sejauh mana kita mempunyai kehendak yang sama dengan kehendak Kristus, maka baik jika kita tanyakan kepada diri sendiri, sudahkah kita mempunyai kerinduan seperti Rasul Paulus,  yang melakukan apa saja untuk mewartakan Kristus? Berikut ini adalah beberapa prinsip ajaran Rasul Paulus yang mungkin dapat kita jadikan sebagai patokan dasar pewartaan kita:

1. Beritakanlah Injil!

“Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Kor 9:16) Rasul Paulus mempunyai kecintaan yang besar kepada Injil. Maka pewartaannya tentang Kristus juga merupakan pewartaan akan segala pengajaran dan perintah Kristus dalam Injil. Semangat Rasul Paulus ini harus mendorong kita untuk juga semakin bersemangat untuk membaca Kitab Suci, merenungkannya dan melaksanakannya; supaya Injil menjadi sungguh hidup di dalam keseharian kita. Dengan kata lain, Injil yang kita imani itu menentukan sikap hidup, pikiran dan tutur kata kita; inilah sesungguhnya bentuk pewartaan yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasul Paulus (Flp 1:27). Selanjutnya Injil inilah yang harus kita wartakan dalam tugas kerasulan kita sebagai katekis.

2. Berpegang pada pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari  kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15) Rasul Paulus mengajarkan kepada kita agar berpegang kepada ajaran-ajaran para rasul, baik yang disampaikan secara lisan -yaitu Tradisi Suci- maupun yang tertulis -yaitu Kitab Suci. Dengan demikian, jika kita mengikuti jejak Rasul Paulus dalam pewartaan Sabda Tuhan, selain kita menyampaikan ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci, kita harus juga menyampaikan ajaran Tradisi Suci yaitu pengajaran dari para Bapa Gereja dan Magisterium, yang walaupun tidak termasuk di dalam Kitab Suci namun berasal dari sumber yang sama -yaitu dari Kristus, para rasul dan para penerus mereka- sehingga baik Kitab Suci maupun Tradisi Suci perlu mendapat penghormatan yang sama.[1]
Di samping sumber Kitab Suci dan Tradisi Suci, Rasul Paulus juga mengajarkan untuk  “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (ekklesia = Gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1Tim 3:15 ) Dari sini kita tahu, bahwa Rasul Paulus sangat menghargai Gereja. Dan penghargaan dan ketaatan Rasul Paulus akan keputusan Gereja diwujudkan dengan mentaati segala sesuatu yang diputuskan dalam Konsili Yerusalem I.

3. Memberitakan Kristus: kebangkitan-Nya tak terlepas dari kurban salib-Nya

“Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” (1Kor 2:2)
Rasul Paulus mengajarkan kepada kita agar tidak ragu untuk mewartakan Kristus yang disalibkan, sebab kebangkitan-Nya tidak pernah terlepas dari sengsara dan wafat-Nya di kayu salib. Maka sebagai umat Kristiani, seharusnya kita tidak menekankan hanya pada hal kebangkitan Kristus dan mengabaikan sengsara dan wafat-Nya, sebab tidak ada hari Minggu Paskah tanpa hari Jumat Agung. Sebenarnya tantangan pewartaan Rasul Paulus kepada kaum Yahudi dan kepada kaum Yunani pada jamannya juga masih relevan saat ini. Sebab pewartaan Yesus yang disalibkan itu memang menjadi batu sandungan bagi banyak orang, dan sering dianggap sebagai kebodohan bagi kaum cendekiawan dunia. Namun bagi kita yang percaya, Kristus yang disalibkan merupakan kekuatan dan hikmat Allah (lih. 1 Kor 1:23).

4. Menjangkau semua orang, karena Allah menghendaki semua orang diselamatkan

“[Allah] menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim 2:4) Pesan pewartaan berikutnya yang perlu disampaikan sehubungan dengan Kristus yang disalibkan adalah: melalui kurban salib-Nya itu, Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Jadi pesan ini jugalah yang harus kita sampaikan saat kita mewartakan Kristus.

5. Pewartaan iman, pengharapan dan kasih, di dalam Kristus

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman…. ” (Ef 2:8)…. “yang bekerja oleh kasih” (Gal 5:6) …karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, (1Tim 4:10) “[karena] kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” (Rom 6:11) Pewartaan Kristus yang tersalib itu adalah pewartaan kebenaran akan kasih karunia Allah kepada kita manusia, dan dengan mengimaninya dan mewujudkan iman itu di dalam perbuatan kasih, kita diselamatkan. Pewartaan akan pentingnya iman yang tak terpisahkan dari kasih ini menjadi salah satu inti pengajaran Rasul Paulus. Walaupun sebelum bertobat ia berlatar belakang Farisi yang sangat taat kepada hukum Taurat, namun setelah perjumpaannya dengan Kristus, Rasul Paulus mengetahui bahwa manusia diselamatkan bukan dari melakukan hukum Taurat tetapi karena kasih karunia Allah yang mengubah seseorang sehingga ia memperoleh hidup yang baru di dalam Kristus.

6. Menggunakan segala cara yang baik untuk mewartakan Kristus

“Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.” (1Kor 9:20-21) Dalam usaha menghantar banyak orang agar mengenal Kristus, Rasul Paulus tidak memusatkan perhatiannya kepada dirinya sendiri, tetapi kepada mereka yang dilayaninya. Ia seolah menempatkan dirinya sejajar dengan mereka dengan harapan mereka dapat menerima pesan yang disampaikannya. Demikian pula dalam tugas pewartaan yang kita lakukan, penting bagi kita untuk mengetahui latar belakang orang yang sedang kita ajak bicara, karena dengan memahami pola berpikir mereka, kita akan dapat mewartakan pesan Injil dengan lebih efektif.

7. Bertekun dalam evangelisasi

“Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat…. Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku.” (2Kor 11:23-30) Mungkin baik kita diam sejenak membaca kesaksian Rasul Paulus ini, dan kita biarkan kata- kata ini menembus kedalaman hati kita. Sebab mungkin pengorbanan kita dalam mewartakan Kristus sungguh masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan pengorbanan Rasul Paulus. Namun, betapa sering kita tergoda menjadi tawar hati jika ada kesulitan ataupun tantangan dalam tugas pewartaan kita sebagai katekis.

8. Mahkota abadi merupakan penggenapan janji bagi kita yang turut mewartakan Kristus

“Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan … berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (1 Kor 9:25) Namun pada akhirnya Rasul Paulus mengimani bahwa mahkota abadi akan tersedia bagi kita yang turut mengambil bagian dalam tugas pewartaan Kristus ini, sebagaimana para atlet yang turut mengambil bagian dalam pertandingan. Semoga di akhir hidup kita, kita dapat berkata bersama dengan Rasul Paulus, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan…” (2Tim 4:7).

III. Dunia modern di bawah pengaruh modernisme dan sekularisme

Untuk dapat melakukan karya evangelisasi di tengah dunia modern ini, maka kita harus mengerti apa yang menjadi pergulatan dan tantangan di dunia pada saat ini, yang sering bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani. Dunia tempat kita tinggal dipenuhi dengan begitu banyak tipu daya, sehingga banyak orang yang terseret masuk ke dalamnya. Rasul Yohanes mengatakan “…manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh 3:19). Bahaya paling besar yang dihadapi oleh dunia modern adalah modernisme dan juga sekularisme.

