Kalender Liturgi

Kamis, 22 Desember 2011

Gereja Mencari Jati Diri



http://www.kaj.or.id/wp-content/uploads/2011/11/Tepas-KAJ.jpg
Selama dua pekan, 1-4 Agustus dan 8-11 Agustus 2011, Uskup Agung Jakarta bersama ratusan imam menyelenggarakan Temu Pastoral (Tepas) dalam dua gelombang di Via Renata, Cimacan. Vikaris Jendral Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Pastor Yohanes Subagyo Pr, menekankan tujuan umum Tepas, yang sudah diadakan sejak 1994. Tujuan itu adalah agar para pastor di KAJ bisa belajar bersama tentang aneka topik pastoral aktual. Adapun topik yang diangkat adalah ”Membangun Kepemimpinan Pastoral Berdasarkan Arah Dasar KAJ 2011-2015”. Arah Dasar (Ardas) KAJ 2011-2015 ini dipromulgasikan oleh Mgr I. Suharyo pada Minggu Paskah, 24 April 2011.

Ardas ini diharapkan menjadi inspirasi dan aspirasi dasar bagi dinamika seluruh imam dan umat KAJ menuju keadaan yang dicita-citakan. Tiga tujuan pokok yang hendak dicapai dalam Temu Pastoral ini adalah memahami kepemimpinan pastoral, menentukan sasaran strategis, serta membangun budaya pastoral KAJ.

Kepemimpinan pastoral
Ardas KAJ sebagai sebuah teks adalah cita-cita yang dituju oleh Gereja Katolik sebagai ”umat Allah” di wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, yang ingin bertumbuh dalam kesetiaan kepada Tuhan dan kepada bangsa. Ardas ini mengandung tiga pilar pokok yang diarah oleh KAJ, yakni berakar dalam ‘iman’, bertumbuh dalam ‘persaudaraan sejati’, berbuah dalam ‘karya pelayanan’.

”Iman-Persaudaraan-Pelayanan” adalah tiga kata yang ingin menampilkan wajah dan jatidiri Gereja KAJ secara utuh. Gereja meyakini bahwa, ”iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan, dan oleh perbuatan-perbuatan itu, iman menjadi sempurna” (Yak 2:22). Sedangkan ungkapan ”umat Allah” yang berziarah sepanjang zaman dalam dorongan dan tuntunan Roh Kudus bersama umat beragama lain dinyatakan dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium Bab II, art 14-17.

Berangkat dari sebuah kesadaran bahwa para pastor adalah garda depan sosialisasi serta implementasi Ardas KAJ, maka setiap pastor diajak merefleksikan kembali arti kepemimpinan pastoral. Secara umum, dalam banyak sharing antarpastor yang notabene sebagai pemimpin umat, dirasakan kebutuhan sebuah Tata Pelayanan Pastoral yang menekankan jatidiri kepemimpinan berdimensi partisipatif (keterlibatan) dan transformatif (perubahan).
Salah satu isi Tata Pelayanan Pastoral di atas adalah penjabaran tiga entitas pokok yang semestinya dibuat oleh para pastor sebagai pemimpin pastoral.

Tiga entitas pokok itu adalah (1) Kesadaran: Menentukan arah, cita-cita dan tujuan, sesuai dengan Ardas KAJ; (2) Kesaksian: Menunjukkan kualitas karakter pribadi yang ditampilkan secara nyata dalam hidup kesehariannya; (3) Keterlibatan: Menggerakkan setiap umat secara sinergis.

Sasaran strategis
Secara ideal, seorang pemimpin perlu merumuskan sasaran strategis untuk mewujudkannya. Secara riil, para pastor – sebagai pemimpin umat – kerap hanya berhenti pada ”kegiatan” apa yang ingin diadakan, bukan dilihat dari ”pencapaian” sesuai dengan acuan Ardas KAJ. Mereka jatuh pada ”pastoral kegiatan”. Maka, perlulah setiap pastor bersama umat KAJ mengartikan konteks sekaligus melihat sasaran strategis Ardas. Sasaran strategis ini bisa berangkat dari tiga konteks sosial yang diangkat oleh Ardas KAJ, antara lain kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, dan intoleransi dalam masyarakat.

