Kalender Liturgi

Kamis, 21 Maret 2013

mendoakan kenangan

Mendoakan kenangan Ariditas 3 tahun lalu.

Sabtu, 09 Maret 2013

Jumat, 01 Maret 2013

Arti Emeritus

Emeritus adalah kata sifat positif yang digunakan untuk menunjuk seorang pensiunan profesor, uskup, Paus, atau profesional lainnya. Untuk perempuan sering digunakan kata "Emerita".

Dalam banyak kasus, istilah ini diberikan secara otomatis kepada semua orang yang pensiun pada peringkat tertentu. Untuk pensiunan profesor  hal ini sudah menjadi hal biasa.

Dalam kasus lain, digunakan ketika orang penting dalam sebuah profesi diberikan pensiun atau alih posisi sehingga mantan pangkat masih dapat digunakan dalam gelarnya. Ini sangat berguna untuk mempertahankan hak kekuasaan seseorang di dalam memberikan komentar, memberi ceramah, kuliah atau menulis subjek-subjek terkait dengan profesi mereka meskipun sudah pensiun. Kata ini bisa ditulis didepan gelar (Emeritus Profesor) atau dibelakan gelar (Profesor Emeritus).

Sebagai bentuk pangkat, biasanya "emeritus" ditempatkan sebelum nama seseorang (Professor Emeritus). Seperti sebutan Paus Emeritus, gelar kehormatan yang diberikan Gereja Katolik untuk Paus Benediktus XVI, yang mengundurkan diri pada 28 Februari 2013 pukul 20.00 waktu Vatikan Roma, atau 1 Maret 2013 pukul 02.00 WIB.

Kata Emerere terdiri dari awalan e- yang berarti "keluar dari" atau "dari" dan merēre yang berarti "mendapatkan". [1]

Referensi ^  A Press Lord Without a Rosebud  — "New York Times",17 Januari  1993.
Dan disadur juga dari wikipedia.

Selasa, 26 Februari 2013

Arti Latae sententiae

Latae sententiae adalah istilah Bahasa Latin yang digunakan di dalam Hukum Kanon Gereja Katolik Roma yang berarti secara harafiah "dijatuhi hukuman".

Secara resmi, sebuah hukuman latae sententiae secara langsung terjadi begitu hukum dilanggar.[1]

Sebuah hukuman latae sententiae bisa berbentuk salah satu dari tiga hal berikut: ekskomunikasi, interdiksi, atau penangguhan. Ekskomunikasi melarang dilakukannya hak-hak pembaptisan tertentu, dan bisa melibatkan pelarangan keikut-sertaan dalam acara-acara liturgi dan kepengurusan gereja, dan pelarangan penerimaan rahmat-rahmat gereja.[2][3] Sebuah interdiksi melibatkan pelarangan-pelarangan liturgis seperti ekskomunikasi, naun tidak memengaruhi keikut-sertaan di dalam kepengurusan gereja.[4] Penangguhan, yang memengaruhi hanya para anggota pengurus gereja, memengaruhi seluruh atau sebagian kuasa memerintah, kepengurusan, atau fungsi yang melekat pada suatu jabatan tertentu.[5]

Dalam undang-undang Hukum Kanon Katolik Roma yang berlangsung sekarang, terdapat delapan situasi dimana seseorang bisa menerima ekskomunikasi latae sententiae. Kecuali kondisi pengecualian yang ada di kanon 1321-1330[6] dapat dibuktikan, orang-orang dibawah ini menerima ekskomunikasi latae sententiae: seseorang yang murtad dari iman, seorang pengikut ajaran yang menentang ajaran gereja, atau suatu gerakan yang memecah gereja (skisma);[7] seseorang yang membuang benda-benda Ekaristi yang telah diberkati atau yang mengambil dan menyimpannya semua untuk tujuan yang mencemarkan kesuciannya;[8] seseorang yang menyerang Sri Paus secara fisik;[9] seorang imam yang mengampuni seseorang yang terlibat dalam dosa terhadap Printah Allah keenam (pelarangan akan perzinahan) kecuali di bawah ancaman bahaya kematian;[10] seorang uskup Gereja Katolik yang mentahbiskan seseorang menjadi uskup tanpa mandat Sri Paus, dan seseorang yang menerima pentahbisan darinya;[11] seorang penerima pengakuan dosa yang secara langsung melanggar kerahasiaan pengakuan dosa yang sangat suci;[12] seseorang yang mengadakan suatu aborsi yang lengkap;[13] dan para pelanggar hukum yang tidak berkenaan dengan hukum yang membentuk ekskomunikasi latae sententiae namun tanpa peran mereka pelanggaran terhadap hukum ini tidak akan terjadi.[14]

Pihak-pihak lain yang menerima ekskomunikasi latae sententiae berdasarkan dekrit kepausan diantaranya adalah: seseorang yang melanggar kerahasiaan pemilihan paus, atau yang mengganggunya dengan cara-cara seperti suap dan sebagainya;[15] seorang wanita yang ditahbiskan menjadi imam atau seorang uskup yang mentahbiskan seorang wanita menjadi imam.[16]

Referensi ^  "Can. 1314" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4V.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1331" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4X.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Excommunication" . Catholic Encyclopedia. New Advent. http://www.newadvent.org/cathen/05678a.htm . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1332" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4X.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1333" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4X.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Cann. 1321-1330" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4W.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1364" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P52.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1367" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P52.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1370" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P53.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1378" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P54.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1382" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P54.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1388" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P54.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1398" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P57.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  "Can. 1329" . Code of Canon Law. http://www.vatican.va/archive/ENG1104/__P4W.HTM . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  John Paul II. "Universi Dominici Gregis" . http://www.vatican.va/holy_father/john_paul_ii/apost_constitutions/documents/hf_jp-ii_apc_22021996_universi-dominici-gregis_en.html . Diakses pada 1 Juni 2008. ^  Vatican says will excommunicate women priests | International | Reuters

By http://en.m.wikipedia.org/wiki/Latae_sententiae#section_language

Minggu, 24 Februari 2013

wawancara Paus dengan penulis biografinya (bagian I)


Wawancara terakhir Paus Benediktus dengan Penulis Biografinya  Paus dan kondisi kesehatannya  «Saya adalah akhir dari yang lama dan awal dari yang baru »  « Pendengarannya menurun. Dia tidak bisa melihat dengan mata kirinya. Tubuhnya semakin kurus: penjahit mengalami kesulitan dalam menyelesaikan jubah yang baru »  Pertemuan terakhir kami terjadi sepuluh minggu yang lalu. Waktu itu Paus menerima saya di Istana Apostolik untuk melanjutkan pembicaraan kami yang ditujukan untuk penulisan biografinya. Pendengarannya menurun, mata kirinya tidak bisa melihat lagi, tubuhnya semakin kurus, sehingga penjahit mengalami kesulitan dalam menyelesaikan jubah yang baru. Ia menjadi lebih lemah, bahkan lebih ramah dan rendah hati, dari kesemuanya ia menjadi pendiam. Ia tidak tampak sakit, tetapi kelelahan yang telah menguasai seluruh dirinya, tubuh dan jiwa, semua tidak bisa lagi diabaikan.  Kami membicarakan tentang saat dirinya membelot dari pasukan Hitler; tentang hubungannya dengan kedua orangtuanya; tentang cd yang digunakannya untuk belajar banyak bahasa; tentang tahun-tahun fundamental-nya di Mons doctus*, sebuah bukit berisikan ajaran-ajaran di Freising di mana sejak 1000 tahun lamanya para Pemimpin Spiritual di sana diperkenalkan kepada Misteri Iman. Di sini ia telah memulai kotbah-kotbah awalnya di hadapan murid-murid sekolah, sebagai pastor paroki ia telah membantu para pelajar dan di dalam kedinginan ruang pengakuan dosa di Katedral ia telah mendengarkan penderitaan orang-orang. Pada bulan Agustus tahun lalu, selama wawancara di Castel Gandolfo yang berlangsung satu setengah jam, saya bertanya kepadanya berapa besar dirinya terpukul oleh kejadian Vatileaks. “Saya tidak jatuh ke dalam semacam keputusasaan atau nyeri yang universal - katanya - hanya bagi saya hal itu tampak tak terpahamkan. Bahkan menunjuk kepada pelakunya (Paolo Gabriele), saya tidak mengerti apa yang bisa diharapkan. Saya tidak mampu memahami psikologi-nya”. Bagaimanapun, ia mengaku, bahwa kejadian ini tidak membuatnya kehilangan kompas juga tidak merasa lelah atas peranannya, “karena hal itu dapat kapanpun terjadi”. Yang penting baginya adalah bahwa di dalam elaborasi kasus itu “di Vatikan terjamin kemerdekaan dari keadilan, dimana raja tidak mengatakan: sekarang aku akan mengatasinya!”.  Belum pernah saya melihat dirinya begitu lelah, begitu terkonsumasi. Dengan tenaganya yang tersisa ia telah menyelesaikan bagian ketiga dari karyanya mengenai Yesus, “ini buku saya yang terakhir”, begitu yang katanya kepada saya dengan tatapan yang sedih pada saat bersalaman. Joseph Ratzinger adalah seorang manusia yang tak tergoyahkan, seseorang yang selalu mampu bangkit kembali dengan cepat. Sementara dua tahun lalu, meskipun ada gejala-gejala awal usia lanjut, ia masih tampak lincah, hampir seperti orang muda, sekarang ia merasakan setiap pengikat kertas kerja baru yang mendarat di mejanya oleh Sekretaris Negara sebagai suatu pukulan.  Saya bertanya kepadanya, “Apa yang masih dapat kita harapkan dari Yang Mulia, dari kepausan Anda?”. “Dari saya? Dari saya tidak banyak. Saya seorang lanjut usia dan kekuatan saya telah banyak berkurang. Saya pikir telah cukup apa yang telah saya lakukan”. Anda berpikiran untuk mengundurkan diri? “Ini tergantung dari seberapa besar energi fisik saya memaksa saya melakukan hal itu.” Pada bulan yang sama ia menulis kepada salah seorang muridnya bahwa pertemuan mereka selanjutnya akan menjadi yang terakhir kalinya. Hujan turun di Roma waktu kami bertemu untuk pertama kalinya pada bulan November 1992 di Gedung Kongregasi Doktrin Iman. Jabat tangan-nya bukan sesuatu yang meretakkan jari tangan, suaranya cukup tidak biasa untuk seorang “kardinal panzer”, ringan dan lembut. Saya menyukai cara dia berbicara tentang masalah-masalah kecil, dan terlebih tentang masalah-masalah besar; ketika dia mendiskusikan konsep kita mengenai kemajuan dan meminta kita untuk merenungkan apakah orang sungguh-sungguh dapat mengukur kebahagiaan manusia sesuai dengan produk domestik bruto.  Selama bertahun-tahun dirinya mengalami ujian berat. Dia digambarkan sebagai seorang penganiaya sementara dirinya-lah yang dianiaya, sebagai kambing hitam untuk setiap masalah ketidakadilan, sebagai simbol dari “inkuisitor agung”, suatu definisi yang tidak tepat. Namun tak seorang pun pernah mendengar dia mengeluh. Tak seorang pun mendengar dari mulutnya satu kata yang buruk, sebuah komentar negatif tentang orang lain, bahkan tentang Hans Küng. Empat tahun kemudian, kami menghabiskan beberapa hari bersama-sama, untuk membahas rancangan buku tentang iman, Gereja, selibatus dan insomnia. Partner saya itu tidak berjalan mengelilingi ruangan, seperti yang biasa dilakukan para Guru besar. Tidak ada sedikitpun di dalam dirinya jejak kesombongan, tidak juga praduga. Saya terkagum dengan keunggulannya, sebuah pikiran yang tidak sejalan dengan jaman, dan saya agak terkejut mendengar jawaban yang relevan terhadap masalah-masalah pada jaman kita, yang tampaknya hampir tak terpecahkan, diambil dari harta besar kitab Wahyu, dari visi para Bapa Gereja dan dari refleksi-refleksi dari penjaga iman yang saat itu sedang duduk di hadapan saya. Ia adalah seorang pemikir yang radikal - ini adalah kesan saya - dan seorang beriman yang radikal, namun, yang dalam iman-nya yang radikal itu ia tidak menggunakan pedang, melainkan senjata lain yang jauh lebih kuat: kekuatan dari kerendahan hati, kesederhanaan dan kasih. Joseph Ratzinger adalah seseorang dari paradoks-paradoks. Bahasa yang lembut, suara yang kuat. Kelembutan dan ketegasan. Berpikir besar tetapi memberi perhatian terhadap hal-hal kecil. Mewujudkan sebuah kepandaian baru untuk mengenali dan mengungkap misteri iman, ia adalah seorang teolog, namun membela iman rakyat terhadap agama para Guru besar, sedingin abu.  Seperti dirinya yang berkeseimbangan, demikian pula ia mengajar; dengan keringanan khasnya sendiri, dengan keanggunannya, kemampuannya untuk menembus yang membuat ringan apa yang serius, tanpa menghilangkan misterinya dan tanpa menyepelekan kesuciannya. Seorang pemikir yang berdoa, yang baginya misteri-misteri Kristus merupakan kenyataan yang menentukan dari penciptaan dan sejarah dunia, seorang pengasih manusia yang ketika ditanya berapa banyak jalan menuju kepada Allah, tidak perlu berpikir panjang untuk menjawab: “Sebanyak jumlah manusia.”  Ia adalah seorang Paus yang kecil yang menulis dengan pensil karya-karya yang besar. Tak seorang pun sebelum dirinya, seorang teolog Jerman terbesar sepanjang masa, yang telah meninggalkan bagi umat Allah selama masa kepausannya, sebuah karya yang mengesankan tentang Yesus, atau yang telah menyusun kristologi. Para kritikus berpendapat bahwa pemilihan dirinya adalah sebuah pilihan yang salah. Kebenarannya adalah bahwa tidak ada pilihan yang lain. Ratzinger tidak pernah mencari kekuasaan. Ia menjauhi permainan intrik di Vatikan. Selalu menjalani kehidupan bersahaja seorang biarawan, kemewahan itu asing baginya dan lingkungan dengan kenyamanan daripada yang sungguh diperlukan adalah suatu hal yang tidak menarik baginya.  Tetapi baiklah kita bicarakan hal-hal kecil saja, yang sering kali lebih berarti daripada pernyataan-pernyataan besar, dari konferensi-konferensi dan dari program-program. Saya menyukai gaya kepausannya; langkah pertamanya yaitu membuat surat kepada komunitas Yahudi; bahwa ia telah menggantikan tiara, yang juga merupakal kekuatan duniawi dari Gereja, dengan mitria pada lambang kepausannya,; bahwa ia meminta pada Sinode para Uskup untuk berbicara juga kepada para tamu dari agama-agama lain – ini juga adalah hal yang baru.  Dengan Benediktus XVI untuk pertama kalinya seorang pemimpin telah mengambil bagian dalam debat, tanpa sikap sombong yang memandang orang dari atas ke bawah, melainkan memperkenalkan kolegialitas yang ia perjuangkan dalam Konsili. maaf, Bersambung ke bagian 2

wawancara Paus dengan penulis biografinya (bagian 2)

Tetapi baiklah kita bicarakan hal-hal kecil saja, yang sering kali lebih berarti daripada pernyataan-pernyataan besar, dari konferensi-konferensi dan dari program-program.

