Kalender Liturgi

Selasa, 27 Januari 2009

Sos-Ger

Kapelku Menjadi Gereja Komunitas Basis

Kalau aku ditanya apa itu perbedaan komunitas dan kerumunan, aku akan menjawabnya dari contohnya saja. Komunitas itu seperti umat paroki Santa Klara yang mengikuti misa atau berkumpul saat ada kunjungan pastoral, saling mengenal dan mengetahui keadaan orang lain. Sedangkan kerumunan seperti pasar dan mall, semua berkumpul dalam satu tempat tetapi memiliki kepentingan sendiri dan tidak mengenal satu sama lain.

“Aku tak mengira, teman mudikaku lebih memilih pergi ke paroki lain yang jauh dari rumahnya. Hanya demi sebuah kenyamanan dan kemegahan gedung Gereja tetapi bukan karena makna misa setiap minggunya” curhatku bersama penaku ini. Kejadian ini bukan hanya sesekali, melainkan terus-menerus. “Yah … mungkin karena Dia memiliki biaya lebih. Atau karena di parokinya hanya memiliki Kapel saja, atau karena sebagai bagian style atau gaya-gayaan Dia saja. Apakah ini yang disebut komunitas?” celotehku makin berkembang.

Aku bersyukur, usia parokiku kini 10 tahun. Seluruh umat paroki pun sangat mensyukuri usia ini. Usia yang memiliki semangat iman yang berkobar-kobar melalui teladan St. Klara dari Asisi. Namun kenyataannya, semangat-semangat tersebut tidak dibarengi dengan semangat umat yang melayani sesama di lingkungan lahan Gerejaku. Bukankah iman tanpa perbuatan hakekatnya mati (lht. Yakobus 2:17). Tak dipungkiri sampai saat ini warga sekitar lahan masih melarang untuk mendirikan susunan batu-bata dan semen beserta atapnya, apalagi sebuah Salib dan lonceng sebagai simbol berdirinya sebuah bangunan Gereja. Garis batas lahan yang ada mulai tersaingi oleh rencana pembangunan rumah sakit swasta.

Kalau orang desa bilang, kapel St.Klara adalah sebuah stasi, yaitu bagian dari suatu Paroki atau Dekenat. Namun di Bekasi Utara adalah paroki yang tak kunjung punya Gereja. “Duh kasihan” sindiran dari seorang kenalanku dari paroki Mangga Dua. Tapi aku berkata lain pada mereka-mereka yang sering menyindir parokiku, “Meski parokiku hanya memiliki dua kapel, tapi aku tetap hadir setiap kali ada misa. Telingaku tetap terbuka bagi Tuhan yang berbicara melalui homili romo-romonya, dan dalam lubuk hatiku berkembangan semangat iman yang menyala-nyala. Aku juga mengambil bagian dalam komunitas muda-mudi. Aku juga aktif bergaul dengan tetangga yang beragama lain. Bagiku, Terang-Nya itu nampak dalam kehidupanku.”

“Mungkin kerinduan untuk mendirikan sebuah bangunan gedung Gereja tidak akan terjadi di paroki ini. Jika aku dan Anda-umat paroki St.Klara hanya berdoa saja. Mungkin percuma saja para komentator setiap minggu membacakan pengumuman sumbangan pembangunan Gereja, yang kian menumpuk. Mungkin akan menjadi sia-sia saja berkat dari para imam atau Bapak Kardinal yang pernah berkunjung, kalau umat paroki St.Klara sendiri tidak aktif membentuk komunitas yang mengambil bagian dalam melayani sesama (lht. Iman Katolik, hlm 382-392 dan hlm 444-460). Bahkan tulisanku ini akan menjadi bagian dari ruangan kosong tempat sampah rumah Anda.”

Aku mengimpikan lahan yang tersedia segera dibangun sebuah gedung Gereja semegah Katedral. Setiap kali ada misa tidak ada lagi bangku yang kosong yang sia-sia makin rapuh karena tidak terpakai. Aku berharap, Gereja yang dibangun menjadi tempat berkumpulnya setiap komunitas lingkungan yang terus bertumbuh, dan iman umatnya berkembang bersama-sama. Romo-romo menjadi Gembala yang makin menyentuh kedalam hati domba-dombanya.
Aku mengimpikan juga adanya komunitas dari segala usia, yang aktif dan mengambil bagian dalam karya pastoral.

Aku mengharapkan pada usia yang ke-10 ini, para dewan-dewan terhormat paroki beserta seksi-seksinya makin mantap merapikan pelayananannya dan tidak neko-neko rapat pleno di luar kota (misalnya). Aku berharap para penggurus lingkungan saling bergandengan hati dengan lingkungan yang lain dan tidak ekslusif dengan lingkungannya sendiri (misalnya). Aku berharap para orang tua dapat bertindak lebih baik dalam kegiatan sosial terus-menerus yang dipusatkan di lahan gereja dan tidak ngerumpi ‘gosipin’ sesama umat paroki (misalnya). Aku berharap kaum muda didukung untuk aktif dalam kegiatan komunitasnya, dan tidak ‘disembunyikan’ di rumah (misalnya). Provisiat atas HUT Paroki St.Klara yang ke-10. Imanuel.
Melki Pangaribuan – KMYP ( sharing atau kritik dan saran : melki_777@yahoo.com )

NB: dimuat di Warta Paroki Santa Klara, Agustus 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamus Indonesia