1. Modernisme

Modernisme dikatakan oleh Paus Pius X sebagai “sintesis dari semua bidaah”/ gabungan dari semua ajaran sesat[2], yang kemudian ditegaskan oleh Paus Benediktus XV[3]. Dapat dikatakan bahwa modernisme menggabungkan semua ajaran bidaah karena modernisme ingin menghilangkan semua hal yang berhubungan dengan Tuhan dari seluruh sendi kehidupan. Prinsip dari modernisme ini dapat disarikan sebagai: (a) Prinsip emansipasi, yang menghendaki kebebasan ilmu pengetahuan, tata negara dan hati nurani, yang terpisah dari Gereja; (b) Prinsip perubahan, yang mempercayai bahwa satu-satunya yang statis di dunia ini adalah perubahan dan menolak sesuatu yang tetap, yang terstruktur, yang pada akhirnya akan melawan otoritas Gereja, karena dipandang sebagai organisasi yang terlalu kaku dan terstruktur; (c) Prinsip rekonsiliasi, yang mencoba untuk menyatukan semua perbedaan berdasarkan perasaan hati. Dengan demikian, tidak diperlukan doktrin-doktrin dan kebenaran-kebenaran absolut, karena doktrin-doktrin hanyalah memecah belah rekonsiliasi.
Kita melihat contoh-contoh ada cukup banyak situs, facebook, twitter, maupun bbm, yang sering mengungkapkan semua agama sama saja; yang penting adalah ajaran kasih; Gereja Katolik terlalu kaku dan tidak membumi; Gereja Katolik dan dogma dan doktrinnya hanyalah bikinan manusia semata; tidak perlu terlalu fanatik, dll.
Dan sering perkataan-perkataan seperti di atas dituliskan oleh umat Gereja Katolik dan bahkan para katekis! Inilah sebabnya para Paus menyebutkan bahwa modernisme merupakan sintesis dari semua bidaah atau kesesatan, karena bukan hanya melawan salah satu pengajaran dari Gereja Katolik, namun melawan semua pengajaran Gereja Katolik sampai  kepada akar-akarnya. Seorang tidak dapat menjadi Katolik dan sekaligus menjadi penganut modernisme.

2. Sekularisme

Sekularisme adalah suatu prinsip yang hanya menaruh perhatian pada hal-hal yang dialami di dunia ini saja. Artinya, paham ini memisahkan diri dari agama, yang mengajarkan kehidupan kekal. Prinsip dari pengajaran ini adalah: (a) meningkatkan kehidupan ini dengan hal-hal material saja, (b) ilmu pengetahuan yang dapat menjawab segalanya, (c) berfokus untuk melakukan kebaikan untuk hidup di dunia ini saja. Prinsip di atas, pada akhirnya akan menghasilkan materialisme, karena fokus dari prinsip ini adalah meningkatkan kehidupan dengan hal-hal material dan kehidupan hanya dilihat sebagai apa yang dialami di dunia ini. Kita melihat di dalam dunia digital, komentar-komentar, yang kadang datang dari umat Katolik sendiri, tentang pentingnya untuk melakukan karya-karya sosial dan tidak perlu untuk mempelajari dogma dan doktrin Gereja Katolik, karena dogma dan doktrin tidak diperlukan.

3. Pemisahan antara iman dan kehidupan sehari-hari

Keadaan di atas diperparah dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari umat beriman, termasuk umat Gereja Katolik. Ada sebagian umat Katolik, yang mengaku diri Katolik namun hidupnya tidak mencerminkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mengenal Tuhan dan telah diselamatkan. Orang-orang ini, yang walaupun adalah umat beragama – termasuk umat Katolik – namun hidupnya seolah-olah tidak mengenal Tuhan. Paus Yohanes Paulus II menyebut kelompok ini sebagai “practical atheism“ karena mereka hidup seolah-olah tidak mengenal Tuhan. Mereka menolak adanya  kebenaran absolut, dan menganggap berbagai pandangan di dunia ini -bahkan yang bertentangan dengan ajaran Kristus sekalipun- sebagai sama-sama benar (ini disebut relativisme). Dalam dunia digital ini, iman seolah-olah hanyalah urusan hari Minggu, selebihnya pornografi dalam internet tidak dipandang sebagai dosa.
Kita tahu bahwa sesuatu yang buruk atau salah akan cepat sekali menyebar. Dan di dunia yang serba cepat dan serta serba digital, mempermudah penyebaran informasi, termasuk informasi akan paham-paham yang salah. Dengan masuknya dan berkembangnya ajaran-ajaran tersebut, maka sebenarnya umat Kristen hidup di zaman yang penuh dinamika dan tantangan yang besar. Namun, apakah kemudian kita hanya menyesali nasib dan membiarkan semua penyesatan ini terjadi? Kalau Rasul Paulus hidup di zaman ini, apakah kita berfikir bahwa dia hanya duduk diam dan berpangku tangan serta hanya menyesali nasib dan menyalahkan masyarakat?

IV. Peluang dan tantangan pewartaan di era digital

Kita bersama yakin, bahwa Rasul Paulus tidak akan berdiam diri menghadapi tantangan ini. Bahkan kita yakin, bahwa dia akan menjadikan media komunikasi sebagai satu peluang yang begitu luar biasa yang harus digunakan untuk mengkomunikasikan/ mewartakan Kristus yang adalah Sang Kebenaran yang sejati. Dalam salah satu dokumen Instruksi Pastoral yang dikeluarkan oleh Pontificum Consilium de Communicationibus Socialibus tentang Komunikasi Sosial, Aetatis Novae (1992), dijabarkannya pentingnya hal komunikasi di dalam Gereja, karena sesungguhnya hal ini mengambil model dari komunikasi yang terjadi di dalam Pribadi Allah Trinitas. Sebab di dalam Kristus yang adalah Sang Sabda yang menjadi manusia, komunikasi kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera oleh kuasa Roh Kudus menjadi nyata. Komunikasi ini yang kemudian ditanggapi oleh manusia dalam iman mewujudkan dialog yang mendalam.[4] Komunikasi kasih inilah yang perlu dihadirkan di tengah kehidupan manusia, melalui media komunikasi sosial, dan orang- orang yang terlibat di dalam media ini mempunyai tanggungjawab untuk mewujudkan keselarasan antara Teladan yang dicontoh dan pelaksanaannya di lapangan, agar para pembacanya dapat melihat hubungan antara keduanya. Yaitu bahwa Kabar Gembira yang dikomunikasikan adalah Kasih Allah yang disampaikan di dalam Kristus.
Hal komunikasi sebagai hakekat Gereja ini pula yang ditekankan dalam dokumen yang dikeluarkan oleh Pontifical Council for Social Communication, yang berjudul Gereja dan Internet (2002). Dikatakan demikian, “Komunikasi di dalam dan oleh Gereja pada dasarnya adalah penyampaian tentang Kabar Gembira Yesus Kristus. Komunikasi tersebut adalah pewartaan Injil sebagai nubuat, sabda yang memerdekakan manusia di zaman sekarang, suatu kesaksian di hadapan sekularisasi radikal tentang kebenaran ilahi dan tujuan akhir umat manusia; sebuah saksi yang diberikan kepada semua umat beriman di dalam solidaritas untuk melawan segala bentuk konflik dan pemisahan menuju keadilan dan persekutuan di antara orang- orang, bangsa- bangsa, dan budaya.”[5]