Di sekitar Pelayanan Iman, pelbagai sasaran strategis yang perlu dituju, yakni (1) Meningkatkan kecintaan dan penghayatan umat terhadap Sakramen Ekaristi; (2) Meningkatkan penghayatan umat akan aneka sakramentali, khususnya kaitan antara liturgi dan devosi, maupun tradisi berdoa bersama dalam keluarga; (3) Membangun kebanggaan dan kesetiaan umat akan iman Katolik (sensus catholicus); (4) Meningkatkan kecintaan dan pemahaman umat terhadap dunia Kitab Suci; (5) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Ajaran Iman, khususnya Ajaran Sosial Gereja, baik dalam katekisasi maupun mistagogi; Memberikan per-HATI-an pada pelayanan Bina Iman Anak dan Remaja serta pelbagai kelompok Orang Muda Katolik untuk menjadi komunitas beriman yang semakin berkualitas.

Di sekitar Pembangunan Persaudaraan, pelbagai sasaran strategis, antara lain (1) Meningkatkan persaudaraan dan keterlibatan umat di lingkungan basis; (2) Mengembangkan relasi Gereja dengan tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh umat beragama lain; (3) Menggiatkan komunikasi antarumat, khususnya komunikasi lintas unit, baik kategorial maupun teritorial; (4) Meningkatkan keterlibatan umat (khususnya orang muda) dalam pelbagai acara masyarakat; (5) Mengadakan dialog karya antara umat Katolik dengan umat beragama lain; (6) Mempererat kolegialitas imam, biarawan biarawati dalam kesatuan gerak di keuskupan; (7) Menggalakkan kerjasama Dewan Paroki dan seksi-seksi antarparoki dan dekanat di dalam keuskupan.

Di sekitar Pelayanan Kasih, pelbagai sasaran strategis, antara lain (1) Meningkatkan kepedulian umat pada sesama manusia, terutama pada masalah pendidikan, kesehatan, dan kematian; (2) Menggalakkan kepedulian umat akan gerakan orangtua asuh; (3) Meningkatkan kecintaan dan kepedulian Gereja terhadap lingkungan hidup; (4) Memberdayakan OMK dalam aneka keterlibatan sosial; (5) Meningkatkan pelayanan pastoral di penjara dan rumah sakit; (6) Mendorong keterlibatan aktif semua umat pada momentum Aksi Puasa Pembangunan dan Hari Pangan se-Dunia.

Pelbagai sasaran strategis di atas dilaksanakan dengan mengembangkan tata layanan pastoral berbasis data, memberdayakan komunitas teritorial lingkungan dan kategorial, menggerakkan karya-karya pastoral yang kontekstual, menggiatkan kerasulan awam, serta menjalankan kaderisasi dan pendampingan berkelanjutan bagi para pelayan pastoral.

Budaya pastoral
Ardas KAJ dilandasi oleh dua budaya dasar, yakni spiritualitas Gembala Baik dan pelayanan murah hati. Spiritualitas Gembala Baik berarti bertindak seturut teladan Yesus, Sang Gembala Baik. Gembala baik mengenal dan dikenal domba-domba-Nya (Yoh 1:14) serta peduli pada domba-Nya yang kesusahan dan tersesat (Yeh 34:16). Sedangkan pelayanan murah hati berarti bersumber pada Allah (Luk 6:36) dan dilakukan dengan kerendahan hati (Kis 20:19).
Berangkat dari dua budaya dasar di atas, dihasilkan enam budaya pastoral yang menjadi simpulan para pastor di KAJ, yakni ”berpeduli, berintegritas, bermisioner, beriman, bersukacita, serta bersaudara”.

