Kalender Liturgi

Senin, 29 Agustus 2011

Kerajaan Sorga, lalang dan gandum

1. Kerajaan Allah, ujian dan harapan

Bacaan pada minggu ke-16 masa biasa ini mengupas tentang Kerajaan Allah, yang diumpamakan seperti menabur benih yang baik di ladang, seperti biji sesawi dan seperti ragi. Bacaan ini memberikan pengertian mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga. Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dan mau memasuki hubungan yang lebih mendalam dengan Yesus, serta terus berjaga-jaga, yang akan dapat masuk ke dalam misteri Kerajaan Sorga. Pemberitaan akan Kerajaan Surga terus diberitakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, sehingga orang-orang yang mempunyai niat baik untuk mendengarkan dapat termasuk dalam bilangan ‘gandum’, yaitu mereka yang dapat disebut sebagai anak-anak terang. Dan melalui Gereja-Nya, umat Allah dilindungi dari lalang atau pengajaran-pengajaran yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Kristus, sehingga umat Allah dapat dihantar kepada keselamatan kekal, dan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Allah (lih. Mat 13:43).

2. Telaah teks Matius 13:24-43

24. Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.
25. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi.
26. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu.
27. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?
28. Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu?
29. Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu.
30. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”
31. Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.
32. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
33. Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.”
34. Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka,
35. supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: “Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.”
36. Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.”
37. Ia menjawab, kata-Nya: “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia;
38. ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat.
39. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat.
40. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman.
41. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.
42. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan gertakan gigi.
43. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Yesus memberikan tujuh perumpamaan di dalam Matius bab 13 di tepi danau Galilea (lih. Mat 13:1). Oleh karena itu, bab ini sering disebut “pengajaran dengan perumpamaan atau the parable discourse” atau juga disebut “perumpamaan tentang Kerajaan” atau “perumpamaan di danau”, karena Yesus mengajarkan perumpamaan ini di tepi danau. Di bab 13 ini, kita dapat melihat tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, yaitu: (a) perumpamaan tentang seorang penabur, (b) perumpamaan tentang lalang di antara gandum, (c) perumpamaan tentang biji sesawi, (d) perumpamaan tentang ragi, (e) perumpamaan tentang harta terpendam, (f) perumpamaan tentang mutiara yang indah, (g) perumpamaan tentang pukat.

Pada minggu ke-16 masa biasa tahun A ini, bacaan Matius 13:24-42 memberikan tiga perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, yang dapat dibagi sebagai berikut:

Ayat 24-30: Kerajaan Sorga seperti menabur benih yang baik ke ladang.
Ayat 31-32: Kerajaan Sorga seperti biji sesawi
Ayat 33: Kerajaan Sorga seperti ragi.
Ayat 34-35: Alasan Yesus memberikan pengajaran lewat perumpamaan.
Ayat 36-43: Yesus menerangkan perumpamaan tentang lalang di ladang.

3. Interpretasi Matius 13:24-43

a. Tentang Kerajaan Sorga.

Pemberitaan tentang Kerajaan Sorga yang mensyaratkan pertobatan adalah merupakan pokok pemberitaan Kristus yang dimulai sejak karya publik Kristus (lih Mat 4:17; Mat 10:7; Luk 4:42-43; Luk 10:9; Kis 1:3). Kerajaan Sorga adalah tawaran yang diajukan oleh Kristus kepada seluruh umat manusia dan menjadi tujuan akhir dari umat manusia. Namun, seperti yang diberitakan oleh Kristus, untuk mencapai Kerajaan Sorga dibutuhkan pertobatan (lih. Mat 4:17), sehingga seseorang dapat masuk ke dalam misteri yang lebih mendalam akan Kerajaan Allah. Khotbah di bukit mengatakan “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3). Hanya dengan sikap miskin di hadapan Allah inilah, seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Dengan sikap miskin di hadapan Allah, seseorang akan dapat bertobat, mendahulukan dan memperjuangkan kebenaran yang diperintahkan oleh Allah lewat Gereja-Nya. Dan dengan semangat yang sama, ia akan dapat berpartisipasi untuk mewujudkan Kerajaan Allah di dunia ini sebagai gambaran akan Kerajaan Allah di Sorga. Secara khusus, tugas memberitakan Kerajaan Allah diberikan kepada Gereja, termasuk seluruh anggotanya. Dokumen Vatikan II, Lumen Gentium, 5 menuliskan:

