Kalender Liturgi

Senin, 12 September 2011

Sekitar Prosesi Liturgi Sabda


Sekitar Prosesi Liturgi Sabda
I: “Tu-han ber-sa-ma-mu.” U: “Dan ber-sama roh-mu.” I: “Inilah In-jil Ye-sus Kris-tus menurut Ma-ti-us.” U: “Dimuliakan-lah Tu-han.” Merupakan seruan pemakluman Injil yang biasa dibawakan oleh Imam atau Diakon bersama umat sebelum Injil dibacakan.
Dalam uraian C.H.Suryanugraha,OSC bahwa terdapat tujuh kali tanda salib dalam Misa. Di antaranya tiga tanda salib kecil pada dahi-mulut-dada sebelum mendengarkan Injil (bdk. hidupkatolik.com, edisi 25 Juli 2011 atau Warta Klara, edisi 7 Agustus 2011).
Berkaitan hal di atas. Bilamanakah pembuatan tiga tanda salib kecil pada dahi, mulut, dan dada dilakukan? Apakah sebelum mengatakan “Dimuliakanlah Tuhan”? Apakah sesudah menyahut “Dimuliakanlah Tuhan”? ataukah pada saat bersamaan mengatakan “Dimuliakanlah Tuhan”?
Ya, yang tepat adalah sesudah menyahut “Dimuliakanlah Tuhan”!
Mengapa pembuatan tiga tanda salib kecil harus dilakukan sesudah menyahut “Dimuliakanlah Tuhan”?
Pada TPE 2005, arti simbol tanda salib yang dibuat ketika memulai bacaan Injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut, dan dada, yaitu untuk mengungkapkan hasrat (tanggapan iman) agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan, dan hati diresapi oleh sabda Tuhan.
Meskipun ini merupakan hal praktis-teknis yang tampak sepele di antara kita-umat. Namun pada kenyataannya, bahwa tidak ada keseragaman pemahaman tata gerak liturgis di antara kita-umat dalam membuat tanda salib kecil pada dahi-mulut-dada sebelum Injil dibacakan.
Masih banyak di antara kita-umat kurang menghayati makna liturgis dari tata gerak ini. Sebagian di antara kita-umat justru membuat tiga tanda salib kecil pada dahi-mulut-dada seraya berkata “Dimuliakanlah Tuhan”. Atau kadang bahkan lebih cepat mendahului dengan tergesa-gesa tanpa peduli sahutannya. Padahal bukanlah demikian.
Reflectio
Sewaktu Imam mengatakan: “Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius” (atau menurut Markus/Lukas/Yohanes sesuai kalender liturgi). Maka Umat tidak segera membuat tiga tanda salib kecil, akan tetapi berseru “Dimuliakanlah Tuhan” dengan penuh pemaknaan, kesadaran, dan kepasrahan menerima Sabda Allah.
Setelah itu, barulah kemudian kita-umat membuat tiga tanda salib kecil pada dahi, mulut dan di dada dengan menggunakan jari tangan kita disertai rumusan perkataannya.
Memangnya, apakah rumusan perkataan dan arti pembuatan tanda salib kecil pada dahi, bibir, dan dada?
Rumusan perkataannya adalah “Sabda-Mu kuterima dengan budiku”; “Kuwartakan dengan mulutku”; “dan kusimpan dalam hatiku.
Saat pembuatan tanda salib pada dahi, kita berkata dalam hati: “Sabda-Mu kuterima dengan budiku” hal ini berarti bahwa Sabda Allah itu kita pikirkan dan kita renungkan.
Saat pembuatan tanda salib pada mulut (bibir), kita berkata dalam hati: “Kuwartakan dengan mulutku” hal ini berarti bahwa Sabda Allah itu kita wartakan pula kepada orang lain.
Saat pembuatan tanda salib pada dada, kita berkata dalam hati: “dan kusimpan dalam hatiku.” hal ini berarti bahwa Sabda Allah itu kita simpan, kita resapkan dalam hati, dan akan kita laksanakan (bdk. E.Martasudjita,Pr; 2004, 40).
Sementara itu, untuk aklamasi sesudah Injil, kita tidak perlu lagi membuat tanda salib. Sesudah Imam/Diakon membacakan Injil, maka akan diakhiri dengan perkataan: ”Demikilah In-jil Tu-han.” Dan Umat menyahut: “Ter-pu-ji-lah Kris-tus.” Kemudian kita-umat duduk dengan sikap tenang untuk mendengarkan Homili Imam (lht. TPE 2005, 33-34).
Actio
Rumusan perkataan yang menyertai pembuatan tiga tanda salib tersebut harus kita lakukan dengan penuh hikmat dan sadar akan kehadiran Allah: Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Nah, kini menjadi jelas, bahwa agak sulit bagi kita-umat apabila akan mengatakan tiga rumusan perkataan dalam hati dan sekaligus pembuatan tiga tanda salib kecil pada dahi, mulut, dan dada sementara di saat bersamaan itu kita sedang mengucapkan sahutan aklamasi sebelum Injil.
Dengan demikian, maka rumusan perkataan dan pembuatan tiga tanda salib kecil pada dahi, mulut dan dada harus dilakukan sesudah berseru “Dimuliakanlah Tuhan”. Silakan mulai berlatih di rumah sambil mengingat rumusan di atas.
Akhirnya, hal praktis tata-gerak liturgis tiga tanda salib kecil ini menyadarkan kita, bahwa akal-budi kita diterangi, mulut kita disanggupkan untuk mewartakan, dan hati kita diresapi oleh sabda Tuhan. Selamat mencoba dalam prosesi Liturgi Sabda!
Oratio
“Allah Tritunggal: Bapa, Putera, dan Roh Kudus, terpujilah selama-lamanya. Amin.”
*TPE: Tata Perayaan Ekaristi-Buku Umat. 777melki@facebook.com (SY Melki SP).