1. Membaca tanda-tanda zaman akan pentingnya media digital

Oleh karena itu Gereja Katolik mempunyai perhatian besar terhadap media komunikasi sosial. Berikut ini adalah beberapa kutipan pengajaran Magisterium tentang hal komunikasi tersebut:
Paus Pius XII: Pada tahun 1957 menekankan pentingnya media – baik radio, televisi, film – untuk dapat digunakan dalam mengekspresikan kebenaran.[6]
Paus Paulus VI: di tahun 1971 mengatakan bahwa Gereja melihat media sebagai karunia Tuhan, yang dapat dipergunakan manusia sebagai alat untuk persatuan di dalam persaudaraan dan juga sebagai alat agar manusia dapat menanggapi warta keselamatan.[7] Media modern dapat menawarkan cara-cara baru untuk menghadapkan manusia dengan pesan Injil.[8] Selanjutnya, ia mengatakan, “Gereja akan merasa bersalah di hadapan Kristus bila gagal menggunakan media untuk evangelisasi.”[9]
Konsili Vatikan II: Dalam Dekrit Konsili tentang Media Komunikasi Sosial, ditegaskan bahwa media sosial dapat memberikan kontribusi kepada umat manusia dan Gereja dapat menggunakannya untuk menyebarkan Injil Kerajaan Allah.[10]
Paus Yohanes Paulus II: “Gereja belumlah cukup untuk menggunakan media sekedar untuk menyebarkan pesan Injil dan ajaran otentik Gereja. Namun juga perlu mengintegrasikan pesan Injil ke dalam kebudayaan baru yang diciptakan oleh komunikasi modern.”[11].
“[Meskipun dunia komunikasi sosial] sering nampak tidak cocok dengan pesan Kristiani, ia menawarkan kesempatan- kesempatan yang unik untuk mewartakan kebenaran yang menyelamatkan dari Kristus kepada seluruh keluarga besar umat manusia. Pertimbangkanlah …. kemampuan- kemampuan positif dari internet untuk menyampaikan informasi dan ajaran religius yang melampaui segala batas dan penghalang. Luasnya para pendengar akan menjadi sesuatu yang melampaui batas imajinasi mereka yang mewartakan Injil jauh sebelum kita …. Umat Katolik tidak perlu takut untuk membuka lebar- lebar pintu komunikasi sosial kepada Kristus, sehingga Kabar Gembira-Nya dapat terdengar dari atap- atap rumah di dunia.”[12]
Paus Benediktus XVI: menyerukan agar umat Katolik secara khusus kaum muda, untuk menggunakan media digital dalam memberitakan kabar gembira, yaitu: Tuhan yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat, dan bangkit untuk menyelamatkan kita manusia.[13]
Paus juga meminta agar para pastor mempergunakan media ini untuk melayani dunia, untuk memperkenalkan Gereja dan membawa wajah Kristus kepada dunia modern ini.[14]
Kemudian di tahun berikutnya, Paus kembali menyerukan agar kita sebagai umat Kristen menyerukan kebenaran di dalam dunia digital, bukan berdasarkan sensasi atau mencari popularitas, namun memberitakan Kristus sesuai dengan dinamika kehidupan saat ini, sehingga mereka sendiri dapat berhadapan dengan kebenaran, yang adalah Kristus sendiri.[15]

2. Kelebihan pewartaan dalam era digital

Jadi, secara umum, Gereja memandang media komunikasi sebagai peluang yang positif untuk mewartakan Kristus. Selain itu, ada beberapa hal yang merupakan kelebihan khas internet, yaitu:
a. Informasi dapat disampaikan dengan langsung, segera, bersifat interaktif dan mengundang partisipasi pembaca.[16]
b. Informasi interaktif dua arah ini mengakibatkan hal positif seperti menjadikan komunikasi
tidak kaku dan bersifat top-down, tetapi menjadi lebih hidup karena dapat terjadi dialog.[17]
c. Karena terbuka untuk umum, maka pendidikan/ pengajaran yang disampaikan melalui internet berpotensi untuk membentuk penilaian banyak orang tentang ukuran moral yang benar dan membentuk hati nurani yang benar[18]

3. Tantangan yang perlu diwaspadai

Namun ada beberapa tantangan yang perlu diwaspadai dalam penggunaan media komunikasi sebagai sarana pewartaan ini, yaitu:
a. Dapat menimbulkan kebingungan: Peluang interaksi/ dialog dua arah di internet juga dapat berpotensi menimbulkan kebingungan, karena pihak yang bertanya mempunyai kesempatan untuk menyampaikan pandangannya dengan bebas, sehingga semua pihak di sini sepertinya dapat sama- sama ‘berbicara’.[19] Untuk itu, penting untuk tetap diadakan kemungkinan melakukan moderasi, edit, seleksi, oleh pihak pengelola, agar tidak menimbulkan kebingungan bagi pembaca yang lain, tentang pihak manakah yang mewakili ajaran Gereja Katolik. Selain itu, pandangan dari pihak pengunjung yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik seyogyanya ditanggapi oleh pihak tuan rumah dengan menyampaikan ajaran Gereja Katolik. Untuk itu diperlukan komitmen dari pihak pengelola situs/ blog, untuk mempelajari ajaran resmi Gereja Katolik.
b. Antipati dari dunia terhadap nilai-nilai Kristiani: Dunia media kadang sangat anti terhadap ajaran iman dan moral Kristiani. Ini disebabkan karena pandangan umum yang menganggap tidak adanya yang disebut kebenaran mutlak, dan bahwa semua pendapat adalah benar (relativisme).[20]  Waspada terhadap adanya gejala ini, saat mewartakan hal yang berkaitan dengan iman dalam media, kita perlu mengambil informasi dari sumber-sumber Katolik yang dapat dipercaya dan tidak asal cut and paste saja dari berita sekular, yang kadang malah bernada melecehkan Gereja Katolik dan ajarannya. Kita juga harus selektif dalam memilih berita yang ingin disampaikan, dan dalam dialog kita harus berani menyampaikan kepenuhan kebenaran tanpa bersembunyi di balik pernyataan, “ya semua agama/ gereja sama saja.” Sebab memang ada unsur-unsur kebenaran di dalam agama- agama/ gereja-gereja lain, tetapi kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik[21]
c. Penyerangan terhadap kelompok agama: Adanya banyak situs di internet yang ditujukan untuk menyerang kelompok- kelompok agama ataupun budaya tertentu, tak terkecuali yang menyerang Gereja Katolik[22]. Terhadap hal ini ada setidaknya tiga macam akibat bagi pembaca: mengacuhkannya, menjadi terpengaruh olehnya, atau menjadi terdorong untuk mencari tahu fakta yang sesungguhnya dari sumber yang netral dan dari sisi Gereja Katolik. Kita sebagai katekis selayaknya mempunyai sikap yang terakhir ini.
d. Mementingkan opini pribadi: Bermunculannya situs- situs yang menamakan dirinya Katolik tetapi tidak menyampaikan informasi yang sungguh sesuai dengan posisi otentik Gereja Katolik. Walau mungkin didirikan dengan maksud yang baik namun dapat terjadi yang disampaikan di sana adalah pandangan pribadi yang eksentrik/ berbeda dengan ajaran resmi Gereja Katolik[23].
e. Pilih-pilih ajaran: Adanya kecenderungan dari pihak umat Katolik sendiri yang memilih-milih ajaran yang mau ditaatinya dan mana yang ingin ditolaknya[24]. Hal ini perlu diwaspadai, bahkan oleh pihak pengelola situs/ blog, supaya jangan sampai ia sendiri termasuk di dalam golongan ini, dan dengan demikian menjadi selektif dan bias dalam menyampaikan informasi, dan tanpa disadari memasukkan opini pribadi yang mempertanyakan atau bahkan menentang ajaran resmi Gereja Katolik. Misalnya, pandangan seperti: umat Katolik harus menjadi vegetarian, harusnya Gereja menahbiskan imam wanita, harusnya perayaan Misa lebih spontan dan tak perlu pedoman, dst.
f. Lupa akan realitas: Realitas dunia maya ini tidak bisa menggantikan realitas sakramen, dan kegiatan-kegiatan penyembahan dalam komunitas gerejawi[25]. Jadi jangan sampai Internet menggeserkan kecintaan para pembaca dan pengelola terhadap sakramen dan interaksi sosial yang nyata antara umat beriman.