Tercatat juga tiga rekomendasi akhir yang disimpulkan, antara lain: (1) Menerapkan proses perencanaan strategis dalam perencanaan reksa pastoral di paroki dan kategorial; (2) Membangun mekanisme koordinasi, monitoring, dan evaluasi penerapan tersebut di tingkat dekanat dan kategorial; (3) Mengolah lebih lanjut hasil/temuan Temu Pastoral sebagai panduan bersama dalam membudayakan cara berpastoral sesuai Ardas KAJ.

Di KAJ, para imam, bruder, dan suster berjumlah sekitar 1.500 orang dengan aneka puluhan tarekat, sementara jumlah umat sekitar 465 ribu. Dari perbandingan kasar ini, Gereja KAJ terdiri dari mayoritas kaum awam. Dengan demikian, budaya kerjasama imam dengan awam mutlak diperlukan dalam membangun jatidiri Gereja. Karena, bukankah tepat sebuah pameo lama, ”Ecclesia semper reformanda - Gereja selalu memperbarui diri?”

from Keuskupan Agung Jakarta [ http://www.kaj.or.id ]

Tahun Ekaristi 2012 KAJ




Apa latar belakang untuk memaklumkan tahun 2012 sebagai Tahun Ekaristi?

Yang pertama adalah cita-cita untuk terus menerus memperdalam iman akan Tuhan Yesus Kristus, sebagaimana dirumuskan dalam Arah dan Dasar Pastoral Keuskupan Agung Jakarta 2011 - 2015. Iman yang menyelamatkan itu dipuncakkan, dipusatkan dan dirayakan dalam Ekaristi. Yang kedua adalah keselarasan dengan Gereja Katolik semesta yang juga sedang mengadakan Kongres Ekaristi di tahun yang sama. Kita adalah bagian dari Gereja semesta yang berusaha menemukan makna lebih dalam dari Ekaristi bagi hidup kita.

Apa sasaran diadakannya Tahun Ekaristi?

* Meningkatkan mutu Perayaan Ekaristi.

* Memperdalam pemahaman mengenai Ekaristi (Katekese yang berkelanjutan / termasuk mistagogi).

* Makin menumbuhkan penghormatan pada Yesus KRistus yang hadir dalam Ekaristi.

* Meningkatkan pelaksanaan perutusan yang bersumber dari Ekaristi.

Apa tema Tahun Ekaristi?

Tema Tahun Ekaristi di Keuskupan kita adalah “Dipersatukan, Diteguhkan dan Diutus”. Ketiga kata itu menyiratkan daya Ekaristi bagi umat yang merayakannya, sehingga mereka menghayati persatuan dan kebersamaan; hidup mereka diteguhkan dan diberi makna; keterlibatan mereka dalam hidup sehari-hari merupakan perutusan yang bersumber pada Ekaristi.

Kapan kita merayakan Tahun Ekaristi?

Tahun Ekaristi akan dirayakan selama setahun penanggalan liturgy, yaitu mulai saat Adven 2011 dan berpuncak pada Hari Raya Kristus  Raja Semesta Alam 2012.

Apa saja yang direncanakan untuk menyemarakkan Tahun Ekaristi?