“Misteri Gereja Kudus itu diperlihatkan ketika didirikan. Sebab Tuhan Yesus mengawali Gereja-Nya dengan mewartakan kabar bahagia, yakni kedatangan Kerajaan Allah yang sudah berabad-abad lamanya dijanjikan dalam Alkitab: “Waktunya telah genap, dan Kerajaan Allah sudah dekat” (Mrk 1:15; lih Mat 4:17). Kerajaan itu menampakkan diri kepada orang-orang dalam sabda, karya dan kehadiran Kristus. Memang, sabda Tuhan diibaratkan benih, yang ditaburkan di ladang (lih. Mrk 4:14), mereka yang mendengarkan sabda itu dengan iman dan termasuk kawanan kecil Kristus (lih. Luk 12:32), telah menerima kerajaan itu sendiri. Kemudian benih itu bertunas dan bertumbuh atas kekuatannya sendiri hingga waktu panen (lih. Mrk 4:26-29). Mukjizat-mukjizat Yesus pun menguatkan, bahwa Kerajaan itu sudah tiba di dunia: “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20; lih. Mat 12:28). Tetapi terutama Kerajaan itu tampil dalam Pribadi Kristus sendiri, Putera Allah dan Putera manusia, yang datang “untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45).

Adapun sesudah menanggung maut di kayu salib demi umat manusia, kemudian bangkit, Yesus nampak ditetapkan sebagai Tuhan dan Kristus serta Iman untuk selamanya (lih. Kis 2:36; Ibr 5:6; 7:17-21). Ia mencurahkan Roh yang dijanjikan oleh Bapa ke dalam hati para murid-Nya (lih. Kis 2:33). Oleh karena itu Gereja, yang diperlengkapi dengan kurnia-kurnia Pendirinya, dan yang dengan setia mematuhi perintah-perintah-Nya tentang cinta kasih, kerendahan hati dan ingkar diri, menerima perutusan untuk mewartakan Kerajaan Kristus dan Kerajaan Allah, dan mendirikannya ditengah semua Bangsa. Gereja merupakan benih dan awal mula Kerajaan itu didunia. Sementara itu Gereja lambat-laun berkembang, mendambakan Kerajaan yang sempurna, dan dengan sekuat tenaga berharap dan menginginkan, agar kelak dipersatukan dengan Rajanya dalam kemuliaan.”

b. Mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan?

Kalau kita mengamati bagaimana Yesus mengajar, maka kita melihat bahwa adakalanya Yesus mengajar secara langsung, seperti yang kita lihat dalam khotbah di bukit tentang delapan sabda bahagia (lih. Mat 5:3-10), namun adakalanya Yesus juga mengajar dengan menggunakan perumpamaan, seperti pengajaran tentang Kerajaan Sorga. Pertanyaannya adalah mengapa Yesus berbicara dengan menggunakan perumpamaan? Alkitab mengatakan bahwa memang kepada para murid-Nya yang telah diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, Yesus berbicara secara langsung tanpa menggunakan perumpamaan (lih. Mat 13:10-11). Apakah dengan demikian Kristus menyembunyikan sesuatu kepada banyak orang? St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa Kristus berbicara kepada banyak orang dengan menggunakan perumpamaan karena (1) orang-orang yang mendengarkan tidak akan mengerti atau tidak pantas untuk mendengarkan pengajaran yang disampaikan secara langsung, (2) prinsip mediasi.[1]

Apa yang dapat diterima oleh seseorang adalah tergantung dari disposisi hati dari orang yang menerima (the mode of the receiver). Sebagai contoh, bagi orang yang punya disposisi hati yang dibentuk oleh agama Katolik, maka orang tersebut akan menghormati dan mendengarkan pengajaran tentang Ekaristi. Namun bagi orang yang tidak percaya, maka pengajaran tentang Ekaristi mungkin tidak terlalu diperhatikannya. Bagi orang yang telah dibentuk sebagai seseorang yang anti Katolik, maka pengajaran apapun tentang iman Katolik dianggap salah. Penjelasan apapun yang diberikan seolah-olah tidak masuk akal. Dengan menggunakan perumpamaan, Yesus dapat membuat orang tertarik untuk menjadi pengikut-Nya, yang membuat orang tersebut dapat mengikuti pengajaran-Nya secara lebih mendalam. Yesus menjelaskan perumpamaan tersebut bukan hanya kepada para rasul namun juga para murid. (lih. Mar 4:10). Ini berarti, orang-orang yang ingin benar-benar mencari kebenaran dapat bertanya dan menemukannya.