4. Beberapa rekomendasi dari Vatikan

Dengan adanya peluang yang besar di media internet, “Gereja dapat dengan lebih lagi memberitakan kepada dunia akan apa yang diimaninya dan menjelaskan alasan- alasannya tentang suatu hal atau kejadian. Ia dapat lebih lagi mendengar suara- suara pandangan publik dan masuk dalam diskusi yang berkesinambungan dengan dunia di sekelilingnya, dan karena itu melibatkan dirinya sendiri dengan lebih langsung di dalam pencarian bersama akan solusi-solusi terhadap masalah-masalah yang menekan umat manusia.”[26] Selanjutnya, mengingat peluang yang besar dan positif yang dapat diberikan oleh internet/ media komunikasi terhadap pewartaan Kristus, maka Gereja menyarankan:[27].
a. Kepada para pemimpin Gereja: Orang- orang yang menempati kepemimpinan Gereja di semua sektor harus memahami media, dan menerapkan pemahaman ini dalam pembentukan rencana pastoral untuk komunikasi sosial. Jika perlu mereka sendiri harus menerima pendidikan tentang media. Mereka harus memperhitungkan penggunaan media sebagai kesempatan bagi kegiatan kerjasama ekumenis dan antar-agama.
Sebagai langkah untuk mengatur maraknya situs yang menamakan diri Katolik tetapi sebenarnya bukan situs resmi (unofficial) yang berkaitan dengan otoritas Gereja, maka “sebuah sistem sertifikasi yang sukarela di tingkat lokal dan nasional di bawah supervisi wakil-wakil dari Magisterium akan dapat membantu, yang berkaitan dengan materi- materi yang mengandung sifat pengajaran atau kateketik. Ide ini bukan untuk menekan ataupun memberi sensor tetapi untuk menawarkan kepada para pengguna internet semacam patokan yang dapat dipercaya terhadap apa yang mengekspresikan posisi otentik Gereja.”[28]
b. Kepada petugas pastoral: Para imam, diakon, biarawan/biarawati dan pekerja awam di bidang pastoral harus mempunyai pendidikan media untuk meningkatkan pemahamannya akan pengaruh komunikasi sosial kepada setiap orang dan masyarakat. Mereka perlu mendapat pelatihan tentang internet dan bagaimana menggunakannya di dalam pekerjaan mereka. Mereka dapat memetik manfaat dari situs-situs yang menawarkan saran- saran teologis dan pastoral.
Kepada petugas Gereja yang secara langsung terlibat di media, mereka harus memperoleh pelatihan profesional, namun juga mempunyai formasi yang baik tentang pengajaran maupun spiritualitas. Sebab “untuk memberi kesaksian tentang Kristus, adalah penting untuk mengalami perjumpaan sendiri dengan Dia dan untuk memperdalam hubungan pribadi dengan Dia melalui doa, Ekaristi dan sakramen Pengakuan Dosa, membaca dan merenungkan Sabda Tuhan, mempelajari ajaran Kristiani dan melayani sesama.”[29]
c. Kepada para pendidik dan katekis: Sekolah- sekolah Katolik mempunyai tugas yang genting untuk melatih para komunikator dan penerima komunikasi sosial dengan prinsip- prinsip Kristiani. Universitas Katolik, kolese, sekolah dan program pendidikan di segala tingkat perlu memberikan kursus-kursus kepada berbagai kelompok: calon imam, imam, biarawan, biarawati, pemimpin awam, guru, orang tua dan murid- dengan pelatihan dalam hal teknologi komunikasi, manajemen dan etika untuk mempersiapkan pekerjaan media profesional atau peran pengambil keputusan, termasuk mereka yang bekerja di dalam komunikasi sosial bagi Gereja.
d. Kepada para orang tua: Demi anak- anak dan diri mereka sendiri, orang tua harus memainkan peran sebagai supervisor bagi anak- anak mereka dalam menggunakan internet. Orang tua harus memberikan contoh yang bijaksana untuk menggunakan media di rumah mereka. Supervisi ini termasuk memastikan digunakannya sistem filter/ penyaringan di dalam komputer yang digunakan oleh anak- anak, agar melindungi mereka sedapat mungkin dari pornografi dan sejenisnya. Anak- anak tak dapat diperbolehkan untuk menjelajahi internet tanpa pengawasan orang tua. Orang tua dan anak harus berdialog tentang informasi apa yang boleh dilihat. Tugas mendasar dari para orang tua adalah agar membantu anak menjadi selektif dan menjadi pengguna internet yang bertanggungjawab dan agar tidak menjadi pecandu internet dan mengabaikan kontak dengan teman- temannya dan dunia sekelilingnya.
e. Kepada anak- anak dan orang muda: Anak- anak dan orang muda harus terbuka terhadap pendidikan sikap terhadap media, agar dapat menolak godaan terbawa arus, terbawa bujukan teman- teman dan eksploitasi komersial. Mereka harus diarahkan untuk menggunakan internet dengan bertanggungjawab, dan agar tidak terjerumus ke dalam konsumerisme, pornografi dan fantasi-fantasi kekerasan dan pengucilan diri.
f. Kepada semua orang yang berkehendak baik: disarankan agar menumbuhkan beberapa kebajikan untuk menggunakan internet:
1. Kebijaksanaan: untuk dapat melihat dengan jelas adanya pengaruh yang baik atau buruk, dan untuk menanggapi dengan kreatif peluang maupun kesempatannya.
2. Keadilan: untuk memperkecil jarak antara mereka yang kaya akan informasi dan yang kurang informasi di dunia ini.
3. Keperkasaan dan keberanian: untuk berani menyatakan kebenaran di hadapan pandangan relativisme, kemurahan hati di hadapan konsumerisme, kesopanan di hadapan sensualitas dan dosa.
4. Pengendalian diri: untuk mendisiplinkan diri sendiri agar dapat menggunakannya dengan bijak dan hanya untuk kebaikan.

V. Langkah-langkah konkret untuk mewartakan

Setelah kita melihat apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus, kondisi dunia ini, dukungan Gereja terhadap penggunaan media, serta beberapa pedoman yang diberikan Gereja, maka mari sekarang kita melihat beberapa langkah konkret yang dapat kita lakukan. Didorong ingin cepat bertindak dan mengedepankan kepraktisan, banyak orang memikirkan program-program atau aktivitas-aktivitas yang harus segera dijalankan. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa jika badai menerjang, rumah yang didirikan di atas pasir akan hancur berantakan, dan sebaliknya rumah yang didirikan di atas batu akan tetap berdiri kokoh. (lih. Mat 7:24-27) Demikian juga dapat pewartaan lewat dunia digital, langkah pertama adalah membuat pondasi yang kokoh. Pondasi yang kokoh adalah pondasi spiritual. Pondasi spiritual ini adalah merupakan jiwa dari karya kerasulan di dalam media digital.