Saya menyukai gaya kepausannya; langkah pertamanya yaitu membuat surat kepada komunitas Yahudi; bahwa ia telah menggantikan tiara, yang juga merupakan simbol kekuatan duniawi dari Gereja, dengan mitria pada lambang kepausannya,; bahwa ia meminta pada Sinode para Uskup untuk berbicara juga kepada para tamu dari agama-agama lain – ini juga adalah hal yang baru. Dengan Benediktus XVI untuk pertama kalinya seorang pemimpin telah mengambil bagian dalam debat, tanpa sikap sombong yang memandang orang dari atas ke bawah, melainkan memperkenalkan kolegialitas yang ia perjuangkan dalam Konsili.

Tolong koreksi saya, katanya, saat ia mempresentasikan bukunya tentang Yesus, yang tidak ingin mengumumkan sebagai sebuah dogma atau membubuhkan stempel otoritas tertinggi. Penghapusan ciuman tangan adalah yang paling sulit untuk diterapkan. Pernah ia menahan lengan seorang mantan muridnya yang membungkuk untuk mencium cincinnya itu, dan mengatakan, “mari kita bersikap dengan normal.”

Banyak pengalaman-pengalaman pertama. Untuk pertama kalinya seorang Paus mengunjungi sebuah sinagoga Jerman (dan selanjutnya banyak sinagoga di dunia daripada semua paus sebelum dia dikumpulkan bersama). Untuk pertama kalinya seorang Paus mengunjungi biara Martin Luther, sebuah tindakan bersejarah yang berbeda. 

Ratzinger adalah seseorang yang bertradisi, dengan kerelaan ia bergantung dengan apa yang telah ditetapkan, namun mampu membedakan apa yang sungguh abadi daripada apa yang yang muncul dan berlaku hanya untuk suatu periode tertentu. Dan jika diperlukan, seperti dalam kasus Misa Tridentin, menambahkan yang lama ke yang baru, supaya bersama-sama mereka tidak mengurangi ruang liturgi, melainkan mengembangkannya. Dia tidak melakukan segalanya dengan benar, tetapi mengakui kesalahan, bahkan kesalahan (seperti skandal Williamson), di mana ia tidak bertanggung jawab. Tidak ada kegagalan yang lebih dideritanya daripada imam-imamnya, meskipun sejak dari prefek ia sudah memulai semua tindakan yang memungkinkan untuk menemukan pelanggaran seksual yang mengerikan dan menghukum yang bersalah. Benediktus XVI pergi, tetapi warisannya tetap. Penerus dari Paus yang amat rendah hati di era modern ini akan mengikuti jejaknya. Seseorang dengan dengan karisma lain, dengan gaya sendiri, tapi dengan misi yang sama: tidak mendorong kekuatan sentrifugal, tetapi mereka yang terus bersama-sama menjalankan warisan iman, yang tetap pemberani, memberitakan pesan dan membuat kesaksian yang sejati. 

Bukan suatu kebetulan bahwa Paus yang mengundrkan diri itu telah memilih Hari Rabu Abu menjadi liturgi besar-nya yang terakhir. Lihatlah, dia ingin membuktikan, di sinilah saya ingin membawamu dari awal, ini adalah jalannya. Sadarkanlah dirimu, bergembiralah, bebaskan dirimu dari pemberat, jangan biarkan dirimu dimakan oleh semangat waktu, jangan buang-buang waktu, lepaskan dirimu dari sekolarisme! Menguruskan badan untuk menaikkan berat adalah program Gereja masa depan. Menyangkal lemak untuk mendapatkan vitalitas, kesegaran rohani, bukan dari inspirasi dan daya tarik terakhir. Dan keindahan, daya tarik, akhirnya juga kekuatan, untuk dapat mengatasi sebuah tugas yang menjadi begitu sulit. “Bertobatlah”, demikian ia berkata dengan kata-kata dalam Alkitab ketika ia menandai dahi para kardinal dan imam dengan abu, “dan percayalah pada Injil”. “Apakah Anda akhir dari yang lama - saya bertanya kepada Paus dalam pertemuan terakhir kami - atau awal yang baru? ». Jawabannya adalah: “Keduanya.” 

Peter Seewald  (Terjemahan oleh: Shirley Hadisandjaja Mandelli )  Sumber: 2013 Focus dan Corriere della Sera  *Mons doctus adalah sebuah bukit yang dahulu pernah menjadi pusat Biara Benediktin. 

Shirley Hadisandjaja Mandelli Email: sicilia_shirley@yahoo.com Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com),  jika anda ingin menyebarkan karya ini.

Senin, 04 Februari 2013

Semangat OMKers


Semangat OMKers Oleh: @SYmelkiSP Saya bersemangat kembali ketika berada dalam komunitas OMK paroki Santa Clara. Saya bersyukur kepada Tuhan atas hari ini, 24 Januari 2013. Saya boleh melihat dan menikmati kebersamaan dengan OMK dalam Pleno Seksi Kepemudaan yang dihadiri para pengurus OMK wilayah dan kategorial OMK, serta beberapa orang perwakilan dari seksi Dewan Paroki Santa Clara. Pada pertemuan Pleno kali ini, para OMK membicarakan tentang program kerja (proker) 2013, evaluasi kepengurusan 2012, data jumlah OMK (ter-updated), serta hambatan dan prestasi setiap kegiatan OMK. Banyak sekali catatan-catatan dari, oleh, dan untuk sesama OMK. Banyak proker dan kegiatan-kegiatan OMK yang akan dilaksanakan pada tahun 2013 sesuai visi "persaudaraan sejati." Saya sangat mengapresiasi kepada seluruh OMK Clara. EVALUASI Dalam pertemuan Pleno kali ini, ada yang menarik perhatian saya tentang masih adanya kebiasaan lama (kisah klasik) yang dihadapi OMK di dalam berorganisasi. Kebiasaan lama yang turun-menurun itu adalah perihal "waktu", suka terlambat untuk berkumpul dan lama bubar meskipun acara kegiatan sudah selesai. Selain persoalan "waktu" yang selalu "ngaret", persoalan lainnya adalah OMK "malas" hadir untuk berkegiatan bersama dalam komunitas OMK. Parahnya lagi, masih ada juga orangtua yang kurang mendukung anaknya untuk berkumpul dalam komunitas seiman, yang berakibat beberapa OMK kurang memahami konsep diri dan tidak memiliki motivasi sebagai Orang Muda yang beragama Katolik. "Kalau kendala wilayah OMK kami biasanya mengenai 'waktu' ya. Sering ga ontime, terus jarak tempat untuk ikut kegiatan jauh. Orangtuanya ga ngijinin anaknya, dan bahkan ada OMK yang ga mau ikut kegiatan karena dia ngga ngerasa dapat apa-apa dari kegiatan OMK." itu beberapa ungkapan jujur dari evaluasi beberapa pengurus OMK Clara. Ya...sungguh menjadi bahan evaluasi kita bersama sebagai Katolikers. Ya kita...Orang Muda Katolik. Meskipun OMK sering terkendala dengan managemen waktu, belum sepenuhnya memahami motivasi dan komitmen berorganisasi, dan belum memahami kepemimpinan dengan spiritualitas Yesus Kristus. Tapi sebagai Katolikers, kita mesti tetap aktif bersama OMK. Pilihannya: Apakah OMK mau dan bersedia dipersiapkan dengan baik untuk menjadi Pribadi harapan bangsa dan Gereja? atau kita mau membentuk OMK tanpa arah pasti, seperti sebagian orang muda lainnya? REFLEKSI SEBAGAI OMKers Saya mau berbagi pengalaman tentang keikutsertaan saya terlibat sebagai Muda-mudi Gereja. Saya bersyukur kepada Yesus, sahabat sejati OMK bahwa saya boleh berbagi dalam refleksi singkat ini. Hampir 10 tahun saya terlibat sebagai OMK, sekaligus pemerhati organisasi kerohanian OMK dan Kepemudaan. Pertama kali saya mengenal komunitas muda-mudi Katolik pada waktu SMP kelas III/IX. Waktu itu saya pernah diajak untuk gabung dengan Mudika. Tapi saya cuma satu malam saja bergabungnya. Waktu itu saya dengan muda-mudi wilayah YP terpaksa batal berangkat pergi kegiatan camping rohani separoki gara-gara rombongan kami hanya terlambat beberapa menit saja. Panitia pada waktu itu sangat mengecewakan kami. Saya waktu itu agak menyesal tidak jadi berangkat gara-gara tidak ada kesalingpengertiaan sesama anggota komunitas beriman. Akhirnya, kakak-kakak senior Mudika YP waktu itu meredam kesedihan kami dengan mengelar tenda di dalam komplek perumahan Barata, di rumah salah satu pengurus Mudika YP. Dari malam sampai pagi hari kami begadang dengan menghabiskan bekal kami, bernyanyi-nyanyi, masak mie, dsbnya. Itu pengalaman singkat saya dengan Mudika YP. Setelah hari itu saya tidak mau diajak lagi kalau ada pertemuan Mudika. Di satu sisi saya kecewa dengan Mudika yang dibatalkan keikutsertaan acaranya. Malu dan aneh menjelaskan kepada orangtua kami, meskipun mereka tampak memaklumi "kesalahan kecil" kami yang kurang berkoordinasi dengan panitia. Di sisi yang lainnya saya nyaman dengan muda-mudi Gereja yang asik dan gaul dengan gaya orang Katolik. Di sisi lainnya, saya merasa seperti "jatuh cinta" dengan komunitas Muda-mudi Katolik. "oh... Cinta satu malam... oh indahnya... Cinta satu malam buatku melayang, walau satu malam, akan kukenang, dalam hidupku }2x" #loh ko malah jadi nyanyi lagu dangdut ya? Saya jadi teringat beberapa tahun setelah peristiwa di atas. Saya mulai terlibat aktif dalam organisasi Mudika (pengertian dulu: Muda-mudi Katolik) di paroki Santo Yohanes Pemandi Raha, kabupaten Muna, Keuskupan Agung Makassar. Saya mengalami banyak hal ketika beraktivitas bersama muda-mudi seiman di sana. Suka dan duka mewarnai perjalanan saya sebagai pengurus maupun menjadi anggota suatu kegiatan OMK (pengertian sekarang: Orang Muda katolik). Awalnya, saya diajak teman-teman Mudika Raha untu bantu-bantu saja. #Lagi-lagi diajak (modus man). Waktu itu sekitar tahun 2004, Oma dan Om saya menyuruh saya untuk ikut kegiatan Mudika paroki Santo Yohanes Pemandi Raha, Sulawesi Tenggara, Keuskupan Agung Makassar. Sejujurnya, saya tidak mau bergabung, apalagi datang ke pertemuan. Saya masih kecewa dengan "cinta satu malam" dengan organisasi orang muda di Bekasi Utara. Selain itu, pikiran saya waktu itu adalah karena saya merasa tidak pantas bersentuhan dengan hal-hal suci dalam kelompok keagamaan. Apalagi dipilih oleh teman-teman saya untuk menjadi pengurus Mudika. Ogah banget waktu itu, saya tolak! Beberapa kali teman-teman saya mengajak dan mendatangi saya yang tinggal di rumah Oma saya. Namun, saya belum juga mau bergabung. Pada suatu hari, entah "kenapa" saya merasa ada yang berbeda setiap kali datang perayaan Ekaristi di Gereja. Ada sekelompok muda-mudi yang bertugas sebagai koor. Mereka juga membagi tugas sebagai kolektan. Selain itu yang menarik perhatian saya adalah mereka tampil beberapa kali di setiap bulan. Ada yang menjadi pemazmur, dirigen, pianis, dan lektor. Meskipun muda-mudinya itu-itu saja. Entah mengapa hati saya tergerak untuk mengenal Mudika setempat. Saya semakin tersentuh ketika seorang Mudika memainkan musik dengan iringan gitar. Ketika itu saya tersentuh oleh musik yang dibunyikan gitaris itu. Komposisi permainannya pas di saat komuni sedang dibagikan. Suasana saat itu begitu tenang dengan iringan instrumental gitar akustik. Saya mengalami suka cita dan kedamaian Roh Kudus ketika berdoa sesudah komuni (bdk. Galatia 5:22). Saat itu hati kecil saya mengatakan mau terlibat dengan mereka. "apa ya kelompok mereka itu? bisa ngga ya saya masuk dalam grup mereka?" pikir saya kira-kira saat itu. Singkat cerita, saya akhirnya bergabung dengan Mudika Raha. Meskipun awalnya malu-malu, tapi saya dapat beradaptasi dengan cepat. Maklum ada beberapa teman SMU saya yang sekelas menjadi anggota Mudika. Beberapa waktu kemudian, entah mengapa akhirnya saya diminta teman-teman untuk menjadi wakil ketua Mudika. Saya pun perlahan-lahan mengikuti proses kebersamaan dengan Mudika setempat dan menyesuaikan budaya dan luas teritorial pelayanan pastoral paroki Santo Yohanes Pemandi Raha. Berbagai kegiatan kami laksanakan. Angkatan kami mempelopori kembali kejayaan "didukung berbagai kegiatan Mudika." Para orangtua dan umat menantikan kami untuk terus berpastoral. Apalagi dukungan kuat datang dari pastor paroki untuk mendukung perkembangan iman spiritualitas kami. Pastor paroki kami waktu itu membimbing kami dengan rekoleksi khusus. Kami pun jadi semakin bersemangat mengimani Yesus Kristus, hal ini tercermin dalam keaktifan kami dalam berkumpul dan berkegiatan bersama. Waktu itu kami tidak punya pendamping awam tetap atau pemerhati OMK khusus. Semua kegiatan kami persiapkan bersama dan kami saling membagi tugas. Jadi kalau ada pertemuan ibadat doa rutin, mau tidak mau kami sendiri yang menyiapkan bahan-bahan liturgisnya, para petugas dan lagu-lagu ibadatnya. Kami bertanggungjawab sepenuhnya sampai hari pelaksanaan. Saya masih berkesan akan satu tugas yang diberikan kepada saya waktu itu. Saya diberikan kesempatan untuk memberikan renungan pada waktu ibadat Mudika. Jadi,