Alasan kedua mengapa Yesus memberikan pengajaran dengan perumpamaan adalah sebagai manifestasi dari prinsip mediasi. Yesus menginginkan agar Dia dapat mengajarkan kepada para rasul dan para murid, dan kemudian para rasul dan para murid mengajarkan kepada semua orang, baik dengan lisan maupun tertulis. Dengan prinsip ini, maka sungguh penting untuk menjadi bagian dari bilangan umat Allah. Dan kalau Kristus sendiri telah mendirikan Gereja Katolik (lih. Mat 16:16-19) dan menjadi Kepala Gereja (lih. Ef 5:23), maka untuk menjadi bilangan murid Kristus, kita harus masuk ke dalam bilangan Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Dengan demikian, kita dapat mengalami kepenuhan kebenaran dan kepenuhan pengajaran Kristus, seperti pengajaran tentang sakramen, liturgi, dan doktrin-doktrin yang lain, termasuk pengajaran tentang Kerajaan Allah.

c. Kerajaan Sorga seperti menabur benih yang baik ke ladang (ayat 24-30, 36-42)

1. Penjelasan tentang perumpamaan

Dalam perumpamaan pertama, Yesus memberikan perumpamaan Kerajaan Sorga seperti orang yang menabur benih (lih. Mat 13:24-30) dan kemudian menjelaskannya kepada para murid arti dari perumpamaan tersebut (lih. Mat 13:36-42). Yesus menjelaskan bahwa orang yang menabur benih yang baik di ladang adalah Kristus sendiri, yang mewartakan pertobatan dan Kerajaan Allah di dunia, sehingga setiap orang dapat mendengarkan-Nya. Namun, ketika semua orang tertidur (ay.25), musuh atau iblis (ay.25, 28, 39) menaburkan benih lalang (ay. 25) atau anak-anak si jahat (ay.38). Dan ketika hamba-hamba atau para malaikat melihat gandum dan lalang tumbuh bersama (ay.27-28), mereka bertanya kepada Tuhan apakah mereka perlu mencabut lalang tersebut. Namun, Tuhan mengatakan bahwa mereka harus menunggu sampai waktu menuai atau akhir zaman, sehingga lalang tersebut atau segala hal yang menyesatkan dan jahat dapat dikumpulkan dan dibakar (ay.40-42) dan orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Sorga (ay.43).

Dalam perumpamaan di atas, dijelaskan bahwa Anak Manusia-lah yang menaburkan benih yang baik. Hal ini akan terlihat lebih jelas, kalau kita juga membaca perumpamaan tentang Sang Penabur (lih. Mat 13:1-23). Kristus telah menaburkan benih yang baik kepada setiap orang, namun benih ini dapat tumbuh dengan baik kalau manusia menjawab panggilan Tuhan, yang digambarkan sebagai benih yang jatuh di tanah yang baik dan menghasilkan buah yang berlimpah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (ay.23). Namun, di perumpamaan berikutnya (ay.23-42), Kristus memberikan perumpamaan bahwa untuk dapat mencapai Kerajaan Sorga, diperlukan kewaspadaan dan senantiasa berjaga karena si jahat menaburkan benih lalang, dan dengan demikian secara aktif merusak benih yang baik yang ditaburkan oleh Kristus.

2. Berjaga-jagalah sehingga kita terhindar dari percobaan

Di dalam perikop ini dikatakan bahwa si jahat menaburkan benih lalang ketika semua orang sedang tertidur (ay.25). Yesus ingin menekankan pentingnya untuk senantiasa berjaga-jaga, baik terhadap serangan si jahat dan berjaga-jaga sampai pada akhir kehidupan kita, maupun berjaga sampai akhir zaman (lih. Mat 24:42-43). Yesus menekankan pentingnya untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa sehingga kita tidak jatuh dalam percobaan (lih. Mrk 14:38). Rasul Paulus menekankan untuk tetap berdiri teguh dalam iman dan tetap kuat (lih. 1Kor 16:13). Lebih lanjut Rasul Paulus menekankan agar sebagai anak-anak terang, kita harus berbaju-zirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan (lih. 1Tes 5:8). Hanya dengan tiga kebajikan ilahi, yang ditopang oleh doa dan dikuatkan oleh Roh Kudus, kita dapat berjaga-jaga tanpa mengenal lelah, sehingga tidak memberi kesempatan kepada si jahat untuk menaburkan benih lalang. Secara simbolis, St. Hieronimus dan St. Agustinus mengartikan bahwa yang tertidur adalah para pastor dan para uskup yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik serta tidak mengajarkan pengajaran yang benar. Inilah sebabnya para pastor dan para uskup harus senantiasa mengajarkan doktrin yang kokoh kepada umat Allah seperti yang diajarkan oleh Kristus lewat Magisterium Gereja, sehingga umat Allah tidak mudah digoyahkan oleh pengajaran-pengajaran yang populer namun salah. Sebaliknya, umat Allah juga harus senantiasa berpegang pada pengajaran yang diberikan oleh Kristus lewat Magisterium Gereja, yang diteruskan oleh para uskup dan juga para pastor, sehingga si jahat tidak mempunyai kesempatan untuk menaburkan benih lalang atau benih kesesatan kepada umat Allah.

