Kalender Liturgi

Jumat, 07 November 2008

EPISTULA_Thank’s to...2(1)


PROSES DALAM PERJUANGAN KATEKIS bagian 2

Thank’s to …. (I)

Dengan tegar dan gagah kulambaikan tangan kananku kepada Oma, Om, Tante, adik Vip, Ebet, Glory, dan orang-orang yang mengantarku hingga dermaga kapal cepat, KM SIGORI. Keberangkatanku menuju Tanah Jawa menggunakan tiket Gratis dari Opaku - Simon Toehatoe, seorang pensiunan kapten Laut. Aku dibelikan tiket kapal cepat dan kapal Pelni. Aku sangat bersyukur dan senang sekali kepada Tuhan Yesus. Tuhan memberikanku segala sesuatu yang aku butuhkan, meski aku tidak meminta kepada-Nya.

Perjalananku bersama dengan Opa Simon, Oma Olda, Tante Ita, Tante Morin, Tante Ria, Om Boy, adik-adik sepupu anak Om dan Tante diatas, serta Bapak Yahya (ternyata seorang Pendeta). Banyak hal yang kudapatkan diatas kapal. Kisahnya nanti kutuliskan sendiri deh. Tunggu aja ya.

Sesampai di Tanjung Priuk, aku dijemput Mama. Perubahan berpikirku makin meningkat, karena sudah lama tidak melihat rumah (yang dipinjamkan gratis kepada kelurgaku), di jalan Merpati V/13, Bekasi Utara. Rumahnya sudah direnovasi lebih cantik dan luas. Aku menyadari bahwa ini semua Anugerah Tuhan yang LUAR BIASA. Kata LUAR BIASA sering terucap hingga ratusan kali, bahkan Agnes, adik kandungku mengugatnya. “Abang, luar biasa melulu. Coba ganti napah jadi Puji Tuhan” celoteh Agnes. Akhirnya aku pun mengantinya jadi “PUJI TUHAN!!!” setiap ada hal baru yang kudapati.

Pada hari Jumat I, bulan Agustus 2008 ada Misa Sakramen Maha Kudus di Kapel Seroja – Bekasi Utara. Setelah misa selesai aku menemui Pastur Raymondus Simanjorang OFMCap untuk menanyakan tentang Katekis itu. Ini karena mama waktu itu memberi tahuku, “coba kamu tanya Pastur Raymon. Mungkin ada jalan bagimu mel.” Pastur Ray hanya menerangkan berkata singkat dan padat. Dengan kewibawaan dan logad bataknya beliau mengatakan,”nanti ya mel … saya coba cari tahukan tempat sekolahnya.”

Penantianku tak terasa sudah sebulan, berbarengan dengan perpindahan gedung kapel Seroja ke wisma Pamentas. aku belum mendapatkan kabar yang pasti. Misa jumat pertama bulan September, aku menemui kembali Pastur Raymondus – Pastur Paroki Santa Klara. Dengan semangat yang membara aku pun bertanya, “Mo, bagaimana dengan sekolah untuk katekis itu?”. Romo Ray menjawab,”Mel, ada di Atma Jaya dan IPI malang. Namun kamu sudah terlambat mendaftar. Kamu sabar ya tahun depan saja.” Aku pun hanya menjawab,“iya dan thaks mo.” Wajah yang lunglai ku perhadapkan ke bawah lantai. Namun semangat hati tetap menguatkan,”… tahun depan aku pasti akan mendaftar.” Doaku dihadapan tabernakel.

Aku pun mulai melangkahkan kaki untuk mencoba melamar pekerjaan. Sambil menuggu tahun berikutnya. Banyak hal kujalankan: sebagai Sales MLM, mengikuti tes Tantama, tes Bintara, nongkrong sana-sini, dan ikut Mudika Yohanes Pemandi – Febuari 2007. Dalam harapan perasanku terus bergejolak, apakah permohonanku terkabulkan? Atau kepastian kepercayaan diriku saja yang semu dalam angan-angan doaku?.

Aku yakin satu hal dalam harapan, Tuhan tetap mengasihku dan menyertaiku. Imanuel.