Minggu, 03 Februari 2013

arti RD dan RP untuk Imam Gereja

Kepanjangan R.D. adalah Reverendus Dominus. Reverendus Dominus adalah atribute baru di depan nama pastor atau romo [PROJO / Diosesan] yg artinya kurang lebih Tuan Pastor. Penggunaan R.D. tidak lagi diikuti Pr. di belakang nama tersebut. misal R.D  Marsel Lolo Tandung Kepanjangan R.P. adalah Reverendus Pater. Reverendus Pater adalah atribute untuk pastor atau romo [tarekat/ordo] yg artinya kurang lebih Tuan Pastor. Penggunaan R.P. harus digunakan untuk para imam Tarekat/Ordo. misal R.P. Mosses, Ofm

Jumat, 21 September 2012

karya ilahi 2 tahun lalu*


Yesus adalah nama yang satu-satunya kusebut dalam keadaan kritis ketika aku diikat sakit di atas keranjang kasur rumah sakit.

Hosti yang datang setiap sore di rumah sakit itu adalah harapanku satu-satunya untuk hadir di dunia.

Komuni yang dibawa suster-suster itu yang meneguhkanku untuk bangkit kepada kehidupan di bumi.

Seperti lilin yang mengiringi Sibori yang dibawa keliling di rumah sakit itu. Demikian pula, aku meyakini bahwa Roh Kudus yang mendampingi jiwaku untuk hidup sampai hari ini. Terima kasih Abba Bapa.

Terima kasih Allah Tritunggal.

*refleksi atas 2 tahun penyelanggaran ilahi kepada diriku.
Stefanus Yoanes M Sahala P.

Sabtu, 24 Maret 2012

Reuni dan Rekreasi SAHABAT SD Kita 17-18 Maret 2012







Henrik Latipolia
Imron Fabiyantoro
Melki Pangaribuan
Nur Hafni 
Ruth Paulina Christine
Sulistia Anggraeni
Arditho
Mega Julianti
Max Andrew
Tri Eko Wibawa Sugara

PERHITUNGAN KESELURUHAN KEUANGAN                   
                   
No.    Nama Kegiatan                     Debit           Kredit              Saldo
A. Pemasukan (Kontribusi)            1.360.000       
B. Pengeluaran                                                   1.309.000   
    KONSUMSI (B)                    526.000           
    TRANSPORTASI (C1-C2)     445.000           
    BIAYA LAIN-LAIN (D)        338.000           
(Jumlah Pengeluaran)               1.309.000   
       
C. Jumlah Sisa Dana (untuk KAS)                                               51.000
*Sisa dana + belum dihitung saat makan siang di IPB (cowo dan cewe makan terpisah (Imron, Eko, dan Supir tidak makan)                   

Kamis, 08 Maret 2012

Devosi Kepada Lima Luka Suci Yesus Tersalib

DEVOSI KEPADA LIMA LUKA SUCI YESUS TERSALIB
Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Doa Pembuka
Lihatlah, O Yesus yang baik dan manis, aku berlutut di depan Salib-Mu. Dan dengan kerinduan dalam jiwaku, aku berdoa dan memohon: anugerahkanlah dalam hatiku iman yang hidup, pengharapan dan kasih, tobat yang sejati dari dosa-dosaku serta tekad yang kuat untuk memperbaiki hidupku. Dengan cinta yang membara dan penyesalan, aku mengenangkan dan merenungkan kelima luka suci-Mu, seraya memandang Dikau yang terluka, aku teringat ucapan Nabi Daud dari lampau tentang Dikau: “Mereka menusuk tangan dan kakiku segala tulangku dapat kuhitung.”

Luka di Tangan Kanan
Pujian dan hormat bagi-Mu, o Tuhan Yesus Kristus, karena Luka Suci pada Tangan Kanan-Mu. Berkat Luka Kudus ini, semoga Engkau berkenan mengampuni segala dosa yang kami lakukan dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, dengan bersikap tak acuh dalam pelayanan kami kepada-Mu, dan dengan mencari kepuasan diri kami sendiri, baik yang kami lakukan dengan sadar maupun tidak sadar. Anugerahkanlah rahmat-Mu kepada kami agar kami selalu setia mengenangkan Sengsara-mu yang kudus, sehingga kami layak menghormati luka kudus-Mu dan wafat-Mu yang Kau tanggung demi cinta-Mu kepada kami dan kami dapat menunjukkan rasa syukur kami atas penderitaan dan wafat-Mu itu dengan mengekang keinginan daging dan nafsu kami ini: Engkau yang hidup dan berkuasa sepanjang segala abad. Amin.
1x Bapa Kami, 1x Salam Maria, 1x Kemuliaan

Luka di Tangan Kiri
Pujian dan hormat bagi-Mu, O Yesus yang Maha baik, atas Luka Suci pada Tangan Kiri-Mu. Berkat Luka Kudus ini, semoga Dikau berbelas kasih kepada kami dan merubah segala sesuatu yang tidak berkenan pada Dikau yang ada dalam diri kami. Anugerahkanlah kami kemenangan atas musuh-musuh-Mu sehingga dengan pertolongan rahmat-Mu kami dapat mengatasi semuanya; dan berkat wafat-Mu yang kudus dan terpuji, semoga Dikau membebaskan kami dari semua marabahaya kini dan di masa yang akan datang, dan jadikanlah kami layak untuk menikmati kemuliaan-Mu dalam kerajaan-Mu: Engkau yang hidup dan berkuasa sepanjang segala abad. Amin.
1x Bapa Kami, 1x Salam Maria, 1x Kemuliaan

Luka di Kaki Kanan
Pujian dan hormat bagi-Mu, O Yesus yang manis, karena Luka Kudus pada Kaki Kanan-Mu. Berkat Luka yang Suci dan Terpuji ini, semoga Dikau menguatkan kami dalam tobat yang sejati dan menghasilkan buah-buah pertobatan kami. Kami memohon pada Dikau dengan rendah hati, demi wafat-Mu yang terpuji, agar menjaga kami siang dan malam dalam kehendak-Mu sehingga kami terbebas dari kemalangan yang mengancam jiwa dan raga kami, dan pada hari penghakiman-Mu nanti, perlakukanlah kami dengan Kerahiman-Mu sehingga kami beroleh kebahagiaan abadi: Engkau yang hidup dan berkuasa sepanjang segala abad. Amin. 1x Bapa Kami, 1x Salam Maria, 1x Kemuliaan

Luka di Kaki Kiri
Pujian dan hormat bagi-Mu, O Yesus yang manis dan penuh belas kasihan, karena Luka Suci pada Kaki Kiri-Mu. Berkat Luka yang Terpuji ini, kami mohon pengampunan atas segala dosa kami dan hukuman yang layak kami terima karena dosa itu, sehingga dengan pertolongan Dikau, kami selamat dari pengadilan-Mu. Kami mohon, O Yesus yang baik dan penuh kasih, demi Wafat-Mu yang kudus, agar di saat menjelang ajal, Kau perkenankan kami mengakui semua dosa kami dalam tobat yang tulus, menerima Sakramen Tubuh dan Darah-Mu yang terpuji, dan juga Sakramen Pengurapan Orang Sakit demi keselamatan kekal: Dikau yang hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa. Amin.
1x Bapa Kami, 1x Salam Maria, 1x Kemuliaan

Luka di Lambung
Pujian dan hormat bagi-Mu, O Yesus yang baik dan manis, karena Luka pada Lambung-Mu yang Kudus. Berkat luka yang terpuji ini dan berkat kasih-Mu yang tak terhingga yang Kau tunjukkan pada St. Longinus dan kami semua dengan mengijinkan Lambung-Mu ditembus oleh tombak, kami mohon, O Yesus yang baik, sama seperti Engkau memurnikan kami dari dosa berkat Sakramen Pembaptisan, kini Dikau berkenan, berkat Darah-Mu yang kudus yang dipersembahkan hari ini di seluruh dunia, untuk membebaskan kami dari semua yang jahat di masa lalu, masa kini, dan yang akan datang. Semoga berkat wafat-Mu yang pahit, kami dianugerahi iman yang hidup, harapan yang teguh, dan kasih yang sempurna, sehingga kami dapat mencintai Dikau dengan seluruh hati kami, dengan seluruh jiwa kami, dan dengan seluruh kekuatan kami. Penuhilah kami dengan rahmat-Mu agar kami bertekun dalam karya-karya yang baik sehingga kami Kau dapatkan setia dalam pelayanan kami dan memuliakan Dikau kini dan selamanya. Amin.
1x Bapa Kami, 1x Salam Maria, 1x Kemuliaan

Penutup
P  : Kami memuji Dikau, ya Tuhan dan bersyukur kepada-Mu
U : Karena berkat wafat dan Darah-Mu yang kudus, Engkau telah menebus dunia
Marilah berdoa,
Allah yang Kekal dan Kuasa, Engkau telah menebus umat manusia berkat lima luka kudus Putra-Mu, Tuhan dan Penyelamat kami Yesus Kristus. Berkat Darah-Nya yang Kudus, anugerahilah kami, yang setiap hari memuji luka-luka ini, keselamatan dari kematian yang tiba-tiba dan tidak dipersiapkan. Semuanya kami mohon dengan perantaraan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus, yang bersama Dikau dan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah sepanjang segala masa. Amin.

 Teks ini diambil dari Litani Luka-luka Kudus Yesus karangan St. Klara dari Assisi. Devosi indah berusia lebih dari 700 tahun ini, disusun dan didoakan setiap hari oleh Bunda Serafik St. Klara dari Assisi, pendiri Ordo Kedua St. Fransiskus yang biasa disebut Ordo Santa Klara.

NIHIL OBSTAT
R.P. Bosco da Cunha, O.Carm
Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI
20 November 2011, Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam
IMPRIMATUR
R.D. Yohanes Subagyo
Vikaris Jendral Keuskupan Agung Jakarta
30 November 2011, Pesta St. Andreas, Rasul
Kerja sama Komisi Liturgi KWI & Komisi Kepemudaan KWI

http://www.orangmudakatolik.net/iyd-2012/doa-doa-iyd/devosi-kepada-lima-luka-suci-yesus-tersalib/

Selasa, 28 Februari 2012

Ucapan Syukur telah sidang Kajian Kateketik

YTH. Mgr, Romo, Bruder, Suster, Bapak/Ibu, Saudara-saudariku, dan teman terkasih. Saya bersyukur dan berterima kasih atas sidang S1 saya yang telah terlaksana pagi tadi (27 Februari 2012). Terima kasih atas doa dan dukungan Anda kepada saya selama ini. Tuhan memberkati & Immanuel.

Kamis, 23 Februari 2012

PERATURAN PANTANG DAN PUASA KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA UNTUK TAHUN 2012



TEMA: “DIPERSATUKAN DALAM EKARISTI, DIUTUS UNTUK BERBAGI”


Masa Prapaskah/Waktu Puasa Tahun 2012 dimulai pada hari Rabu Abu, 22 Februari sampai dengan hari Sabtu, 7 April  2012.