1. Pondasi spiritual

a. Pertobatan: Kita mungkin bertanya-tanya, mengapa untuk melakukan pewartaan, kita harus bertobat terlebih dahulu. Kita dapat belajar dari rasul Paulus, yang menunjukkan bahwa setelah pertobatannya yang luar biasa dalam perjalanan ke Damsyik, dia dapat mewartakan Tuhan dengan luar biasa (lih. Kis 9:1-22). Sebagian dari kita, mungkin telah mengalami pertobatan pertama, yaitu pertobatan yang menuntun kita pada Sakramen Pembaptisan. Namun, pertobatan yang kedua (KGK, 1428) atau pertobatan secara terus menerus diperlukan sehingga kita senantiasa dalam kondisi rahmat. Dan dalam hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kita menyampaikan kebaikan Tuhan dengan lebih benar dan indah.
b. Kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama: Dua perintah utama ini harus menjadi dasar dari karya kerasulan ini. Jangan pernah berfikir bahwa karya kerasulan adalah merupakan tujuan (end). Semua karya kerasulan hanyalah cara (means) untuk mengasihi Kristus dan Gereja-Nya, yang diwujudkan dengan mengasihi sesama. Kecintaan kita kepada Kristus dan Gereja-Nya merupakan perwujudan bahwa kita mengasihi Kristus secara keseluruhan. Karena Kristus sebagai Mempelai Pria mengasihi Mempelai wanita-Nya, yaitu Gereja, maka kita juga harus mengasihi Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik. Di sisi lain, kita mengasihi sesama, karena Kristuslah yang terlebih dahulu mengasihi mereka, yang menginginkan agar semua orang diselamatkan (lih. 1Tim 2:3-4). Kita dapat belajar bagaimana Rasul Paulus sungguh-sungguh mengasihi Kristus namun pada saat yang bersamaan dia bersedia melakukan apa saja demi keselamatan umat Allah (lih. Flp 1:23-24)).
c. Berakar pada Sakramen, Sabda Allah, doa: Kalau kita benar-benar mengasihi Allah, maka kita senantiasa mendalami Allah, seperti yang dinyatakan-Nya dalam Kitab Suci. Dan kalau kita mengasihi Allah, maka kita akan menimba rahmat-Nya yang mengalir melalui sakramen- sakramen – terutama Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat – serta bercakap-cakap dengan Allah dalam doa-doa pribadi. Kita harus belajar dari Rasul Paulus untuk mengucap syukur senantiasa dalam segala hal, terutama dalam Perjamuan Suci (lih. 1 Kor 10:16; Ef 5:4). Kalau sampai hal-hal ini dilupakan dan waktu yang ada hanya digunakan untuk melakukan karya kerasulan di dunia digital, maka lama kelamaan, kita akan menjadi lemah, karena kehilangan jiwa dan alasan utama untuk melakukan semua ini.
d. Mohon rahmat kerendahan hati dan kebijaksanaan: Dalam melakukan karya kerasulan, kita perlu meminta rahmat agar diberikan kerendahan hati. Kerendahan hati memungkinkan kita untuk menempatkan kebenaran yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik di atas pengertian kita sendiri; dan pada saat yang bersamaan mencoba dengan segala kekuatan untuk menerima kebenaran tersebut – walaupun mungkin sulit – dengan sukacita dan menjalankannya dalam hidup sehari-hari. Mengetahui kebenaran adalah satu hal, namun menyampaikan kebenaran adalah hal yang berbeda. Kita harus meminta rahmat kebijaksanaan, sehingga kita dapat menyampaikan kebenaran dengan tepat, hormat dan lemah lembut, tanpa mengorbankan kebenaran, namun justru memperkuat kebenaran yang disampaikan.

2. Pondasi intelektual

Mempelajari iman Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium Gereja: Kalau kita menyadari bahwa karya kerasulan dalam dunia digital adalah untuk mewartakan Kristus dan Gereja-Nya, maka kita juga harus menggali sumber-sumber yang menjadi pilar kebenaran, baik Kitab Suci, Tradisi Suci maupun Magisterium Gereja. Dengan menggali dasar kebenaran tersebut secara terus-menerus, maka kita akan dapat mewartakan kebenaran sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Gereja. Kita minta karunia Roh Kudus, yaitu karunia pengertian, sehingga kita dapat masuk lebih dalam misteri iman.
Mengikuti keputusan Magisterium: Sangat penting kita benar-benar mempelajari apa yang sebenarnya diajarkan oleh Magisterium Gereja. Semakin kita mengetahui apa yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik – yang mendasarkan dogma dan doktrin berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci – maka kita akan semakin mewartakan apa yang sesungguhnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Dan dengan kerendahan hati, kita harus menerima, bahwa apa yang telah diputuskan oleh Magisterium Gereja sesungguhnya merupakan kebenaran, yang tentu saja harus kita ikuti.

3. Metode pewartaan

Setelah kita mengetahui pondasi spiritual dan intelektual, maka kita dapat mulai memikirkan tentang metode yang dapat kita lakukan. Dari sikap Gereja Katolik tentang media yang telah dipaparkan di atas, serta meneladani semangat Rasul Paulus yang menggunakan segala cara agar dapat memperkenalkan Kristus kepada segala bangsa, kita harus melihat kesempatan dan keadaan di mana Tuhan menempatkan kita sebagai peluang. Sebab penggunaan media komunikasi dapat menghubungkan orang- orang di dalam keluarga, sekolah, pergaulan, pekerjaan, dan kehidupan sehari- hari lainnya, dan ini merupakan kesempatan yang baik untuk menaburkan benih Injil. Hal tersebut dapat kita lakukan melalui beberapa cara:
Telpon, BBM, SMS, E-mail dan Milis: Hal yang paling sederhana yang dapat dilakukan oleh hampir semua orang adalah menelpon teman yang membutuhkan penghiburan, mengirim e-mail, SMS atau BBM ayat- ayat maupun permenungan Kitab Suci. Dalam kategori ini, kita dapat juga membuat milis. Sebagai contoh dalam kelas katekumen, baik juga jika kita sebagai katekis dapat meminta alamat e-mail para katekumen, sehingga tiap- tiap hari/ secara berkala katekis dapat mengirimkan ayat- ayat Kitab Suci atau renungan harian, ataupun penjelasan tentang pokok-pokok iman Katolik.
Facebook, Twitter: Mulai membuat facebook atau twitter dan menceritakan bagaimana Kristus hidup dalam kejadian sehari-hari, serta bagaimana merefleksikan bacaan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Lihat contoh twitter dari Vatikan:  https://twitter.com/news_va_en
Membuat website atau blog: Dewasa ini, membuat website atau blog pribadi, entah dengan Blogger, Wordpress, Joomla, dll sangatlah mudah dan tidak memerlukan biaya banyak. Semua umat Katolik dapat mulai dengan menceritakan pengalaman- pengalaman iman, sehubungan dengan apa yang dialaminya sehari-hari. Dan bagi yang mempunyai pengetahuan yang lebih di bidang iman – baik awam maupun klerus – dapat mulai untuk memaparkan iman Katolik secara lebih mendalam. Silakan melihat website Vatikan: http://vatican.va
Membuat forum: Membuat forum Katolik juga menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan Kristus dan Gereja-Nya. Di satu sisi, forum dapat memberikan daya tarik bagi pengunjung untuk memberikan opini dan membangun dialog. Namun, di sisi yang lain, tanpa moderator forum yang baik, maka diskusi dapat menjadi liar dan tidak terarah.
Youtube: Salah satu media komunikasi adalah film. Dan dalam era internet ini, kita semua dapat menampilkan video melalui youtube. Isilah dengan kesaksian iman, pendalaman iman, kegiatan anak-anak muda dalam paroki maupun dalam tingkat keuskupan. Lebih jauh media ini juga dapat dimanfaatkan untuk merekam tahap-tahap dalam melakukan katekese, baik secara terstruktur atau per topik bahasan. Vatikan sendiri mempunyai channel youtube: http://www.youtube.com/user/vatican
Applikasi mobile: Dewasa ini telepon pintar (smartphone), seperti iphone, blackberry, telepon dengan OS Android telah merajalela di Indosia. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk membuat applikasi mobile, sehingga umat Katolik dapat mengakses informasi tentang iman Katolik di mana saja, termasuk pada waktu menghadapi kemacetan.