BERDOA DENGAN KITAB SUCI


BERDOA DENGAN KITAB SUCI
Pameo “tak kenal maka tak sayang”, dapat berlaku pada analogi berikut: “tidak mengenali Sabda Yesus maka tidak menyayangi Tuhan Yesus”.
Acap kali kita (Katolikers) mengabaikan salah satu kewajiban pokok kerohanian Kristiani, yakni merenungkan Kitab Suci. Kadang muncul dalam benak Katolikers: mulai dari perikop/kitab manakah yang hendaknya direnungkan? Adakah cara praktis membaca Kitab Suci dari Kejadian-Wahyu?
Bagi Katolikers yang sering nongol di dunia digital, tentu saja dapat membaca Kitab Suci secara lebih praktis. Selain tersedia software Kitab Suci untuk merk handphone, laptop atau untuk tablet-android tertentu, namun tersedia pula kalender liturgi harian secara online ‘n updated, misalnya di situs: www[dot]imankatolik[dot]or[dot]id.
Kitab Suci: Bulan dan Angka?
“Koooq… bulan Kitab Suci hanya pada bulan September?” Penetapan bulan September sebagai bulan Kitab Suci bukan ditentukan secara tematik-numerik, tetapi berdasarkan keputusan pastoral Gereja Katolik Indonesia. Sejak tahun 1977, MAWI (sekarang: KWI) menetapkan bahwa setiap hari Minggu pertama bulan September dirayakan sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional (HMKSN). Perayaan ini bersifat Nasional untuk menanamkan rasa cinta kepada Sabda Allah pada hati umat Katolik Indonesia (bdk. Pidyarto,O.Carm, 2001, 114).
Kemudian dalam perkembangannya, seluruh keuskupan di Indonesia memperpanjang perayaan HMKSN ini menjadi Bulan Kitab Suci Nasional (sekarang: BKSN). Oleh karena itu, selanjutnya disusunlah tema-tema pendalaman iman sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia.
Ohiyaaa… Ada salah satu yang menarik sampai detik ini untuk sebagian orang numerisme, yang sering menganggap angka dapat membawa hoki dan juga apes. Satu di antaranya kepercayaan mengenai angka 666 dalam Wahyu 13:18, yang secara keliru sering ditafsirkan sebagai angka setan. Padahal, menurut kebanyakan ahli, angka 666 adalah bilangan sandi untuk Kaisar Nero.
Bagi pengikut numerisme (paham kepercayaan terhadap angka), membenarkan pendapatnya bahwa angka dapat membawa apes atau hoki untuk angka-angka tertentu, dengan menyertakan ayat Kitab Suci sebagai dasar argumentasinya. Kesesatan ini perlu diwaspadi para Katolikers.
Katolikers harus ingat bahwa pembagian bab dan ayat dalam Kitab Suci bukanlah asli dari Kitab Suci melainkan dibuat oleh Stephanus Langton (bdk. Pidyarto,O.Carm, 2004, 116). Jadi, pokok iman kita bukan pada numerik ataupun mitos tahayul, melainkan terletak pada iman akan Allah yang mewahyukan diri-Nya (lht. Kredo – Syahadat Para Rasul).
Reflectio
Tradisi Kristiani mempunyai tiga betuk untuk mengungkapkan dan menghayati doa, yakni doa dengan kata-kata, meditasi, dan doa kontemplatif (KKGK 568). Dua bentuk doa yang terakhir biasanya sering menggunakan Kitab Suci.
Betuk doa pertama, yaitu doa dengan kata-kata yang menggabungkan badan dengan kedalaman doa batin. Yang penting doa harus selalu keluar dari iman personal. Dengan doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan bentuk sempurna doa dengan kata-kata.
Kedua, meditasi adalah refleksi penuh doa yang dimulai dengan sabda Allah dalam Kitab Suci. Meditasi adalah langkah pertama untuk menuju persatuan dengan Allah kita.