“Semua orang beriman kristiani menurut cara masing-masing wajib melakukan tobat demi hukum ilahi’ (KHK k.1249).  Dalam masa tobat ini Gereja mengajak umatnya “secara khusus meluangkan waktu untuk berdoa, menjalankan ibadat dan karya amalkasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang” (ibid).   Semua umat beriman diajak untuk memelihara suasana tobat dan mengisi masa tobat ini dengan berbagai keutamaan hidup beriman dan tidak mudah terpengaruh atau mengikuti suasana lain di luar suasana khusus gerejani ini.

Di samping itu sebagai tanda pertobatan dan syukur, Gereja minta supaya kita semua memberi perhatian dan mengarahkan hidup kita dengan bantuan beberapa hal beriktu ini:

Dalam Masa Prapaskah kita diwajibkan:

- Berpantang dan berpuasa pada hari Rabu, 22 Februari dan hari Jumat Suci, 6 April 2012.  Pada hari Jumat lain-lainnya dalam Masa Prapaskah hanya berpantang saja.

- Yang diwajibkan berpuasa menurut Hukum Gereja yang baru adalah semua yang sudah dewasa sampai awal tahun ke enam puluh (KHK k.1252).  Yang disebut dewasa adalah orang yang genap berumur delapanbelas tahun (KHK k.97 §1).

- Puasa artinya: makan kenyang satu kali sehari.

- Yang diwajibkan berpantang: semua yang sudah berumur 14 tahun ke atas (KHK k.1252).

- Pantang yang dimaksud di sini:  tiap keluarga atau kelompok atau perorangan memilih dan menentukan sendiri, misalnya: pantang daging, pantang garam, pantang jajan, pantang rokok.

Kita semua diajak untuk terus memberi perhatian kepada saudara-saudara kita yang berkekurangan dengan cara berbagi untuk mereka. Saat ini kita sedang hidup dalam keprihatinan rusaknya lingkungan hidup.  Oleh sebab itu dalam masa Prapaskah ini kita diajak untuk membangun pertobatan ekologis dengan cara peduli terhadap sampah dan berusaha keras membangun lingkungan hidup yang semakin bersih, hijau dan sehat. Kita berharap bisa merayakan Paskah dalam wujud lingkungan hidup yang semakin sehat untuk dihuni banyak orang.  Selama masa prapaskah kita merefleksikan dan mendalami sikap iman ini.  Maka kita masing-masing diajak untuk mewujudkan keutamaan ini dalam hidup setiap hari sebagai syukur atas kasih Tuhan dan wujud pertobatan kita.  Semoga dengan demikian gerakan pertobatan kita semakin mempererat persaudaraan kita dan mendorong kita untuk terus berbagi untuk sesama.  Kita percaya dalam suasana kasih dan semakin baiknya lingkungan hidup, kebaikan Tuhan semakin dialami oleh banyak orang.

Baiklah jika kita semua saling mendukung dengan memelihara masa tobat ini. Maka sangat dianjurkan agar perkawinan-perkawinan sedapat mungkin tidak dilaksanakan dalam masa Prapaskah (juga Adven), kecuali ada alasan yang berat.  Pastor paroki dimohon secara bijaksana mencermati dan mengambil kebijakan sebaik mungkin dalam situasi dan kebutuhan pelayanan umat ini.

- Bila ada perkawinan yang karena alasan yang bisa dipertanggungjawabkan dilangsungkan dalam masa Prapaskah atau Adven, atau pada hari lain yang diliputi suasana tobat, pastor paroki hendaknya memperingatkan para mempelai agar mengindahkan suasana tobat itu, misalnya jangan mengadakan pesta besar (Upacara Perkawinan, Komisi Liturgi 1976, hal.14), untuk mengurangi kemungkinan menimbulkan batu sandungan.

Mari kita mensyukuri belaskasih Tuhan dan berusaha untuk membagikannya kepada sesama kita, terutama mereka yang sangat membutuhkan.




Jakarta, 18 Februari 2012


Mgr. Ignatius Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta

Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Masa Prapaskah 2012




PESAN BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
UNTUK MASA PRAPASKAH 2012


“Dan  marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik“ (Ibr 10:24).


Saudara dan saudari yang terkasih,
Masa Prapaskah sekali lagi memberikan kepada kita sebuah kesempatan untuk merenungkan inti terdalam dari kehidupan seorang Kristen, yaitu: perbuatan amal kasih. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui perjalanan iman kita, baik sebagai seorang individu maupun sebagai bagian dari komunitas, dengan bimbingan Sabda Tuhan dan sakramen-sakramen Gereja. Perjalanan ini adalah perjalanan yang ditandai dengan doa dan berbagi, hening dan berpuasa, sebagai antisipasi menyambut sukacita Paskah.

Tahun ini saya ingin mengajukan beberapa pemikiran dalam terang ayat-ayat Kitab Suci yang diambil dari Surat kepada umat Ibrani: “Dan marilah kita kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”. Kata-kata ini adalah bagian dari perikop di mana sang penulis surat yang kudus menghimbau kita untuk menaruh kepercayaan di dalam Yesus Kristus sebagai Imam Agung yang telah memenangkan pengampunan Allah bagi kita dan membuka jalan kepada Tuhan. Mengimani Kristus membuat kita mampu menghasilkan buah di dalam hidup yang ditopang oleh tiga kebaijkan teologis: hal itu berarti menghampiri Tuhan “dengan hati tulus dan penuh iman (ay.22), tetap “teguh dalam harapan yang kita nyatakan” (ay.23) dan senantiasa berusaha untuk menjalani hidup yang dibangun di atas “cinta kasih dan pekerjaan-pekerjaan baik” (ay.24), bersama dengan saudara dan saudari kita. Sang penulis surat tersebut menyatakan bahwa untuk mempertahankan hidup yang dibentuk oleh Injil, adalah penting untuk berpartisipasi secara aktif dalam liturgi dan doa bersama komunitas, dengan mengingat akan tujuan eskatologis untuk bersatu secara penuh dengan Tuhan (ay.25). Di sini saya ingin membuat refleksi atas ayat 24, yang memberikan pengajaran yang ringkas, bernilai, dan tepat di segala zaman, atas tiga aspek hidup Kristiani, yaitu: kepedulian kepada sesama, kasih timbal balik, dan kekudusan pribadi.

1. “Dan  marilah kita saling memperhatikan..” : tanggung jawab terhadap para saudara dan saudari kita.
Aspek pertama adalah sebuah undangan untuk “peduli” : kata kerja bahasa Yunani yang dipakai di sini adalah katanoein, yang artinya adalah untuk memeriksa (menyelidiki), untuk menaruh perhatian, untuk mengamati dengan seksama dan percaya akan sesuatu. Kita menjumpai kata ini di dalam Injil ketika Yesus mengundang para murid untuk “memperhatikan” burung-burung gagak, yang tanpa bekerja keras, berada di tengah perhatian dan pemeliharaan Penyelenggaraan Ilahi (bdk. Luk 12:24) dan untuk “memeriksa” balok di dalam mata kita sendiri sebelum mengeluarkan selumbar dari mata saudara kita (bdk. Luk 6:41). Di dalam ayat yang lain dari Surat kepada orang-orang Ibrani, kita menemukan ajakan untuk “mengarahkan pikiranmu kepada Yesus” (3:1), Rasul dan Imam Besar dari iman kita. Maka kata kerja yang mengantar pengajaran kita mengatakan kepada kita untuk memperhatikan sesama, pertama-tama kepada Yesus, untuk saling memperhatikan satu sama lain, dan tidak tinggal dalam keterasingan serta sikap acuh tak acuh kepada keadaan sesama kita. Namun demikian, terlalu sering sikap yang kita tunjukkan justru sebaliknya: yaitu pengabaian dan keacuhan yang lahir dari keegoisan yang disamarkan sebagai tindakan menghargai “privasi”. Saat ini pun, suara Tuhan meminta kita semua untuk saling memperhatikan satu sama lain. Bahkan hari ini, Tuhan meminta kita untuk menjadi “penjaga” saudara dan saudari kita (Kej 4:9), untuk membangun suatu relasi yang didasarkan atas kepedulian satu sama lain dan perhatian kepada kesejahteraan integral jasmani dan rohani dari sesama kita. Perintah yang utama untuk mengasihi satu sama lain menuntut kita untuk mengenali tanggung jawab kita kepada sesama yang, sebagaimana halnya kita sendiri, adalah ciptaan dan anak-anak Tuhan sendiri. Menjadi saudara dan saudari dalam kemanusiaan dan, dalam banyak hal,  juga dalam iman, selayaknya menolong kita untuk mengenali di dalam diri sesama kita, sebuah kebalikan dari diri kita (alter ego), yang dicintai tanpa batas oleh Tuhan. Jika kita menanamkan pada diri kita cara ini yang memandang sesama sebagai saudara dan saudari kita, maka solidaritas, keadilan, belas kasihan dan bela rasa akan secara alamiah berkembang di dalam hati kita. Sang Pelayan Tuhan Paus Paulus VI pernah menyatakan bahwa dunia saat ini menderita terutama karena kurangnya persaudaraan: “Kebudayaan umat manusia sedang sangat sakit. Penyebabnya bukanlah karena berkurangnya sumber-sumber daya alam, dan bukan juga karena kontrol monopoli dari segelintir orang: melainkan lebih karena melemahnya ikatan persaudaraan di antara pribadi-pribadi dan di antara bangsa-bangsa (Populorum Progressio, 66).

Kepedulian kepada sesama berkaitan juga dengan menginginkan segala yang baik untuk mereka dari setiap sudut pandang: baik fisik, moral, maupun spiritual. Budaya kontemporer nampaknya telah kehilangan naluri untuk membedakan yang baik dari yang jahat, namun disadari tetap ada suatu kebutuhan yang nyata untuk menyatakan kembali bahwa kebaikan itu ada dan akan mengatasi [yang jahat], karena Allah “baik dan berbuat baik” (Mzm 119:68). Kebaikan adalah segala sesuatu yang bersifat memberi, melindungi, dan menjunjung tinggi kehidupan, persaudaraan, dan persekututuan. Maka tanggung jawab kepada sesama berarti menginginkan dan mengusahakan kebaikan sesama, dalam harapan bahwa mereka pun menjadi mudah menerima kebaikan dan tuntutan- tuntutannya. Peduli kepada sesama berarti menjadi peka akan kebutuhan-kebutuhan mereka. Injil Suci memperingatkan kita akan bahaya bahwa hati kita dapat menjadi keras karena “ketidaksadaran spiritual”, yang membuat kita tidak peka dan mati rasa terhadap penderitaan sesama. Penulis Injil Lukas mengaitkan dua perumpaan Yesus dengan membuat contoh. Di dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati, sang imam dan sang orang Lewi lewat begitu saja,  tidak peduli akan keberadaan seseorang yang dirampok dan dipukuli oleh para perampok (bdk. Luk 10:30-32). Dalam kisah perumpamaan Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin, si orang kaya tidak peduli pada kemiskinan Lazarus, yang sedang kelaparan hingga sekarat di depan pintu rumahnya yang ada di depan matanya (bdk. Luk 16:19). Kedua perumpamaan tersebut menunjukkan contoh-contoh kebalikan dari  “menjadi peduli”, yaitu sikap menaruh perhatian kepada sesama dengan penuh cinta dan belas kasihan. Apa yang menghalangi pandangan kemanusiaan dan penuh cinta kepada saudara dan saudari kita ini? Seringkali, penyebabnya adalah kepemilikan kekayaan materi dan perasaan berkecukupan akan segala sesuatu, namun bisa juga penyebabnya adalah kecenderungan untuk meletakkan segala kepentingan/ keinginan, dan masalah kita sendiri di atas semua yang lain. Kita tak pernah boleh gagal untuk “menunjukkan belas kasihan” kepada mereka yang menderita. Hati kita tak pernah boleh terlalu terbungkus rapat oleh urusan-urusan dan masalah-masalah kita sehingga hati kita tak mampu mendengar jeritan kaum miskin. Kerendahan hati dan pengalaman pribadi akan penderitaan dapat membangkitkan dalam diri kita, suatu naluri belas kasihan dan empati. “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya” (Ams 29:7). Kita kemudian dapat memahami sikap dari “mereka yang meratap” (Mat 5:5), mereka yang mampu melihat melampaui diri sendiri dan merasakan belas kasihan terhadap penderitaan orang lain. Menjangkau orang lain dan membuka hati kita kepada kebutuhan-kebutuhan mereka dapat menjadi sebuah kesempatan bagi  keselamatan dan keadaan terberkati.