Dengan yang demikian tinggallah iman, dan pengharapan, dan kasih, ketiga perkara ini, tetapi di dalam ketiganya itu yang terlebih besar, ialah kasih.” (1 Korintus 13:13)

Senin, 03 November 2008

EPISTULA_Thank’s to...(1)


PROSES PERJUANGAN SEORANG KATEKIS bagian 1

Thank’s to …. (I)

Tamat SMU tahun 2006, menghantarku kembali ke Pulau Jawa Barat, Bekasi Utara. Aku menjadi pelajar dan ‘anak hilang’ (belajar mandiri) kurang lebih 2 tahun di kota Raha, Sulawesi Tenggara. Dengan bimbingan dan kasih sayang dari Oma DC Toehatoe tercinta, Om Bobby, Tante Eda, Om Ipul, Tante Femy (Almh), Om Onal dan Tante, serta semangat dari adik-adik sepupuku Vip, Ody, Ebet, Risa (Almh), Glory, Abang Mitra (hanya beberapa bulan karena ada urusan pribadinya), kemudian adik bayi yang belum bernama (sekarang Maharani). Aku menjalani hari-hariku dan tinggal dalam satu atap bersama mereka. Banyak hal yang kudapatkan waktu berada disana.

Bermodal wejangan kuat dari OMA DC tersayang. Aku pun mengarah pada kata KATEKIS. “Ko … jadimi KATEKIS, enak bodo. Seperti Bapaknya Rino atau Bapak Kani yang mengajari agama.. Anak-anak Oma tidak ada yang mau, waktu itu Oma tawarkan Om Epang tapi tidak mau” pesan Oma dengan logad Ambon bercampur logad Muna.

Sebelum aku menerima ijasah kelulusan SMU, aku selalu teringat perkataan Omaku itu, “… jadimi Katekis seperti Bapaknya Rino … ”. Kalimat tersebut mengarahkan pada satu hal, apakah arti kata KATEKIS itu. Karena sangkin penasarannya kemudian aku membuka kamus bahasa Indonesia. Sesuai urutan abjadnya, kutemukan kata Katekis itu dan beberapa istilah kata lainnya yang berdekatan. Namun aku makin tambah penasaran untuk menjadi KATEKIS. Aku pun mendatangi Bapaknya Rino (Bpk. Higinus) yang tak jauh dari rumahku.

Beberapa kalimat terlontar mengandung makna, tanya, juga harapan dari bibir manisku. Satu titik puncak perbincanganku dengan beliau. Beliau telah mengatifkan sel otakku yang baru. Cakrawala berpikirku kurasakan berbeda. Sore itu kutemukan jawaban meski tidak sepenuhnya. Aku mengerti satu hal, Roh Kudus telah membuka cara berpikirku yang baru dan menyemangatiku untuk lebih mendalami lagi tentang Katekis.

Aku melanjutkan pencariaan tentang KATEKIS itu. Aku mendatangi Pastur Dony, Pr. Beliau salah satu ‘orang yang dipercayakan’ mengembangkan spitualitasku di kota Raha. Aku mencari jawabanku dan beliau mengarahkanku untuk mencari sekolah KATEKIS di Tanah Jawa.

Aku merasakan semakin dekat dengan kata KATEKIS itu, ada doa, dukungan, dan berkat peneguhan dari Pastur Dony, Pr. Sementara Oma DC selalu mengarahkanku pada kata Katekis dan KATEKIS, bahkan benakku menyimpan baik-baik kata “KATEKIS”.

Aku meninggalkan kota Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara Juli 2006. Thank’s LORD to Oma Dc yang mengarahkanku pada kata “KATEKIS”, thanks to Bapak Higinus yang membantu membuka cara berpikirku lebih jauh. Thank’s to Pastur Dony, Pr sebagai pembimbing spiritualku dan Mudika Paroki St. Yohanes Pemandi Raha, dan thak’s to All (orang-orang yang akan kutuliskan ”jika ingat” satu persatu dalam kisah hidupku. Tapi tunggu saja ya dengan sabar). I miss in AmbonCamp, I miss Raha City. IMANUEL

“Di doa nenekku, ada namaku disebut. Di doa ibuku, ada namaku pun disebut. Dan di doa Bunda Maria namaku pasti ada disebutkan” nyanyiku menggantikan lirik lagu rohani Di Doa Ibuku Namaku Disebut – Nikita.

Kamus Indonesia