Ketiga, doa komtemplatif yang melulu hanya memandang Allah dalam keheningan dan cinta. Santa Teresa Avila menggambarkan doa kontemplatif sebagai hubungan persahabatan yang amat erat,’”sering tinggal sendiri bersama Allah yang kita tahu mencintai kita’” (KKGK 569-571).
Bagaimana kita membaca dengan mendoakan Kitab Suci? Kiranya langkah-langkah ini akan sangat membantu:
(1) Doa persiapan, penyadaran diri bahwa diri berada di hadirat Allah.
(2)
Memohon rahmat yang kita perlukan.
(3)
Membaca teks Kitab Suci dengan pelan-pelan, atau dengan ritme, atau pula dengan diucapkan lirih.
(4)
Bila ada perasaan tertarik akan suatu kata atau kalimat, berhenti di situ, membaca lagi dan lagi yang menarik itu. Merasakan, mengunyah kata-kata itu, mencerna dan membatinkan.
(5)
Lalu ditutup dengan doa spontan sesuai dengan perasaan yang muncul.
Sesudah itu, kita mengadakan refleksi atas pengalaman doa:
(1) Bagaimana jalannya doa?
(2)
Batin dan budi mengalami penerangan apa?
(3)
Hati dan perasaan mengalami pengalaman batin apa?
(4)
Kehendak kita dibawa dan digerakkan ke mana?
(5)
Apakah kita merasa terhibur atau merasa sepi? Mengapa?
Demikianlah beberapa penolong untuk berdoa dengan Kitab Suci. Allah tetap bersabda menerangi budi, menggerakkan hati, agar iman, harapan dan kasih semakin tumbuh dan berkembang dalam realitas konkret hidup kita (LR).
Actio
Dalam rangka BKSN tahun ini, maka hendaknya Katolikers dapat ikut serta dalam tema-tema pendalaman iman yang dilaksanakan oleh lingkungan maupun kelompok kategorial di paroki kita.
Materi bulan Kitab Suci 2011 – lingkup Keuskupan Agung Jakarta mengusung tema: “Belajar dari Perumpamaan-perumpaan Yesus”. Pertemuan pendalaman iman untuk tema tersebut dilaksanakan dengan empat tahap: (1) Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati, (2) Perumpamaan Anak yang Hilang, (3) Perumpamaan tentang Lalang di antara Gandum dan (4) Perumpamaan tentang Pengampunan (bdk. KKS Barnabas, 2011).
Semoga bulan September tidak menjadi bulan aksidental saja untuk membaca Kitab Suci. Akan tetapi menjadi sumbu semangat membaca Kitab Suci yang terus menyala sepanjang masa tahun liturgi Gereja.
Saya biasanya menggunakan kalender lirturgi Gereja terbitan KWI atau kadang mengakses internet di situs imankatolik. Bagi Katolikers yang suka surfing the internet, silakan mampir ke situs imankatolik untuk men-download gratis kalender liturgi harian Gereja Katolik.
Hendaknya Katolikers merenungkan atau berdoa dengan Kitab Suci bukan hanya untuk mengenali Sabda-Nya, melainkan pula untuk melaksanakan kehendak Bapa-Nya. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 7:21).
Akhirnya Katolikers, pameo berubah menjadi motto indah: “mengenali Sabda Yesus maka menyayangi Tuhan Yesus.” (SY Melki SP)
Oratio
+“Bapa, Putra dan Roh Kudus, terangilah Sabda-Mu dalam sikap hidup kami. Amin.”+
*Dr.H.Pidyarto Gunawan,O.Carm, Umat Bertanya, Romo Pid Menjawab, dalam rubrik konsultasi iman seri 5-7. Jogyakarta: Kanisius.
*Santo Ignasius Loyola. Latihan Rohani, seri Ignasian 5. Yogyakarta: Kanisius. 1993, hlm. 247-248.
*KKGK: Kompendium Katekismus Gereja Katolik
*Sumber foto: Hati Yang Bertelinga