“Menjadi peduli satu sama lain” juga mengikutsertakan sikap menaruh perhatian pada kesejahteraan jasmani dan rohani satu sama lain. Di sini saya ingin menyebutkan sebuah aspek hidup Kristiani, yang saya percaya telah cukup terlupakan selama ini: koreksi persaudaraan dalam pandangan keselamatan abadi. Dewasa ini, secara umum, kita menjadi sangat peka kepada gagasan perbuatan amal kasih dan kepedulian kepada kesejahteraan fisik dan materi dari sesama, namun hampir sepenuhnya diam mengenai tanggung jawab spiritual kita kepada saudara dan saudari kita. Hal ini tidak menjadi persoalan di dalam jemaat Gereja perdana atau di dalam komunitas yang telah sangat dewasa dalam iman, [yaitu] mereka yang peduli tidak hanya terhadap kesehatan fisik sesama mereka, tetapi juga terhadap kesehatan spiritual dan kehidupan kekal mereka. Kitab Suci berkata kepada kita: “Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya” (Ams 9:8). Kristus sendiri memerintahkan kita untuk menasehati saudara kita yang berbuat dosa (bdk. Mat 18:15). Kata yang dipergunakan untuk mengekpresikan koreksi persaudaraan – elenchein – adalah sama seperti yang biasa digunakan untuk menunjukkan misi kenabian dari orang-orang Kristen untuk menentang generasi yang mengikuti kejahatan (bdk. Ef 5:11). Tradisi Gereja juga memasukkan “memberi nasehat kepada para pendosa” di antara karya-karya karitatif rohani (belas kasihan secara rohani). Adalah penting untuk mengembalikan dimensi ini dari perbuatan amal kasih Kristiani. Kita tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi kejahatan. Saya berpikir tentang semua umat Kristen itu yang,  karena pertimbangan manusiawi atau semata-mata karena pertimbangan kenyamanan pribadi, memilih berkompromi dengan mentalitas yang umum, daripada mengingatkan saudara dan saudarinya terhadap cara berpikir dan bertindak yang bertentangan dengan kebenaran dan yang tidak mengikuti jalan kebaikan. Menasehati secara Kristiani, tidak pernah dimotivasi oleh semangat menuduh atau menuntut balas, melainkan selalu digerakkan oleh cinta dan belas kasihan, dan tumbuh dari kepedulian yang tulus, demi kebaikan orang lain. Sebagaimana Rasul Paulus mengatakan:”Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” (Gal 6:1). Di dalam dunia yang diliputi oleh semangat individualisme, adalah esensial untuk menemukan kembali pentingnya koreksi persaudaraan, sehingga bersama-sama kita dapat berjalan menuju kekudusan. Kitab Suci mengatakan pada kita bahwa  bahkan “tujuh kali orang benar jatuh” (Ams 24:16); semua dari kita adalah lemah dan tak sempurna (bdk. 1 Yoh 1:8). Maka, adalah suatu bentuk pelayanan yang amat berarti, untuk membantu sesama kita, dan mengizinkan mereka membantu kita, sehingga kita dapat terbuka terhadap seluruh kebenaran mengenai diri kita, memperbaiki diri kita dan berjalan dengan lebih setia di jalan Tuhan. Selalu akan ada kebutuhan terhadap sebuah pandangan yang penuh kasih dan mengingatkan, yang mengetahui dan memahami, yang membedakan secara bijak dan mengampuni (bdk. Luk 22:61), sebagaimana yang Tuhan telah kerjakan dan masih akan terus mengerjakannya di dalam diri kita masing- masing.

2. “Saling memperhatikan satu sama lain”: sebuah karunia kasih timbal balik”
Panggilan untuk “menjaga” sesama kita adalah berkebalikan dengan mentalitas yang, dengan mengurangi nilai hidup hanya kepada dimensi duniawinya saja, gagal untuk melihatnya dalam perspektif eskatologis dan menerima sembarang pilihan moral apapun atas nama kebebasan pribadi. Masyarakat seperti masyarakat kita dapat menjadi buta terhadap penderitaan fisik dan tuntutan spiritual dan moral kehidupan. Hal ini tak boleh terjadi dalam komunitas Kristiani! Rasul Paulus mendorong kita untuk mengejar “apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Rom 14:19) demi kebaikan sesama, “untuk mendukung satu sama lain” (Rom 15:2), mencari bukan keuntungan pribadi melainkan lebih kepada “kebaikan setiap orang yang lain, sehingga mereka dapat diselamatkan” (1Kor 10:33). Koreksi yang saling membangun, dukungan dalam semangat kerendahan hati, dan perbuatan amal kasih harus menjadi bagian dari kehidupan komunitas Kristiani.

Murid-murid Tuhan, dipersatukan dengan Dia melalui Ekaristi, hidup dalam persaudaraan yang menyatukan mereka satu dengan yang lain sebagai anggota-anggota dari satu tubuh. Hal ini berarti bahwa sesama adalah bagian dari diriku, dan bahwa hidupnya, keselamatannya, berkaitan dengan hidup dan keselamatanku sendiri. Di sini kita menyentuh aspek yang mendasar dari persekutuan: keberadaan kita berkaitan erat dengan keberadaan orang lain, baik dalam suka maupun duka. Baik dosa-dosa kita maupun perbuatan-perbuatan kasih kita, sama-sama mempunyai dimensi sosial. Hubungan kasih timbal balik ini nampak di dalam Gereja, tubuh mistik Kristus: komunitas tersebut senantiasa melakukan pertobatan, dan memohon pengampunan atas dosa-dosa anggotanya, namun juga tak pernah gagal untuk bersukacita dalam teladan-teladan kebajikan dan perbuatan amal kasih yang hadir di tengah-tengahnya. Sebagaimana St. Paulus berkata: “supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan (1 Kor 12:25), sebab kita semua adalah anggota dari satu tubuh. Perbuatan amal kasih kepada saudara dan saudari kita – sebagaimana dinyatakan dalam pemberian derma, sebuah perbuatan yang diiringi dengan doa dan puasa, adalah perbuatan yang menjadi ciri khas masa Prapaskah – berakar dari kepemilikan bersama. Umat Kristiani juga dapat menyatakan keanggotaannya di dalam satu tubuh yang adalah Gereja melalui kepedulian yang konkrit bagi mereka yang paling miskin dari yang miskin. Kepedulian kepada satu sama lain juga berarti mengakui kebaikan yang sedang dikerjakan Tuhan dalam diri sesama dan menaikkan ucapan syukur atas keajaiban rahmat di mana Allah Yang Maha Besar di dalam segala kebaikan-Nya terus menerus menggenapinya di dalam diri anak-anak-Nya. Ketika umat Kristen memandang bahwa Roh Kudus sedang terus bekerja di dalam diri sesama, mereka tidak dapat berbuat yang lain selain bersukacita dan memuliakan Allah Bapa di surga (bdk. Mat
5:16).
3. “Supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”: berjalan bersama dalam kekudusan.
Kata-kata dari Surat kepada orang Ibrani ini (10:24) mendorong kita untuk merefleksikan panggilan universal kepada kekudusan, sebuah perjalanan yang terus menerus dari kehidupan spiritual sebagaimana kita mengusahakan untuk memperoleh karunia-karunia spiritual yang lebih utama dan kepada perbuatan amal kasih yang lebih bermakna dan berhasil guna (bdk. 1 Kor 12:31-13:13). Menjadi peduli satu sama lain selayaknya menggerakkan kita kepada kasih yang bertambah dan lebih efektif di mana, “seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari” (Ams 4:18), membuat kita hidup setiap hari sebagai antisipasi akan datangnya hidup kekal yang menantikan kita di dalam Tuhan. Waktu yang dikaruniakan kepada kita dalam hidup ini adalah berharga untuk menilai secara bijaksana dan menampilkan perbuatan-perbuatan yang baik dalam cinta kasih kepada Tuhan. Dengan cara ini, Gereja sendiri senantiasa tumbuh kepada kedewasaan penuh di dalam Kristus
(bdk. Ef 4:13). Ajakan kita untuk mendorong satu sama lain untuk meraih kepenuhan cinta dan perbuatan baik berada di dalam prospek pertumbuhan yang dinamis ini.

Sayangnya, senantiasa ada godaan untuk menjadi suam-suam kuku, untuk memadamkan Roh, untuk menolak menanamkan berbagai talenta yang telah kita terima, demi kebaikan kita sendiri dan kebaikan sesama kita (lih. Mat 25:25–). Semua dari kita telah menerima kekayaan spiritual atau material yang dimaksudkan untuk digunakan bagi kepenuhan rencana Allah, demi kebaikan Gereja dan demi keselamatan kita sendiri (bdk. Luk 12:21b; 1 Tim 6:18). Pakar-pakar rohani mengingatkan kita, bahwa dalam kehidupan beriman, mereka yang tidak bertumbuh akan dengan sendirinya mengalami kemunduran. Saudara dan saudari yang terkasih, marilah kita menerima undangan ini, hari ini, seperti tak ada waktu lain yang lebih baik, untuk menuju ke “standar yang tinggi dari kehidupan Kristiani” (Novo Millennio Ineunte, 31). Kebijaksanaan Gereja dalam mengenali dan memproklamasikan orang-orang Kristen tertentu yang luar biasa sebagai Yang Terberkati dan para Santo/a juga dimaksudkan untuk menginspirasi sesama agar mencontoh kebajikan mereka. Santo Paulus menghimbau kita untuk “saling mendahului dalam memberi hormat” (Rom 12:10).

Dalam dunia yang menuntut dari umat Kristen sebuah kesaksian yang diperbaharui akan cinta dan kesetiaan kepada Tuhan, kiranya kita semua merasakan kebutuhan yang mendesak untuk saling mendahului dalam berbuat amal kasih, pelayanan dan pekerjaan-pekerjaan baik (bdk. Ibr 6:10). Permohonan ini terutama ditekankan dalam bulan yang suci ini sebagai persiapan Paskah. Sebagaimana saya menaikkan harapan-harapan yang baik dalam doa-doa saya demi masa Prapaskah yang penuh berkat dan menghasilkan banyak buah, saya mempercayakan Anda semua dalam perantaraan doa Bunda Maria Tetap Perawan dan dengan penuh kehangatan saya memberikan Berkat Apostolik saya.



Dari Vatikan, 3 November 2011
Bapa Paus Benediktus XVI

Catatan: Berikut ini adalah terjemahan tidak resmi (unofficial  translation)  pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk masa prapaskah 2012, yang diterjemahkan oleh katolisitas.org dari dokumen aslinya dalam Bahasa Inggris, seperti yang tertulis di sini –silakan klik. Mohon agar pengutipan terjemahan ini dapat menyertakan sumbernya, yaitu: www.katolisitas.org, sehingga usulan atau masukan dapat disampaikan kepada kami.

Senin, 09 Januari 2012

Salam 2012

Bapak dan Ibu, serta Saudara-saudari terkasih,

Selamat Natal 2011 dan Selamat Tahun Baru 2012, semoga kebahagiaan menyertai kita semua. Imanuel (Mat 1:23).

Mohon maaf atas ketidaknyamannya dalam mengunjungi webblog saya.

Salam Damai

SY Melki SP



Kamis, 22 Desember 2011

Kinnaman: Mengapa Banyak Kaum Muda (Barat) Jarang Aktif ke Gereja?


Why many young people stop being active Church-goers

Semakin nyata bahwa banyak kaum muda terutama di barat sudah tidak lagi aktif ke Gereja. Sebuah buku hasil riset dari Barna Group mengungkapkan mengapa banyak kaum muda “terjatuh” saat memasuki kedewasaan.




Pada awal pembukaan dari buku tersebut, digarisbawahi tiga (3) realita yang harus dipahami seputar dunia kaum muda:
1. Gereja secara aktif memang memiliki banyak kegiatan bersama kaum muda, namun ternyata banyak kaum muda yang justru tidak bertumbuh kedewasaan imannya dalam menjadi pengikut Kristus yang sejati.
2. Ada banyak alasan mengapa orang-orang jatuh dalam dosa dan keputusasaan, oleh sebab itu sangatlah penting untuk tidak menghakimi seluruh generasi.
3. Gereja tidak sigap dan tepat dalam mempersiapkan generasi berikutnya untuk menjadi pengikut Kristus dalam konteks peradaban budaya yang berkembang sangat cepat.

Masalahnya, Kinnaman menjelaskan, adalah bukan pada bahwa kaum muda kurang aktif ikut kegiatan di Gereja. Fakta mengungkapkan bahwa dari 5 anak muda Amerika, 4 di antaranya menghabiskan masa kecil dan remaja mereka di paroki mereka. Yang terjadi selanjutnya adalah bahwa aktivitas itu menurun ketika mereka berusia 20-an tahun. Masalah terbesarnya adalah bahwa dunia mereka mulai terputus dari Gereja. Bahkan dikatakan oleh Kinnaman, perjuangan mereka untuk setia aktif mengikuti kegiatan di Paroki lebih besar dari pada perjuangan untuk setia menjadi pengikut Kristus.

Faktor Penting yang mempengaruhi kaum muda saat ini adalah situasi peradaban di mana mereka tinggal. Secara khusus kaum muda, mereka menghadapi situasi perubahan jaman yang sangat cepat. Selama kurang lebih 10 tahun terakhir terdapat banyak sekali perubahan dalam media massa, teknologi, seksualitas dan ekonomi. Hal ini semakin menambah kompleksitas dan ketidakpastian dalam masyarakat. Mengenai perubahan jaman yang sangat cepat ini, Kinnaman menjelaskannya dalam tiga konsep yaitu, Akses, Keterasingan dan Otoritas.

Mengenai konsep pertama yaitu, Akses, ia menjelaskan bahwa dalam perkembangan dunia digital saat ini telah terjadi revolusi dalam hal berhubungan dan berkomunikasi, bekerja serta berpikir. Teknologi telah merubah semuanya. Jelas ada sisi positifnya yaitu seperti Internet dan perangkat digital lainnya, semuanya itu semakin memudahkan dalam penyebaran pesan iman dan moral Kristianitas. Namun, hal itu juga berarti segala perangkat tersebut juga membuat kaum muda semakin mudah mengetahui budaya-budaya lain yang justru dapat mengguncang keyakinan mereka. Hal lain lagi adalah berkurangnya pemahaman secara logis dan lurus.