1. Surat Gembala Bapak Uskup
2. Masa Adven: renungan keluarga/lingkungan dengan tema “Ekaristi, Sumber Berkat dalam Keluarga”
3. Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah: kegiatan untuk anak-anak
4. Masa prapaska/APP dengan tema “Bersatu dalam Ekaristi, Diutus untuk Berbagi”
5. Pekan Suci (dengan perhatian pada Misa Krisma sebagai peringatan syukur Imamat yang terkait pada Ekaristi)
6. Bulan Mei sebagai Bulan Liturgi dengan tema “Bersama Bunda Maria Mencintai Liturgi Ekaristi”
7. Novena Roh Kudus dengan tema “Gereja Hidup dari Ekaristi”
8. Pesta Tubuh dan Darah Kristus yang dirayakan dengan liturgy sungguh-sungguh dipersiapkan
9. Sarasehan Ekaristi di 8 dekenat yang kemudian dipuncakkan di tingkat keuskupan, seperti rangkaian Novena
10. Novena Ekaristi dan Adorasi di 8 dekenat dan berpuncak di tingkat keuskupan
11. Eucharistic Youth Camp bagi Orang Muda Katolik
12. Bulan Kitab Suci yang menyajikan topik-topik Ekaristi
13. Kursus homily bagi para imam
14. Lomba cipta lagu Ekaristi
15. Seputar liturgi perkawinan dan katekesenya
16. Penerbitan bahan-bahan katekese dalam bentuk DVD dan buku-buku
17. Puncak perayaan pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam

exported from Keuskupan Agung Jakarta [ http://www.kaj.or.id ]

SURAT GEMBALA MENYAMBUT TAHUN EKARISTI 2012




(Dibacakan sebagai pengganti kotbah, dalam setiap Misa, Sabtu/Minggu, [Adven I] 26/27 November 2011)

Para Ibu dan Bapak,

Para Suster, Bruder, Frater,

Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus,

 1. Pada hari Minggu yang lalu, kita merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan itu menutup satu lingkaran tahun liturgi. Dengan merayakan pesta liturgi itu kita mengungkapkan kepastian iman kita bahwa Allah yang telah memulai karya-Nya, akan menyempurnakannya juga pada waktunya. Keyakinan iman inilah yang oleh Rasul Paulus dinyatakan dengan kata-kata ini, “Kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1 Kor 15:28).

 2. Hari ini kita memulai satu lingkaran liturgi yang baru dengan Minggu Adven I, yang pada tahun berikutnya juga akan ditutup dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Masa Adven dalam arti sempit mengundang kita untuk menyiapkan kedatangan Yesus yang akan kita rayakan pada Hari Natal. Dalam arti luas, Adven juga mengajak kita untuk memperkokoh harapan kita bahwa pada waktunya Tuhan akan datang menyempurnakan karya penyelamatan yang telah dimulai-Nya. Selama masa penantian dan pengharapan itu, menurut kata-kata Rasul Paulus yang kita dengarkan pada hari ini, “Allah juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1 Kor 1:8).  Begitulah dinamika iman dan harapan kita yang kita ungkapkan dalam lingkaran-lingkaran tahun liturgi. Dengan menempatkan diri kita ke dalam dinamika liturgi itu, karya penyelamatan Allah akan semakin kita alami: iman kita menjadi semakin dalam, harapan kita semakin kokoh dan kasih kita semakin menyala.

 3. Sabda Tuhan yang diwartakan pada hari ini mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga (Mrk 13:33.34.35.37) menantikan kedatangan Tuhan itu. Pertanyaannya adalah, dengan cara apa kita berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan? Jawabannya ada bermacam-macam. Salah satu jawaban diberikan kepada kita melalui Kitab Nabi Yesaya yang diwartakan pada hari ini yaitu dengan membiarkan diri kita – baik secara pribadi, keluarga, komunitas, paroki maupun keuskupan - dibentuk oleh Tuhan, karena kita semua adalah buatan tangan Tuhan (bdk. Yes 63:8). Dalam rangka membiarkan diri kita bersama-sama dibentuk oleh Tuhan itulah Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Arah Dasar Pastoral dan setiap tahun menawarkan tema-tema pendalaman iman. Kalau bahan-bahan itu kita renungkan dan kita batinkan, kita boleh berharap hidup pribadi kita, keluarga, komunitas, paroki dan hidup kita bersama sebagai warga Keuskupan Agung Jakarta akan terus-menerus diperbarui dan dibentuk menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus, semakin sehati sepikir dan seperasaan dengan-Nya (bdk. Flp 2:5).