Sabtu, 03 September 2011

BIJI SESAWI :

ImageImage


Kandungan nutrisinya per 100 g (3.5 oz)
Energy 470 kcal 1960 kJ
Carbohydrates 34.94 g
- Sugars 6.79 g
- Dietary fiber 14.7 g
Fat 28.76 g
- saturated 1.46 g
- monounsaturated 19.83 g
- polyunsaturated 5.39 g
Protein 24.94 g
Water 6.86 g
Vitamin A equiv. 3 μg 0%
Thiamin (Vit. B1) 0.543 mg 42%
Riboflavin (Vit. B2) 0.381 mg 25%
Niacin (Vit. B3) 7.890 mg 53%
Vitamin B6 0.43 mg 33%
Folate (Vit. B9) 76 μg 19%
Vitamin B12 0 μg 0%
Vitamin C 3 mg 5%
Vitamin E 2.89 mg 19%
Vitamin K 5.4 μg 5%
Calcium 521 mg 52%
Iron 9.98 mg 80%
Magnesium 298 mg 81%
Phosphorus 841 mg 120%
Potassium 682 mg 15%
Sodium 5 mg 0%
Zinc 5.7 mg 57%


Image

Perhatikan dengan seksama, panjang biji sesawi ini kurang dari 0,5 cm dan satu biji yang saya ukur sekitar 4,5 mm. Foto di atas menunjukkan perbandingan antara tutup lensa kamera nikon D50 saya (warna hitam, hanya ujungnya saja yang kelihatan) dan biji sesawi serta perbandingannya dengan ukuran panjang 1 cm.

Image

Image
Sumber :
http://www.im-mc.org/e107_plugins/conte ... content.28


KEBUN SESAWI :
Image
dari : http://www.fotosearch.com/photos-images ... field.html

POHON SESAWI :

ImageImage
Pohon Sesawi yang besar dan tinggi berasal dari biji yang sangat kecil, cocok dengan ayat sbb :
* Matius 13:13-31
13:31 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.
13:32 Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya."



Image
Pohon Sesawi di padang.
dari : http://www.fotosearch.com/photos-images ... field.html



Image
Pohon sesawi yang mulai besar dan tinggi diantara tanaman sesawi yang kecil
dari : http://www.ics.uci.edu/~eppstein/pix/sa ... Field.html

Kamus Indonesia