Konsep yang kedua, yaitu Keterasingan, Kinnaman menjelaskan bahwa ada banyak kaum remaja dan kaum muda yang beranjak dewasa yang merasa terasing dan tersisihkan dari keluarga, komunitas dan institusi mereka. Tingginya tingkat perceraian dan kehamilan di luar pernikahan menunjukkan banyak dari mereka yang bertumbuh di luar struktur keluarga tradisional. “Banyak Paroki yang tidak mempunyai solusi pastoral yang secara efektif mendampingi kaum muda menjalani masa transisi menuju ke kedewasaan,” ungkap Kinnaman.

Ditambah lagi, bahwa kaum muda saat ini sangat skeptic terhadap institusi yang dahulu telah membentuk masyarakat. Jaringan akar rumput dan kerjasama nyata sesungguhnya lebih diutamakan dari pada institusi hierarkis. Skeptisisme itu kemudian berkembang menjadi ketidakpercayaan atas adanya Otoritas, yang adalah konsep ketiga dari Kinnaman yang telah disebut di atas. Kecenderungan atas pluralisme dan bahkan keyakinan atas ide-ide yang bertentangan lebih diutamakan dari pada Kitab Suci dan Norma Moral.

Sebenarnya “Budaya Mempertanyakan” dapat membawa orang menuju kepada kebenaran dan ketegangan antara iman dan budaya juga membawa pemahaman positif, namun hal itu kini membutuhkan bentuk baru pendekatan Gereja. Kinnaman mengakui bahwa ada beberapa alasan mengapa kaum muda meninggalkan Gereja. Beberapa kaum muda merasa frustrasi dan beranggapan bahwa Gereja mengekang kreativitas dan ekspresi pribadi. Yang lain lagi merasa bosan, dangkal dan hampa dengan pengajaran dan khotbah yang ada. Kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak disertai juga kemajuan pemikiran teologis iman pun turut andil, dan sebagainya.

Kinnaman menemukan fakta bahwa Gereja telah gagal dalam mendidik secara mendalam dan progresif para generasi muda. Pada akhir bukunya Kinnaman merekomendasikan sebuah solusi atas hal tersebut yaitu, perlu segera diadakan perubahan cara berpikir dan bertindak dari para generasi tua Gereja berhadapan dengan generasi muda. Para generasi tua hendaknya jangan berada dalam posisi yang menghakimi generasi muda, melainkan merangkul dan memahami. Selain itu Kinnaman, juga mendesak agar segera ditemukan konsep teologis yang baru terkait dengan konsep Panggilan yang dapat memancing kaum muda untuk lebih dalam bertanya atas relasinya dengan Allah.

from Keuskupan Agung Jakarta [ http://www.kaj.or.id ]

Perbedaan Teologi Katolik dan Teologi Protestan

exported from Keuskupan Agung Jakarta [ http://www.kaj.or.id ]




Kalau membicarakan tentang perbedaan antara teologi Katolik dan teologi protestan, maka sebenarnya perlu didefinisikan Protestan yang mana. Oleh karena itu, jawaban ini hanya dapat memberikan gambaran umum dan memberikan prinsip-prinsip umum. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada saudara/i dari umat Protestan, saya akan mencoba memaparkan beberapa perbedaan yang memang nyata.  Perbedaan antara teologi Katolik dan teologi Protestan secara umum, kalau mau disarikan adalah: (1) Konsep pilar kebenaran, (2) Konsep otoritas, (3) Konsep ekklesiologi, (4) sakramen dan liturgi, (5) Konsep keselamatan, (6) Konsep mediasi.

1. Tiga pilar (Kitab Suci, Tradisi Suci, Magisterium Gereja) vs Sola Scriptura

Gereja Katolik mempercayai tiga pilar kebenaran: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja, sedangkan mereka mempercayai hanya Kitab Suci sebagai satu-satunya sumber kebenaran (sola scriptura). Gereja Katolik tidak menolak bahwa Kitab Suci adalah pilar kebenaran, namun Gereja Katolik menolak bahwa satu-satunya pilar kebenaran hanyalah Kitab Suci (Sola Scriptura). Penolakan ini disebabkan karena: (a) Kitab Suci sendiri tidak pernah mengatakan demikian bahkan menekankan pentingnya Magisterium Gereja dan sumber tertulis maupun lisan, (b) Gereja lahir terlebih dahulu sebelum Kitab Suci, (c) Gereja dengan inspirasi Roh Kudus yang menentukan buku-buku mana yang masuk dalam Kitab Suci, (d) Sola Scriptura tanpa ada otoritas yang menentukan interpretasi yang benar membawa perpecahan. Dengan demikian, mempercayai tiga pilar ini sebetulnya lebih alkitabiah dibandingkan mempercayai Sola Scriptura.

2. Konsep tentang otoritas

Gereja Katolik mempercayai bahwa Kristus memberikan otoritas kepada Rasul Petrus dan penerusnya, yaitu para Paus (lih. Mat 16:16-19) serta para rasul yang lain – yang diteruskan oleh para uskup (lih. Yoh 20:21-23). Mereka inilah yang disebut dengan Magisterium Gereja. Dan fungsi pengajaran ini ditegaskan dalam Luk 10:16 “ Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” Karena Kristus sendiri yang memberikan otoritas kepada para Paus dan para uskup, maka umat Katolik dengan kerendahan hati mengikuti apa yang diperintahkan Kristus dan memberikan diri untuk mentaati pengajaran yang diberikan oleh Magisterium Gereja – yang bersumber pada Kitab Suci dan Tradisi Suci. Sebaliknya, umat dari gereja non-Katolik menganggap bahwa semua umat beriman mempunyai otoritas dan bertanggungjawab secara langsung kepada Kristus dan tidak perlu mentaati pengajaran dari siapapun – sebagai akibat dari point 1, yaitu Sola Scriptura. Dengan otoritas ini, maka Gereja Katolik dapat melewati sejarah dengan tetap mengajarkan pengajaran iman yang sama dari satu generasi ke generasi yan lain.

3. Konsep ekklesiologi

Satu hal menyolok yang memang berbeda antara Gereja Katolik dan gereja-gereja non-Katolik adalah dalam mengerti konsep Gereja atau ekklesiologi. Bagi Gereja Katolik, Kristus mendirikan satu Gereja, yaitu Gereja Katolik (lih. Mat 16:16-19). Gereja Katolik inilah yang menjadi Tubuh Mistik Kristus (Ef 1:23; Ef 5), yang mempunyai empat tanda – satu, kudus, katolik dan apostolik –, serta menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa. Gereja juga harus dimengerti sebagai cara (means) dan tujuan (end) – silakan melihat artikel ini – . Dengan kata lain, Gereja adalah pemberian Allah, tanda kasih Allah kepada umat Allah yang harus diterima, dijaga dan sekaligus menjadi tujuan, karena didirikan oleh Kristus, dijiwai oleh Roh Kudus dan mengantar umat manusia kepada keselamatan. Sedangkan bagi gereja-gereja non-Katolik, gereja dipandang hanya sebagai persatuan umat beriman yang percaya kepada Kristus, walaupun antar gereja mempunyai pengajaran yang berbeda-beda.


4. Sakramen dan liturgi

Gereja Katolik mengenal adanya tujuh sakramen: Sakramen Permandian, Sakramen Ekaristi, Sakramen Penguatan, Sakramen Tobat, Sakramen Perminyakan, Sakramen Imamat, Sakramen Perkawinan. Tujuh Sakramen ini diinstitusikan sendiri oleh Kristus sebagai cara biasa untuk menyalurkan rahmat-Nya kepada umat Allah.

Sedangkan Kristen non-Katolik hanya mengenal Sakramen Baptis dan Sakramen Ekaristi (kadang termasuk juga Sakramen Tobat) – bagi Lutheran. Bahkan dua sakramen inipun mempunyai arti berbeda dengan apa yang dipercayai oleh Gereja Katolik. Mereka tidak mempercayai bahwa baptisan adalah cara yang dipakai oleh Kristus sebagai cara untuk menyelamatkan manusia. Dan Perjamuan Suci juga hanya dianggap sebagai simbol, sedangkan Gereja Katolik mempercayai bahwa Kristus hadir secara nyata (Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan) dalam rupa roti dan anggur.

5. Konsep keselamatan

Bagi umat Katolik keselamatan adalah merupakan anugerah Allah dan hal ini juga dipercayai oleh gereja-gereja non-Katolik. Namun, selain rahmat Allah, Kitab Suci juga mencatat hal-hal lain, seperti: pentingnya iman untuk keselamatan, baptisan yang menjadi syarat keselamatan, orang akan diadili menurut perbuatannya. Dengan demikian, Gereja Katolik tidak mempercayai hanya iman (sola fide) dalam keselamatan seperti yang dipercayai oleh gereja-gereja non-Katolik, karena Kitab Suci memang tidak pernah mengatakan bahwa hanya karena iman saja, kita diselamatkan. Bahwa iman menjadi syarat keselamatan (Ibr 11:6) adalah benar, namun bukan iman saja.


6. Maria dan para kudus

Perbedaan lain yang menonjol adalah konsep mediasi. Gereja Katolik mempercayai bahwa semua orang dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Kristus. (lih. 1Kor 3:9) Kalau kita semua dipanggil menjadi teman sekerja Kristus, apalagi Maria, Bunda Allah dan para kudus. Bunda Maria dan para kudus adalah mereka yang sungguh telah bekerjasa dengan rahmat Allah, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah. Gereja Katolik melihat bahwa kematian tidaklah memisahkan orang-orang yang telah dibenarkan oleh Allah dengan umat Allah di dunia ini. (lih. Rom 8:38-39). Sedangkan gereja-gereja non-Katolik memandang bahwa orang-orang yang telah meninggal sama sekali terpisah dari umat Allah yang masih mengembara di dunia ini.

Demikian, apa yang dapat saya sampaikan secara prinsip tentang perbedaan teologis antara Gereja Katolik dan gereja-gereja non-Katolik. Kalau mau disarikan, maka ada tiga hal perbedaan: otoritas, pilar kebenaran dan mediasi. Semoga jawaban ini dapat menjawab pertanyaan anda.

Sejarah Singkat KAJ


Keuskupan Agung Jakarta adalah wilayah formal Gereja Katolik Roma yang tertua di Indonesia, dimulai dengan status Prefektur Apostolik tahun 1807. Secara resmi prefektur apostolik ditingkatkan menjadi Vikariat ApostolikBatavia pada tanggal 3 April1842 yang meliputi seluruh wilayahHindia Belanda dengan Vikaris Apostolik pertamanya Mgr. I. Groff. Pada periode 1855 hingga 1948 wilayah Vikariat Apostolik Batavia semakin menyempit dengan didirikannya berbagai vikariat apostolik yang baru di luar Jawa dan di pulau Jawa sendiri. Seiring kemerdekaan Indonesia, pada7 Februari1950nama Vikariat Apostolik Batavia diubah menjadi Vikariat Apostolik Djakarta. Status Vikariat Apostolik kemudian ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Djakarta pada tanggal 3 Januari1961 dengan 2 keuskupan sufragan yaitu: Keuskupan Bandung dan Keuskupan Bogor. Sesuai dengan perubahan ejaan bahasa, nama Keuskupan Agung Djakarta diubah menjadi Keuskupan Agung Jakarta pada tanggal 22 Agustus1973.


Di Museum Nasional Indonesia di Jakarta disimpan sebuah batu besar yang awalnya ditanam di pantai Sunda Kelapa. Batu berpahatkan tanda salib bertahunkan 1522 ini adalah peringatan hubungan antara pelayaran Portugis dan kerajaan Pajajaran.Ini adalah tanda awal hadirnya Katolik di Jakarta kini. 

Kemudian saat VOC berkuasa, 1619 hingga 1792, semua kegiatan Katolik dilarang, dan para imam Katolik juga dilarang untuk berkarya di wilayah kekuasaan VOC di Batavia, bahkan seorang Jesuit Egidius d'Abreu, S.J. dibunuh pada tahun 1624. Kegiatan Katolik hanya diijinkan di luar tembokBatavia bagi orang-orang keturunan Portugis dengan didirikannya Gereja Portugis di luar kota pada tahun 1696, kini menjadi Gereja Sion di Jl. P. Jayakarta. Keturunan Portugis ini juga diberi lahan bertani di daerah yang kini disebut daerah Tugu.Pada abad ke-18 ini VOC membebaskan imam-imam Katolik untuk singgah di Batavia untuk melayani umat-umat, baik yang keturunan Portugis maupun juga pegawai VOC.Pada masa Daendelsbarulah umat Katolik diijinkan untuk merayakan misa secara terbuka, pada tahun 1808.Daendels juga memberikan Gereja Katolik resmi pertama di Batavia pada tahun 1810 bertempat di Gang Kenanga Utara, daerah Senen sekarang.Gereja perdana ini sudah dibongkar pada tahun 1989.Pada tahun 1830 Gubernur Jendral Du Bus de Ghisignies menghibahkan tempat kediaman komandan tentara dan wakil gubernur jendral kepada Prefektur ApostolikBatavia. Di lahan inilah kini berdiri Gereja Katedral Jakarta. 