VI. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa kondisi dunia ini penuh dengan arus informasi dan teknologi untuk berkomunikasi. Gereja mempunyai tugas untuk menggunakan kesempatan ini untuk mewartakan Kristus. Teknologi saja tidaklah cukup. Kita perlu meniru Rasul Paulus yang dipenuhi dengan kasih Allah; dan yang mempunyai kerinduan besar untuk membagikannya bagi semua orang, bukan hanya umat Yahudi namun kepada seluruh umat manusia. Demikianlah kita dipanggil untuk mewartakan Kristus, tidak saja kepada umat Katolik, tetapi juga kepada semua orang yang  berkehendak baik. Pengorbanan yang kita lakukan tidaklah sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan oleh Rasul Paulus. Namun demikian, sebagai umat Allah yang telah menerima Sakramen Baptis, kita mengemban tugas yang sama untuk mewartakan Kristus, walaupun dengan cara dan porsi yang berbeda-beda. Akhirnya, biarlah kata-kata dari Paus Yohanes Paulus II dapat memberikan inspirasi di dalam hati kita untuk melakukan pewartaan di dunia digital ini.
“Semoga umat Katolik yang terlibat di dunia komunikasi sosial mewartakan kebenaran akan Yesus dengan lebih berani dari atap- atap rumah, sehingga semua orang dapat mendengar tentang kasih yang adalah jantung hati komunikasi Allah sendiri di dalam Yesus Kristus, yang tetap sama kemarin, dan hari ini, dan selamanya.”[30]
[Catatan: Artikel ini dibuat untuk retret Hari Studi Katekis Keuskupan Surabaya “Seandainya Rasul Paulus Hidup di Zaman Digital ini, apa yang akan Dia lakukan Untuk Pewartaannya?”, yang diselenggarakan di Wisma Hening Katarina, Pohsarang, Kediri 24-26 Oktober 2011]

CATATAN KAKI:
  1. lih. Katekismus Gereja Katolik 82 [↩]
  2. lih. Paus Pius X, Pascendi Dominici Gregis, 39 [↩]
  3. lih. Paus Benediktus XV, Ad Beatissimi Apostolorus, 25 [↩]
  4. lih. Pontificum Consilium de Communicationibus Socialibus, Aetatis Novae, 6 [↩]
  5. Terjemahan The Church and Internet, 5, mengutip Aetatis Novae, 9 [↩]
  6. Ensiklik Miranda Prorsus [↩]
  7. Communio et Progressio,  2 [↩]
  8. Ibid., 128 [↩]
  9. Evangelii Nuntiandi, 45 [↩]
  10. Konsili Vatikan II, Inter Mirifica, 2 [↩]
  11. Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio, 37 [↩]
  12. Paus Yohanes Paulus II, Pesan di Hari Komunikasi Sedunia, 3, 37 Mei, 2001 [↩]
  13. Paus Benediktus XVI, Pesan di Hari Komunikasi Sedunia (HKS) ke-43, 24 Mei 2009 [↩]
  14. Paus Benediktus XVI, Pesan di HKS ke-44,16 Mei 2010 [↩]
  15. Paus Benediktus XVI, Pesan di HKS ke-45, 2011 [↩]
  16. lih. Pontifical Council for Social Communication, The Church and Internet, 6 [↩]
  17. Ibid. [↩]
  18. The Church and Internet, 7 [↩]
  19. Lih. The Church and Internet, 8 [↩]
  20. Ibid [↩]
  21. lih. Konsili Vatikan II, Nostra Aetate, 2 dan  Unitatis Redintegratio, 3 [↩]
  22. lih. The Church and Internet, 8 [↩]
  23. Ibid [↩]
  24. lih. The Church and Internet, 9 [↩]
  25. Ibid [↩]
  26. Paus Yohanes Paulus, Pesan di Hari Komunikasi Se-dunia ke 24, 1990 [↩]
  27. lih. The Church and Internet, 11 [↩]
  28. Ibid [↩]
  29. Paus Yohanes Paulus II, Pesan Hari Komunikasi Sedunia ke- 34, 2000 [↩]
  30. Paus Yohanes Paulus II, Pesan Hari Komunikasi Sedunia ke-35, n.4 [↩]
Ditulis oleh Stefanus Tay & Ingrid Tay pada 23 10 11 Disimpan dalam Artikel, Hal Kontemporer, Misi Evangelisasi. 

Sumber utama: http://katolisitas.org/2011/10/23/pewartaan-kristus-di-zaman-digital-dengan-semangat-rasul-paulus/

Dua Perintah Utama: Mengasihi Tuhan dan Mengasihi Sesama

PEMBAHASAN
  • I. Dua Perintah Utama yang sering kita dengar namun sulit untuk dilaksakan secara sempurna
  • II. Bacaan Matius 22:34-40
  • III. Telaah Matius 22:34-40
  • 1. Perintah ganda untuk mengasihi adalah merupakan hukum kodrat
  • 2. Mengapa harus mengasihi?
  • 3. Tuhan memampukan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi
  • 4. Tiga tingkatan kasih
  • IV. Ajakan untuk mengasihi adalah panggilan untuk hidup kudus
  • V. Mari mengasihi

 

I. Dua Perintah Utama yang sering kita dengar namun sulit untuk dilaksakan secara sempurna

Bacaan di minggu ke-30 tahun A ini, Gereja memberikan bacaan dari Kel 22:20-26; Mzm 18:2-4,47,51; 1Tes 1:5-10; Mat 22:34-40. Perikop dari Mat 22:34-40, yang juga dituliskan di Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28, terasa sangat akrab di telinga kita, karena sering kita dengar dan sering didengungkan dari mimbar, dan lebih tepatnya, karena di dalam dua perintah itu – mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama – terletak seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Namun, meskipun dua perintah ini sangat sering kita dengar, namun mungkin sangat sulit untuk dilaksanakan. Padahal, kalau kita teliti, manusia secara kodrati dapat mengasihi Tuhan dan sesama. Kodrat ini diangkat derajatnya oleh rahmat Allah dalam Sakramen Baptis, sehingga manusia dapat mengasihi Allah secara lebih sempurna (adi-kodrati), yang berakibat kemampuan yang lebih untuk dapat mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan dan sesama, itulah perintah dari Tuhan sendiri, yang menuntun manusia untuk dapat memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan dapat mengantar manusia ke dalam Kerajaan Sorga.

II. Bacaan Matius 22:34-40

34.  Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
35.  dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
36.  “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
37.  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40.  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

III. Telaah Matius 22:34-40

Dari perikop Mat 22:34-40, kita dapat melihat secara gamblang bahwa inti bacaan tersebut adalah jawaban Yesus bahwa hukum yang terutama dalam hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Di perikop sebelumnya – Mat 22:23-33 – kita melihat bahwa Yesus telah memberikan jawaban yang tepat, sehingga orang-orang Saduki yang bertanya tentang kebangkitan badan tidak dapat berkutik lagi. Walaupun orang-orang Farisi senang (lih. Mrk 12:38; Luk 20:39)  bahwa orang-orang Saduki, yang berseberangan dengan mereka akhirnya bungkam karena jawaban Yesus, namun mungkin mereka juga kecewa karena keinginan mereka untuk menjebak Yesus ternyata tidak berhasil. Dan kemudian di ayat 24-25, kita tahu bahwa mereka berkumpul merancang pertanyaan untuk menjebak Yesus. Mungkin, jebakan kaum Farisi telah dirancang dengan sangat hati-hati, karena jebakan pertanyaan mereka tentang membayar pajak kepada kaisar (lih. Mat 22:15-22) telah gagal.
Kali ini, mereka bertanya tentang sesuatu yang dipandang sungguh sulit, yaitu “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ay. 36) Yesus kemudian menjawab bahwa hukum yang terutama dan pertama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (ay.37-38) dan hukum yang kedua adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (ay.39). Dengan jawaban ini, maka Yesus telah merangkum semua hukum Taurat, yang disebutkan dalam Ul 6:5 dan Im 19:18.