 4. Dalam rangka berusaha membiarkan diri kita dibentuk oleh Allah inilah, Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Tahun 2012 sebagai Tahun Ekaristi dengan tema  “Dipersatukan, Diteguhkan, Diutus”. Tema ini dipilih dengan berbagai pertimbangan. Antara lain kita ingin menempatkan diri kita dalam arus rohani Gereja se-dunia, yang pada tanggal 10-17 Juni 2012 yang akan datang mengadakan Kongres Ekaristi ke-50 di Dublin. Adapun tema yang diangkat adalah “Ekaristi: Bersatu dengan Kristus, Bersatu di antara kita”. Selanjutnya tema Tahun Ekaristi Keuskupan Agung Jakarta ini melanjutkan tema yang sudah kita dalami selama tahun 2011 yaitu “Mari Berbagi”. Dengan demikian kita berharap agar kerelaan kita berbagi tidak hanya didorong oleh motivasi kemanusiaan, melainkan kita landaskan pada iman yang kokoh. Dengan menerima roti Ekaristi yang diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagikan,  kita berharap juga dapat menjadi roti Ekaristi : seperti halnya roti Ekaristi, kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan diberkati Tuhan, agar siap dipecah-pecah dan dibagi-bagikan bagi dunia.

 5. Kekayaan Ekaristi dengan mudah dapat kita timba dari salah satu pernyataan Gereja sebagai berikut :” … Setiap orang yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, seharusnya selalu ingin berbuat baik dengan penuh semangat, menyenangkan hati Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya, dan bertumbuh dalam kesalehan. Ia pun akan siap menjadi saksi Kristus di dalam segala hal, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia, agar dunia diresapi dengan semangat Kristus. Sebab tidak ada satu umat Kristiani pun dapat dibentuk dan dibangun, kecuali kalau berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus” (Eucharisticum Mysterium no. 13).

 6. Melalui surat ini saya ingin mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta untuk secara khusus memperdalam pengetahuan dan penghayatan mengenai Ekaristi selama tahun 2012 yang akan datang. Sejarah panjang liturgi Ekaristi, kedalaman maknanya dan kekayaan lambang-lambangnya tidak bisa kita tangkap dengan baik selain dengan mempelajarinya. Dalam perayaan Ekaristi kita mengenangkan kembali wafat dan kebangkitan Kristus dan mensyukuri karya penyelamatan Allah bagi kita. Kita mendengarkan Sabda Tuhan yang menuntun langkah-langkah kita dan menerima roti kehidupan yang menjadi kekuatan dalam peziarahan iman kita. Janji Tuhan untuk selalu menyertai umat-Nya sampai akhir jaman tidak dapat kita alami kecuali dengan mengasah kepekaan batin kita akan kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Semoga pertemuan-pertemuan yang sudah selalu kita adakan pada masa Adven, Prapaskah, bulan Liturgi, bulan Kitab Suci dan kesempatan-kesempatan lain dapat digunakan sebaik-baiknya untuk pendalaman Ekaristi itu. Sementara itu bahan-bahan yang diperlukan sudah dan akan disediakan oleh saudari-saudara kita yang dengan sepenuh hati menyiapkannya.

 7. Akhirnya bersama para imam yang diutus untuk melayani umat di Keuskupan Agung Jakarta ini saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/ Bruder/Frater/ Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang dengan satu dan lain cara ikut terlibat dalam karya kegembalaan kami. Keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke dalam”, membuat Gereja menjadi semakin bermakna bagi umat sendiri. Sementara keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke luar”, membuat Gereja menjadi semakin berarti di tengah-tengah masyarakat luas. Semoga Ekaristi yang setiap kali kita rayakan semakin mempersatukan kita dalam perutusan yang mulia.

Salam dan Berkat Tuhan untuk seluruh keluarga dan komunitas Anda.

+ I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta

exported from Keuskupan Agung Jakarta [ http://www.kaj.or.id

Kamus Indonesia