Pada tahun 1856suster-susterUrsulin mendirikan biara susteran pertama 'Groot Kloster' di Batavia di Jl Juanda dilanjutkan biara keduanya 'Klein Klooster' di Jl Pos pada tahun 1859 diikuti biara-biara Ursulin lain di daerah Jatinegara dan Kramat. Suster-suster dari Carolus Borromeusmembuka Rumah Sakit Sint Carolus pada tahun 1919. Saat-saat awal tersebut imam-imam Jesuitlah yang menyelenggarakan karya pastoral di wilayah Batavia baru kemudian dibantu oleh imam-imam Fransiskan pada tahun 1929 dan imam-imam dari Misionaris Hati Kudus (MSC]] tahun 1932. Dalam bidang pendidikan, imam-imam Yesuit mendirikan Perkumpulan Strada tahun 1924.Sekolah pertamanya dibuka tahun itu juga di daerah Gunung Sahari.Pada tahun 1927Perkumpulan Strada mendirikan sekolah menengah berasrama di Menteng yang kemudian menjadi Kolese Kanisius pada tahun 1932. 

Pada masa pendudukan Jepang, Vikaris Apostolik Batavia saat itu Mgr. P. Willekens S.J. mengusahakan agar rumah sakit dan sekolah-sekolah Katolik untuk tetap beroperasi dan tetap melayani umat Katolik di masa sulit tersebut. 

Setelah Indonesia merdeka, Gereja Katolik mulai berkembang kembali.Jumlah umat semakin bertambah, demikian juga dengan jumlahparoki.Paroki Mangga Besar didirikan tahun 1946, paroki di Jl. Malang tahun 1948, paroki Tangerang tahun 1948. Bila pada 1950 baru ada 12 paroki, pada tahun 1960 sudah terdapat 16 paroki, pada tahun 1970 terdapat 23 paroki, pada tahun 1980 terdapat 34 paroki, pada tahun 1988terdapat 39 paroki, pada tahun 1990 terdapat 40 paroki, dan pada 2002 sudah terdapat 53 paroki dengan 411.036 orang umat yang dilayani oleh 277 imam. Pada tahun 2007 diperingati 200 tahun Gereja Katolik di Jakarta.Saat itu sudah terdapat 60 paroki.Puncak Perayaan Agung 200 tahun Gereja Katolik di Jakarta diselenggarakan di Istora - Senayan pada tgl.26 Mei 2007, yang dihadiri pula oleh sebagian besar para uskup di Indonesia.  




Karya Roh Kudus terus bertumbuh dalam wujud pertambahan jumlah umat hingga tahun 2011 telah mencapai lebih dari 466.638 jiwa dan pendirian paroki-paroki: berawal dari Katedral merambah ke seantero wilayah Ibu Kota Jakarta, Bekasi, dan Tangerang. Secara teritorial Keuskupan Agung Jakarta terbagi ke dalam 8 dekenat  dengan  61 paroki dan stasi-stasi yang siap bertumbuh menjadi paroki-paroki baru. 

Gerak Roh Kudus pun mewujudkan kekhasan Gereja metropolitan yang dinamis. Kelompok-kelompok Kategorial bertumbuh subur. Di tengah kesibukan, mereka berhimpun membentuk komunitas  atas dasar kesamaan/ kedekatan perhatian, minat, bidang panggilan, atau profesi tertentu di antara anggota-anggotanya. Pastoral kategorial dikelompokkan ke dalam tiga kelompok besar: (1) Pemikat (Persaudaraan Mitra Kategorial, (2) Karismatik dan (3) PMKAJ (Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta). 

Sebagai Gereja, Keuskupan Agung Jakarta telah melintasi waktu lebih dari 200 tahun. Berhimpun dalam kesatuan umat Allah:

1. Mulai dari “umat bawah tanah” di abad ke-17 dan 18

2. Melalui masa-masa tiga Prefektur di kala Jakarta masih bernama Batavia

3. Melintasi zaman Lima Vikaris Apostolik.

4. Hingga berbuah menjadi Gereja particular Keuskupan Agung Jakarta dengan Uskup Agung pertama Mgr.  A. Djajasepoetra.

5. Di tengah percepatan pertambahan jumlah umat, di era penggembalaan Mgr. Leo Soekoto, pada tahun 1990 Gereja Jakarta menyelenggarakan Sinode pertama. Visi masa depan pun ditetapkan untuk menjadi Gereja yang mandiri, missioner, berdaya pikat dan daya tahan.

6. Iman mengakar dan bertumbuh di dalam perjalanan sejarah Gereja Keuskupan Agung Jakarta. Tak lekang dalam pergolakan negara dan konflik politisi.  Pada dasawarsa yang penuh pergolakan dan perubahan, Keuskupan Agung Jakarta di gembalakan oleh Mgr. Julius Kardinal Darmaatmadja. Di tengah sulitnya mendirikan gedung gereja, pada tgl. 6 Oktober 1996 tonggak sejarah Gereja Jakarta dikenang kembali dengan pemberkatan Gereja Santo Servatius, Paroki Kampung Sawah yang sebagian besar umatnya adalah warga Betawi. Pemberkatan yang menandai dan merayakan seratus tahun berdirinya umat pribumi pertama di Jakarta. Dan pada tahun 2006 dirayakanlah 200th Gereja Keuskupan Agung Jakarta

7. Dengan motto: Serviens Domino cum omni Humilitate, pada tanggal 28 Juni 2010, Mgr. Ignatius Suharyo resmi menjadi Uskup Agung Keuskupan Agung Jakarta. "Aku melayani Tuhan dengan segala kerendahan hati" (Kis. 20:19). Menuntun dan memberi kekuatan dalam pelayanan penggembalaan.

exported from Keuskupan Agung Jakarta [ http://www.kaj.or.id ]

Arah Dasar Pastoral 2011-2015 KAJ

Gereja Keuskupan Agung Jakarta bercita-cita menjadi Umat Allah yang, atas dorongan dan tuntunan Roh Kudus, semakin memperdalam imannya akan Yesus Kristus, membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih di tengah masyarakat.



Dilandasi oleh spiritualitas Gembala Baik dan pelayanan yang murah hati, ditopang oleh tata-penggembalaan partisipatif dan transformatif, seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta berkehendak untuk menyelenggarakan pelbagai kegiatan dalam rangka menghayati dan meneruskan nilai-nilai Injili, ajaran serta Tradisi Gereja Katolik dan melibatkan diri dalam berbagai permasalahan sosial, terutama kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup serta intoleransi dalam hidup bersama.

Rencana kegiatan dan keterlibatan itu dilaksanakan dengan mengembangkan tata layanan pastoral berbasis data; memberdayakan komunitas teritorial lingkungan dan komunitas kategorial menjadi komunitas beriman yang bertumbuh dalam persaudaraan dan berbuah dalam pelayanan kasih; menggerakkan karya-karya pastoral yang kontekstual; menggiatkan kerasulan awam; serta menjalankan kaderisasi dan pendampingan berkelanjutan bagi para pelayan pastoral.

Semoga Bunda Maria, Bunda Gereja, meneguhkan iman, harapan dan kasih kita, agar kita semua, bersama Para Kudus pelindung kita, dengan tulus dan gembira berjalan bersama mewujudkan cita-cita kita.

***

PENJELASAN  ARAH DASAR PASTORAL TAHUN 2011-2015 KAJ

PENJELASAN UMUM

Apa yang dimaksud dengan Arah Dasar Pastoral?

Arah Dasar Pastoral KAJ adalah cita-cita yang dituju oleh Gereja Katolik di wilayah Jakarta, Tangerang dan Bekasi yang ingin bertumbuh dalam kesetiaan kepada Tuhan Yesus Kristus dan kepada bangsa kita. Dengan adanya Arah Dasar itu, kita semua didorong untuk merefleksikan situasi, kondisi dan tantangan khas kita bersama. Atas dasar hasil refleksi itu kita merancang perkembangan kita dari tahun ke tahun menuju keadaan yang dicita-citakan. Tentu saja, semua gerak bersama ini kita lakukan dalam keyakinan teguh bahwa Roh Kuduslah yang mendorong dan menuntun Gereja.

 Bagaimana kita menggunakan/memanfaatkan Arah Dasar Pastoral ini?

Pertama-tama, kita berusaha menangkap inspirasi dari Arah Dasar Pastoral itu, terutama yang mengandung nilai-nilai yang terkait dengan pelayanan kita. Kita mendapatkan “kesan dan pesan” ketika kita menemukan bahwa pelayanan kita diteguhkan dan diarahkan oleh Arah Dasar itu. Ambil contoh, paroki yang sedang menjalankan program beasiswa bagi anak miskin, diteguhkan dengan ungkapan “keterlibatan pada masalah kemiskinan”. Komunitas yang memperhatikan kerasulan keluarga, diarahkan untuk mengusahakan keluarga sebagai paguyuban yang “menghayati dan meneruskan iman”. Maka dengan bantuan Arah Dasar Pastoral, kita bisa merancang tahap-tahap perkembangan, agar segala pelayanan kita berjalan menuju cita-cita yang dirumuskan dalam Arah Dasar Pastoral itu. Kita memantau, mengorganisasikan dan mengevaluasi pelaksanaan­nya. Dengan demikian, Arah Dasar Pastoral ini diharapkan menjadi inspirasi dasar bagi dinamika seluruh Keuskupan menuju keadaan yang dicita-citakan, dari tahun ke tahun, hingga saatnya kita merumuskan Arah Dasar Pastoral yang baru lagi.

  

***

PENJELASAN ISI

Mengapa kita disebut “Umat Allah”?

Ungkapan “Umat Allah” dipilih karena mengandung arti: umat yang mempunyai relasi dengan Allah, yang percaya padaNya, yang berdoa padanya, yang meluhurkanNya. Umat beragama dan berkeyakinan lain pun memiliki pemahaman yang senada, bahwa mereka mempunyai relasi dengan Allah. Yang membuat kita khas adalah bahwa kita beriman pada Allah yang menjelma pada diri Yesus Kristus dan terus-menerus membimbing kita dalam Roh Kudus. Maka ungkapan “Umat Allah” menyiratkan niat inklusif kita, semangat dialog dan kesadaran bahwa kita adalah sesama di hadapan Allah dan sesama sebangsa dan senegara. Ungkapan “Umat Allah”, yang berziarah sepanjang zaman dalam dorongan dan tuntunan Roh Kudus, bersama umat beragama lain, dinyatakan dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium Bab II, terutama artikel 14-17).




 Mengapa ketiga pilar “iman – persaudaraan – pelayanan” menjadi ciri kita sebagai Umat Allah?

“Iman – persaudaraan – pelayanan” adalah tiga kata yang ingin menampilkan iman kita secara utuh. Kita meyakini “bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” (Yak 2:22, TB). Yang kita maksudkan sebagai perbuatan-perbuatan itu adalah persaudaraan sejati dan pelayanan kasih, yang menjadi ungkapan iman. Dengan demikian iman itu tidak hanya menjadi urusan personal dan internal umat, tetapi terwujud dalam perbuatan-perbuatan baik. Dengan demikian, iman memberi makna (“signifikansi” dan “relevansi”) pada keberadaan umat di tengah-tengah masyarakat dan bangsa.

Arah Dasar kita ini dilandasi spiritualitas Gembala Baik dan pelayanan yang murah hati? Apa yang dimaksudkan dengan spiritualitas Gembala Baik?

Kita bicara pertama-tama tentang spiritualitas Gembala Baik. Dibimbing oleh Roh Kudus (itulah sebabnya disebut spiritualitas), kita bertindak seturut teladan Yesus, Sang Gembala Baik. Gembala baik mengenal dan dikenal domba-dombaNya (Yoh 1;14). Gembala Baik peduli pada dombanya yang kesusahan dan tersesat (Bdk. Yeh 34:16). Semangat mengenali dan mempedulikan kebutuhan umat amat dibutuhkan, karena pelayanan pastoral perlu berdasarkan situasi dan kondisi konkret umat. Keuskupan kita terletak di kota besar dengan segala perjuangan hidup umat yang perlu didalami, agar pelayanan Gereja cocok dengan kebutuhan umat. Kecuali itu, spiritualitas Gembala Baik diperlukan, karena dalam kenyataan banyak umat hidup dalam banyak tawaran dan kemungkinan yang bisa “menghilangkan” iman. Entah karena mereka amat sibuk bekerja dan tidak bisa masuk dalam dinamika paroki, entah karena mereka tidak menemukan relevansi iman, entah karena mereka cenderung menjadi anonim, mereka semua senantiasa perlu disapa, ditemukan dan tetap dijadikan bagian dari umat beriman.




Lalu, apa yang dimaksudkan dengan pelayanan yang murah hati?

Pelayanan menjadi murah hati, karena bersumber pada Allah.  “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Luk 6:36, TB). Padanannya adalah pelayanan yang rendah hati, yang dilakukan dalam kesadaran akan Allah Mahatinggi dan diarahkan pada kemuliaanNya. Inilah yang membuat Santo Paulus bisa berkata: “Dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan.” (Kis 20:19, TB). Melayani dengan murah hati dan rendah hati berarti melayani dengan ramah dan gembira, memikirkan bahwa yang diutamakan adalah keselamatan orang yang dilayani, menyadari bahwa segala peraturan dimaksudkan untuk membantu orang untuk menemukan keselamatan, membuat yang dilayani disapa sebagai sesama. Semuanya ini hanya mungkin apabila kita semua menyadari bahwa Roh Kuduslah yang mendorong kita dan memberi kekuatan pada kita. Pelayanan yang murah hati membuat umat merasa kerasan dalam keluarga Gereja.