1. Perintah ganda untuk mengasihi adalah merupakan hukum kodrat

Kalau kita meneliti sepuluh perintah Allah (Kel 20:1-17), maka kita dapat melihat bahwa hukum-hukum di dalam 10 perintah Allah adalah merupakan penjabaran dari hukum kodrat yang sempurna. Hukum kodrat ini adalah hukum atau peraturan yang terpatri di dalam setiap hati manusia. Dalam sepuluh perintah Allah, kita dapat melihat adanya perintah kasih dalam dua kelompok, yaitu hukum 1-3 adalah perintah untuk mengasihi Tuhan dan hukum 4-10 adalah perintah untuk mengasihi sesama. Urutan ke-10 perintah Allah tidak diberikan atas dasar kebetulan, tetapi menurut St. Thomas Aquinas, memang ada alasannya tergantung dari tingkatan prioritasnya.[1] Untuk mengasihi Allah, kita harus melakukan tiga hal, yaitu: (1) Tidak boleh mempunyai Allah lain, yang dituliskan: Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala Sesuatu; (2) Harus memberikan kepada Allah penghormatan, yang dituliskan: Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat; (3) Kita harus beristirahat di dalam Tuhan, yang dituliskan: Kuduskanlah hari Tuhan. Dan untuk membuktikan kasih kita kepada Allah, maka kita harus mengasihi sesama seperti yang dijabarkan dalam perintah 4-10, yaitu: (1) Kita harus mengasihi orang tua kita, yang dituliskan: Hormatilah ibu-bapamu; (2) Kita tidak boleh melukai sesama kita dengan perbuatan – baik dengan melukai seseorang, yang dituliskan: jangan membunuh; atau merusak perkawinan seseorang, yang dituliskan: Jangan berzinah; atau mengambil barang atau harta milik sesama, yang dituliskan: Jangan mencuri; (3) Kita tidak boleh melukai sesama kita dengan perkataan dan pikiran – melukai dengan perkataan, yang dituliskan: Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu; melukai sesama dengan pikiran, yang dituliskan:  Jangan mengingini istri sesamamu dan Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.
Penjelasan yang lain dari 10 perintah Allah adalah, dalam mengasihi Allah, maka kita harus mempunyai (1) kesetiaan, (2) penghormatan, dan (3) pelayanan; dalam mengasihi sesama, kita harus (4) menjalankan tugas untuk wakil Tuhan di dunia ini dan menjalankan tugas untuk diri sendiri dan sesama dalam (5) melindungi kehidupan, (6) kemurnian, (7) harta milik, (8) kehormatan, (9 dan 10) melindungi kehidupan keluarga.
Sepuluh perintah Allah diberikan secara khusus dan ditulis di atas dua loh batu kepada bangsa Israel. Namun, perintah ini sesungguhnya bukan hanya dituliskan di atas dua loh batu, namun juga dituliskan oleh Tuhan di dalam setiap hati manusia, baik bangsa Israel maupun bangsa lain. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, rasul Paulus menegaskannya demikian “14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Rom 2:14-15) Ayat ini menunjukkan bahwa semua orang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi sebenarnya terikat oleh hukum taurat, yang intinya adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Dan memang itulah kodrat manusia.

2. Mengapa harus mengasihi?

Kalau manusia diciptakan dengan kodrat untuk dapat mengasihi Allah dan mengasihi sesama, maka pertanyaannya adalah mengapa Allah menciptakan manusia dengan kodrat seperti ini? Jawabnya adalah karena kita menemukan kebahagiaan kita di dalam kasih kepada Tuhan, dan tidak di dalam hal-hal lain, seperti: uang, kehormatan, kekuasaan, kesenangan, bahkan juga kebajikan. Pembahasan tentang hal ini, sudah pernah ditulis di artikel: Kebahagiaan kita hanya ada dalam Tuhan, silakan klik. Maka kalau kita ingin mendapat penghiburan dan kekuatan di dalam hidup ini kita harus kembali kepada Tuhan, kita harus mengasihi Tuhan.
Cobalah kita cari orang yang terlihat sebagai orang yang paling berbahagia di dunia: tiliklah, apakah dia mengasihi Tuhan? Sebab jika ia tidak mengasihi Tuhan, ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh berbahagia. Itulah sebabnya banyak di antara orang-orang yang demikian kemudian dapat melakukan hal-hal yang tragis dalam hidup mereka. Sedangkan sebaliknya, jika kita menemukan orang kelihatannya paling tidak bahagia di mata dunia, namun kalau ia mengasihi Tuhan, maka ternyata ia adalah orang yang paling bahagia, dalam arti yang sesungguhnya, dalam segala sesuatu. Maka sudah selayaknya kita berdoa memohon agar Tuhan membuka mata hati kita agar dapat mencari kebahagiaan di mana kita dapat sungguh menemukannya, yaitu di dalam Tuhan sendiri.
Alasan lain, mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan kodrat untuk mengasihi adalah karena tanpa kasih, manusia tidak dapat mencapai Sorga. Begitu pentingnya kasih, sehingga rasul Yohanes mengatakan “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” (1Yoh 3:14b) Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa untuk mendapatkan keselamatan, maka tidak ada cara lain, kecuali mengasihi. St. Agustinus menegaskan bahwa sama seperti manusia mempunyai dua kaki untuk berjalan, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat mencapai Sorga. Sama seperti burung mempunyai dua sayap untuk terbang, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat terbang ke Sorga. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa sama seperti orang-orang kudus di Sorga mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya, maka kita juga harus melakukan hal yang sama di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan. Dari sini, kita dapat melihat bahwa mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama sesungguhnya tidak terpisahkan. Rasul Yohanes menegaskan hal ini secara gamblang “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20)

3. Tuhan memampukan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi

Perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi adalah mengasihi Tuhan dengan keseluruhan diri kita, menempatkan Tuhan lebih utama dalam segala sesuatu, di mana saja, setiap saat dan dalam segala kondisi. Dan kalau bukti kasih kita kepada Tuhan dan tanda kita berdiam di dalam Allah adalah dengan menuruti segala perintah Tuhan (lih. 1John 2:3; 1Yoh 3:24), maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya perintah ini sangat berat bagi manusia. Namun, Tuhan tidak akan memberikan perintah yang mustahil, karena Dia menegaskan bahwa kuk yang dipasang-Nya adalah enak dan ringan. (lih. Mat 11:29)
Kunci dari kemampuan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama adalah karena Allah telah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Kita yang telah dibaptis telah menerima rahmat Allah yang begitu besar, seperti: menjadi putera/i Allah di dalam Kristus, disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, dibebaskan dari dosa asal, menerima rahmat pengudusan, tiga kebajikan ilahi dan tujuh karunia Roh Kudus. Rahmat dari Allah kemudian diperkuat dengan rahmat yang mengalir dari sakramen-sakramen yang lain, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dengan bekal rahmat Allah yang begitu luar biasa ini, maka sesungguhnya umat Allah telah dimampukan untuk dapat mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, sehingga pada akhirnya dapat mengasihi sesama dengan lebih baik lagi.

4. Tiga tingkatan kasih

Apakah setiap orang dapat mengasihi Tuhan dengan derajat yang sama? Sama seperti adanya tingkatan dalam segala hal, maka setiap orang dapat mengasihi Allah dengan derajat yang berbeda-beda. Namun, menjadi tujuan dari umat Allah, agar kita semua dapat mengasihi Tuhan dalam derajat yang sempurna. Dari buku Christian Perfection and Comtemplation: According to St. Thomas Aquinas anda St. John of the Cross karangan Reginald Garrigou Lagrance dan dari tulisan St. Thomas Aquinas pada Summa Theology, II-II, q.34, a.9., maka kita dapat melihat tingkatan kasih:
a. Tingkatan pemula (beginners atau purgative). Pada tingkatan ini, seseorang berusaha agar dia tidak jatuh ke dalam dosa berat, dan juga berusaha untuk melawan kelemahan dan kecenderungan berbuat dosa (concupiscences). Dalam tahap ini, seseorang masih berfokus pada bagaimana caranya untuk menghindari dosa-dosa yang dulunya sering dia lakukan. Sebagai contoh kalau seseorang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa melawan kemurnian, maka dia berjuang setengah mati agar dia tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: menghindari teman-teman yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa yang sama, menghindari tempat-tempat yang dapat membangkitkan keinginan untuk berbuat cabul, menghindari kesempatan-kesempatan untuk dapat melakukan dosa tersebut. Orang ini menyadari bahwa kalau dia jatuh ke dalam dosa berat yang sama, maka dosa berat tersebut akan menghancurkan kasih. Dengan kata lain, orang-orang dalam tingkatan ini senantiasa berusaha menghindari dosa berat.
b. Tahap kedua (Illuminative Way). Pada tahap ini, seseorang bukan lagi berfokus pada menghindari dosa, melainkan pada bagaimana bertumbuh dalam kebaikan. Mereka membuat kemajuan spiritualitas dalam terang iman dan kontemplasi. Seseorang pada tahap ini mulai berfikir apa yang dapat dilakukannya untuk dapat semakin memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Dia tidak lagi memikirkan untuk menghindari dosa pornografi sebab pornografi tidak menjadi godaan yang dapat menarik hatinya. Namun dia mulai berfikir, bagaimana dia dapat memberikan kebaikan kepada sesama, sehingga dia dapat membantu orang-orang yang mempunyai ketergantungan terhadap pornografi (dan dosa- dosa berat lainnya). Orang yang dalam tahap ini, bukan hanya berfikir untuk menghindari dosa berat, namun juga dia mencoba mengarahkan hidupnya dan hidup sesamanya kepada Tuhan. Dia mencoba untuk menghilangkan kecenderungan-kecenderungan di dalam dirinya yang menghalanginya untuk bersatu dengan Tuhan. Dia bertumbuh dalam kasih dengan cara berbuat kasih.
c. Tahap sempurna (Univitive Way / Heroic Love). Dalam tahap ini, seseorang secara sadar tidak mau dan dengan segala kekuatannya berusaha untuk menghindari dosa-dosa yang kecil (venial sins) sekalipun. Walaupun kadang dia masih melakukan dosa kecil, namun dosa-dosa kecil ini terjadi dengan tidak disengaja. Secara aktif dia mencoba menghilangkan apa yang tidak sempurna dalam dirinya, sehingga seluruh akal budi, perbuatan dan perkataannya ditujukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Dia setia terhadap inspirasi dari Roh Kudus, dan menjalankan semua hal, termasuk hal-hal kecil dengan kasih yang besar. Dia sekaligus lemah lembut namun juga kokoh dalam imannya. Dia memandang rendah hal-hal dunia ini, dan secara aktif dan terus-menerus mempunyai kontemplasi terhadap hal-hal ilahi. Dia mempunyai hati yang besar (magnanimity), sehingga membuatnya dapat menyingkirkan hal-hal dunia agar dia dapat semakin bersatu dengan Tuhan. Bahkan, dia menginginkan persatuan abadi dengan Kristus melebihi apapun di dunia ini. Dalam tahap ini, seseorang juga mempunyai derajat kerendahan hati yang sempurna. Walaupun kehidupan spiritualitasnya berkembang dengan sempurna, namun dia justru melihat dirinya yang paling rendah dari manusia lain. Karena hidupnya senantiasa dipenuhi dengan sinar ilahi, maka dia dapat melihat apa-apa yang tidak sempurna dalam dirinya secara jelas dan pada saat yang bersamaan dia melihat Allah yang adalah segalanya. Dalam kondisi seperti inilah, maka orang dalam derajat kasih yang tertinggi juga akan mempunyai derajat kerendahan hati yang tertinggi.
Yang mungkin tidak kalah pentingnya adalah tiga tingkat kesempurnaan kasih di atas juga berhubungan dengan kasih terhadap sesama. Dalam tingkat awal, seseorang akan mengasihi orang -orang yang ia kenal tanpa mengabaikan orang-orang lain. Di tingkat kedua, seseorang dapat mengasihi orang-orang asing yang tidak dikenalnya. Dan di tingkat kesempurnaan, ia dapat mengasihi musuh-musuhnya. Yang perlu juga menjadi catatan adalah seseorang dapat bertumbuh dari tingkat awal ke tingkat yang lebih tinggi, namun orang juga dapat jatuh dari tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang paling awal. Hanya rahmat Allah dan kesediaan untuk terus bekerjasama dengan rahmat Allah, dan juga tujuh karunia Roh Kudus, yang memungkinkan seseorang untuk mencapai kesempurnaan kasih.

IV. Ajakan untuk mengasihi adalah panggilan untuk hidup kudus

Mengasihi Allah dan sesama merupakan hukum yang terutama bagi umat beriman, dan merupakan panggilan yang diserukan oleh Gereja kepada semua orang yang berkehendak baik. Ini jelas disebutkan di dalam Konsili Vatikan II, tentang Gereja, di bab V, mengenai Panggilan Umum untuk Kesucian dalam Gereja:
“Tuhan Yesuslah Guru dan Teladan ilahi segala kesempurnaan. Dengan kesucian hidup, yang dikerjakan dan dipenuhi-Nya sendiri, Ia mewartakan kepada semua dan masing-masing murid-Nya, bagaimanapun juga corak hidup mereka: “Kamu harus sempurna, seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48). Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam, supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk 12:30), dan saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh 13:34; 15:12). Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan Yesus, dan dalam baptis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus membutuhkan belaskasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12).
Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang Kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian sedemikian ini sebuah kehidupan yang lebih manusiawi dapat dimajukan di dalam kehidupan masyarakat di dunia ini. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan merupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus.” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 40)
Selanjutnya silakan membaca artikel seri tentang Kesucian/ Kekudusan: Apa itu Kesucian/Kekudusan?; Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus; Refleksi Praktis tentang Kekudusan; Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan Menuju Kekudusan

V. Mari mengasihi

Dari pembahasan di atas, maka sudah seharusnya kita berjuang untuk melaksanakan perintah Kristus yang utama, yaitu untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ini adalah kekudusan yang kepadanya kita semua dipanggil, seturut dengan kehendak Allah (lih. 1Tes 4:3). Hanya dengan mengasihi, manusia dapat memperoleh arti hidup, yaitu kebahagiaan di dunia ini dan pada saatnya nanti, akan kebahagiaan abadi di Sorga. Mari, mulailah dan bertumbuhlah dalam kasih, sebab kita semua diciptakan untuk mengasihi.

CATATAN KAKI:
  1. St. Thomas Aquinas, The Aquinas Catechism : A Simple Explanation of the Catholic Faith by the Church’s Greatest Theologian (Manchester  N.H.: Sophia Institute Press, 2000), p.249-250 [↩]
Ditulis oleh Stefanus Tay pada 18 10 11 Disimpan dalam Artikel, Kitab Suci.

sumber utama:
http://katolisitas.org/2011/10/18/dua-perintah-utama-mengasihi-tuhan-dan-mengasihi-sesama/

Kamus Indonesia