Mengapa penggembalaan Gereja membutuhkan tatanan/pengelolaan?

Keuskupan kita terdiri dari 61 paroki dan amat banyak komunitas kategorial, baik lintas paroki maupun yang terbatas di daerah tertentu saja. Kita mempunyai pelbagai komisi/seksi dan komunitas kategorial yang memperhatikan bidang dan sasaran pelayanan: katekese, liturgi, pendidikan, kesehatan, karya sosial, media massa, kaum muda, kerasulan awam, lansia. Ada banyak pelayan pastoral, baik klerus maupun awam. Ada aset-aset yang tidak sedikit nilainya. Nah, semuanya itu membutuhkan tata kelola yang baik dan bisa dipertanggungjawab­kan.

Gereja adalah paguyuban umat beriman kepada Kristus. Memakai istilah St. Paulus, Gereja adalah “tubuh Kristus” (1Kor 10:16; Ef, 4:12). Apa yang diajarkan dan diteladankan Yesus Kristus, mendapatkan wujud dalam hal-hal yang melembaga, seperti gedung gereja, liturgi, organisasi, tingkah laku. Kendati kita yakin, peziarahan Gereja sepanjang zaman ada dalam bimbingan Roh Kudus, tidak bisa diandaikan bahwa pelbagai perangkat pendukung hidup Gereja itu tertata baik dengan sendirinya. Diperlukan tata kelola, agar pelbagai perangkat itu menjalankan fungsinya untuk melayani Tuhan (agar setia padaNya) dan untuk melayani umat (agar ada di jalan keselamatan). Tata kelola dengan demikian boleh kita katakan sebagai tata layan, karena memang maksud dasarnya agar kita semua menjadi komunitas yang melayani.

Mengapa tata-penggembalaan Gereja diberi dua sifat: partisipatif dan transformatif?

Kalau Gereja dikatakan sebagai paguyuban umat beriman dan persekutuan dari macam-macam komunitas, maka perekatnya adalah sifat partisipatif itu. Gereja adalah kita semua, yang mempunyai tugas, tanggungjawab dan perutusan untuk saling berbagi. Itulah sebabnya paroki membutuhkan dewan, yang terdiri dari partisipasi wakil-wakil umat (ketua lingkungan, ketua seksi, ketua komunitas kategorial ...). Itulah sebabnya komunitas-komunitas kategorial membutuhkan kepengurusan.

Tentang sifat transformatif, kita memikirkan mengenai semangat  Gereja untuk terus-menerus memperbaharui diri (Ecclessia semper reformanda). Roh Kudus membimbing dan membaharui Gereja dari waktu ke waktu, agar peka dan terbuka pada tanda-tanda zaman, sambil tetap mempertahankan kesetiaan kepada Kristus. Maka kecuali bahwa Gereja menyumbangkan diri bagi peradaban dunia, Gereja pun siap untuk diubah oleh karena kenyataan yang digelutinya berubah. Pelbagai perkembangan diamati dengan kritis dan sepanjang meneguhkan iman akan Kristus, dijadikan bahan untuk memperbaharui diri. Sifat transformatif ini menunjukkan sifat terbuka Gereja pada perkembangan; rendah hati untuk selalu belajar dan mendengar; tidak reaktif namun kreatif dan cerdik menghadapi tantangan.




Mengapa kita perlu menghayati dan meneruskan nilai-nilai Injili, ajaran dan tradisi Gereja Katolik ?

Setiap kali merayakan Ekaristi hari Minggu, kita mengucapkan “Aku Percaya” (Credo). Mengapa demikian? Sebab, Gereja meyakini rumusan iman seperti yang dirumuskan itu sepanjang zaman. Di balik rumusan itu ada nilai-nilai Injili yang terus-menerus dihayati dan diteruskan dari waktu ke waktu dalam rupa tradisi. Keyakinan umat pada zaman tertentu diajarkan dan diteruskan pada umat pada zaman berikutnya. Tak terasa, Gereja sudah meneruskan keyakinan iman itu lebih selama dua puluh abad dan akan terus melanjutkannya.

Kita boleh bertanya, apakah nilai-nilai Injili, ajaran iman dan tradisi Gereja memang diteruskan saat ini? Kita bersyukur akan hal baik yang sudah kita lakukan. Namun, kita menghadapi banyak tantangan. Apakah keluarga di Jakarta masih menjadi tempat penerusan iman? Sejauh manakah anak-anak muda terbuka bagi pengajaran iman, sementara setiap saat mereka dibanjiri informasi dari televisi, internet dan perangkat komunikasi modern mereka? Semuanya ini adalah tantangan sekaligus kesempatan agar kita sungguh-sungguh mampu merumuskan cara dan bentuk baru yang cocok untuk pewartaan Injil.

 Mengapa kita perlu melibatkan diri dalam berbagai permasalahan sosial?

Yang mendasari adalah inkarnasi, peristiwa Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus. Melihat carut-marut dosa di dunia, Allah tidak tinggal diam di surga. Ia menjelma dalam Allah Putra mewujudkan kesetiakawanan dengan umat manusia di dunia. Gereja diutus untuk mengikuti Yesus, Sang “Jalan, Kebenaran dan Hidup” (Yoh 14:6). Kita tidak berada terpisah dari dunia, melainkan menjadikan segala sesuatu di yang terjadi dunia sebagai keprihatinan kita. Lewat keterli­batan dalam pelbagai permasalahan hidup bersama inilah, kita mena­paki jalan keselamatannya. “Kegembiraan dan Harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.” (Gaudium et Spes, art. 1).

Mengapa memilih isu kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup dan intoleransi dalam hidup bersama?

Pilihan tiga isu, yakni kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup dan intoleransi tidak muncul tiba-tiba. Dalam proses perumusan Arah Dasar, beberapa narasumber dan buku-buku acuan memberi rekomendasi untuk memprioritaskan perhatian pada tiga isu tadi. Kita bisa merasakannya dari dekat: banyak orang miskin di sekitar kita yang sulit memenuhi kebutuhan makan dan menyekolah­kan anak; banjir sering datang saat hujan lebat, sementara sungai kotor tidak cukup menampung curahan air; perbedaan agama dan suku beberapa kali memicu konflik. Kita tidak selalu siap mengatasi masalah yang pelik itu, namun kita tidak tinggal diam. Maka pada masa Aksi Puasa Pembangunan, kita mengambil suatu sikap dasar “Mari Berbagi”. Itulah sikap dasar kita, sehingga ketiga isu itu tidak menjadi masalah mereka, tetapi juga menjadi masalah dan keprihatinan kita. Dua habitus yang terus-menerus kita perjuangkan, terkait para pekerja rumahtangga dan buruh (yang kita sapa bukan sebagai penjual tenaga kerja, namun sebagai sesama) serta lingkungan hidup (terutama lewat isu “sampah”) adalah ungkapan bahwa kita mau sungguh terlibat pada isu tadi. Cara kerja inklusif, melibatkan komunitas agama lain, memberi kesaksian mengenai komunitas yang cinta persaudaraan.

Mengapa perlu tata pelayanan pastoral berbasis data?

Agar pelayanan pastoral terselenggara semakin baik dan bisa dipertanggung­jawabkan, dibutuhkan data. Data yang terkumpul pada gilirannya memberikan informasi yang dibutuhkan untuk merumuskan kebijakan. Pelayanan pastoral yang baik harus direncanakan berdasarkan data-data pastoral. Naluri, keprihatinan pribadi dan penerawangan sungguh tidak memadai untuk dijadikan dasar keputusan. Data-data pastoral mencakup kondisi umat secara umum, kebutuhan-kebutuhan pastoralnya (umat membutuhkan pelayanan apa saja dan bagaimana sebaiknya pelayanan itu dilaksanakan secara efektif), maupun data-data lingkungan di sekitar umat (kehidupan sosial masyarakat, tantangan-tantangan dan permasalahan yang dihadapi). Dengan mempertimbangkan data-data tersebut, program-program pastoral bisa direncanakan dengan tepat sehingga pelaksanaanya pun membawa dampak positif bagi perkembangan umat. Sebaliknya, tanpa didasari data-data yang bisa dipertanggungjawabkan, program pastoral cenderung direncanakan berdasarkan pertimbangan pribadi, minat/kesukaan, asumsi-asumsi pelayan pastoral, yang bisa tidak sesuai dengan kondisi umat yang hendak dilayani. Akibatnya, Gereja menawarkan banyak kegiatan tapi tidak menjawab permasalahan dasar umat secara tepat, bahkan bisa jadi tidak membawa perubahan semakin baik.

Mengapa perlu memberdayakan komunitas Lingkungan dan komunitas kategorial?

Kalau kita melihat Gereja sebagai paguyuban dari komunitas-komunitas, maka Lingkungan (teritorial) dan komunitas kategorial (yang berkumpul karena kategori atau fungsi yang sama) adalah yang pembentuknya. Gereja menjadi kuat karena pembentuknya yang berada di basis kehidupan sehari-hari ini juga kuat. Pemahaman ini dituangkan dalam Arah Dasar terdahulu dengan ungkapan “pemberdayaan umat basis”. Gereja paroki menjadi kuat karena warga-warganya yang tinggal berdekatan di Lingkungan meneguhkan iman mereka dalam pertemuan doa, penuh persaudaraan dan pelayanan antar mereka sendiri dan antar sesama warga se-RT dan se-RW. Saudara yang dekat adalah tetangga, kata peribahasa. Nah, komunitas yang hidup berdekatan dan berkumpul di Lingkungan ini selalu perlu diberdayakan, sehingga cita-cita umat basis (yang teguh imannya akan Kristus, yang memiliki persaudaraan sejati dan yang mewujudkan pelayanan kasih) bisa semakin tercapai. Spiritualitas Gembala Baik dan pelayanan yang murah hati pertama-tama perlu dihayati dalam komunitas-komunitas ini dengan kepekaan untuk memperhatikan peristiwa-peristiwa keluarga (kelahiran, perkawinan, kematian) yang bisa dipakai sebagai pintu masuk persaudaraan dan pelayanan.




Apa yang dimaksud dengan karya pastoral yang kontekstual?

Setiap hal yang dilakukan Gereja dalam rangka penggembalaan umat perlu mempertimbangkan konteks nyata kehidupan. Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan agar karya pastoral bersifat kontekstual. Yang pertama, adalah kesetiaan Gereja terhadap Kristus yang dihayati lewat ungkapan-ungkapan seperti ibadat, pengajaran dan penerimaan sakramen. Yang kedua adalah konteks kehidupan yang selalu berkembang dan berubah, yang sungguh perlu dijadikan konteks bagi yang pertama tadi. Gereja berada di tempat dan waktu tertentu dengan segala kekhasan dan permasalahannya. Kalau yang kedua ini sungguh-sungguh diperhatikan, maka yang pertama tadi, akan memberi relevansi dan signifikansi pada kehidupan nyata. Dibutuhkan kepekaan untuk mencermati “tanda-tanda zaman”, berdasarkan data, dengan assesment, dengan angket dan studi, agar karya-karya Gereja sungguh-sungguh makin melayani kebutuhan nyata umat dan masyarakat.

Mengapa kerasulan awam mendapat perhatian khusus?

Di KAJ, para imam, bruder dan suster berjumlah sekitar 1500, sementara jumlah umat sekitar 465 ribu. Dari perbandingan kasar ini bisa disimpulkan bahwa Gereja KAJ terdiri dari mayoritas kaum awam. Dengan demikian, keterlibatan Gereja dalam penanggulangan kemiskinan, pemeliharaan dan pembenahan lingkungan hidup, pelayanan kesehatan, peningkatan toleransi amat ditentukan oleh gerak para awam yang ingin merasul dalam setiap pekerjaan dan keterlibatan mereka. Kerasulan awam ini menjadi hal yang tidak boleh tidak niscaya dikembangkan sehingga mereka menyumbangkan kebaikan bagi Gereja dan masyarakat.

Apa yang dimaksud dengan kaderisasi dan pendampingan pelayan pastoral?

Kita menginginkan bahwa Gereja berlangsung sepanjang zaman. Namun dalam kenyataan, kita rasakan beberapa kesulitan dan tantangan. Menemukan pengurus Lingkungan dan pengurus komunitas tidak gampang. Mengajak orang muda untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan Gereja, bukan soal sederhana. Menyemangati orang Katolik agar tampil sebagai rasul dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan politik, bukan hal mudah. Maka kita bersyukur bahwa kendati tidak gampang, toh selalu ada orang yang merelakan diri. Oleh karena itu kaderisasi dan pendampingan diperlukan, demi kepentingan Gereja di masa depan, untuk tujuan-tujuan yang membuat Gereja makin siap menanggapi tantangan setiap zaman.

Dalam kenyataannya, pelayanan dan penggerakan ratusan ribu umat Katolik KAJ amat dipengaruhi oleh partisipasi, aktifitas dan motivasi dari para pelayan pastoral yang jumlahnya ribuan saja. Selama ini ditengarai bahwa di banyak tempat, para awam pelayan pastoral adalah ‘itu-itu saja’.  Pendampingan para pelayan pastoral amatlah penting dalam rangka tetap menjaga bara semangat dan ketahanan spiritualitas mereka. Kaderisasi jelas diperlukan, untuk menjaga kelangsungan dinamika Gereja KAJ dari tahun ke tahun.

from Keuskupan Agung Jakarta [ http://www.kaj.or.id ]

Kamus Indonesia