3. Benih lalang yang mematikan

Benih lalang yang ditaburkan oleh si jahat bukanlah benih lalang biasa, namun adalah jenis zizanium, yaitu sejenis gandum liar, atau juga dikenal sebagai cockle, tare atau darnel. Jenis lalang ini sangat sulit dibedakan dengan gandum biasa, karena bentuknya yang serupa. Kalau seseorang mencoba memisahkan lalang dengan gandum sebelum waktunya, maka mereka dapat salah mencabut. Seseorang hanya dapat membedakan antara lalang ini dengan gandum ketika mereka bertumbuh besar dan bulir-bulirnya mulai masak. Walaupun serupa, lalang jenis ini sangat merugikan. Kalau sampai orang memakannya, maka orang tersebut akan merasa mabuk dan pusing. Untuk menggambarkan bahayanya lalang ini, di zaman tersebut, ada orang yang membalas dendam seseorang dengan menyebarkan benih lalang ini gandum. Kalau seseorang membuat adonan gandum yang tercampur dengan lalang, maka adonan tersebut akan rusak.

Dari sini, kita dapat melihat bahwa benih baik yang tercampur dengan benih lalang akan menjadi sangat berbahaya. St. Yohanes Kristotomus dan St. Thomas Aquinas menyebutkan bahwa ajaran yang menyesatkan adalah ajaran yang benar bercampur dengan ajaran yang salah, sehingga banyak orang sulit untuk membedakannya. Sebagai contoh, kita dapat melihat pengajaran dari teologi kemakmuran, yang memberikan kebenaran tentang kasih Allah, namun mereduksi kasih Allah sebatas hal-hal yang bersifat material. Silakan melihat artikel “Teologi kemakmuran, ajaran gampang tapi salah” di sini – silakan klik. Oleh karena itu, sudah seharusnya umat Katolik bersyukur karena kita mempunyai Magisterium Gereja (lih. 1Tim 3:15), yang dapat memberikan kepastian ajaran seperti yang diperintahkan oleh Kristus, sehingga kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Kristus. Dengan memegang ajaran yang benar dan berbuah dalam kasih, maka besarlah pengharapan kita akan memperoleh keselamatan abadi di Sorga.

4. Penghakiman terakhir adalah akhir zaman

Dalam perikop tersebut ditekankan bahwa Yesus membiarkan gandum untuk tumbuh bersama-sama dengan lalang, sampai pada akhir zaman (ay.40-41). Hal ini memberikan pengharapan sekaligus kesediaan untuk mempersiapkan diri. Pengharapan bahwa Tuhan akan terus memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki kesalahan kita sampai kita dipanggil Tuhan. Namun pada saat yang bersamaan, pengharapan ini juga harus dibarengi dengan kesiapsiagaan, karena tentang hari dan saatnya tidak ada seorangpun yang tahu (lih. Mat 24:36). Pada saat akhir zaman, lalang yang dibiarkan tumbuh bersama gandum di ladang tidak dapat dibiarkan masuk ke dalam gudang yang sama. Pada saat itu, orang-orang yang melakukan kesesatan dan melakukan kejahatan akan dicampakkan ke dalam dapur api (ay.40-42). Bagaimana dengan gandum atau orang-orang yang melakukan kehendak Bapa? Mereka akan mendapatkan kebahagiaan abadi di Sorga (ay.43).

d. Kerajaan Sorga seperti biji sesawi (ayat 31-32)

Pada bagian ini, Kristus memberikan perumpamaan yang lain tentang Kerajaan Sorga, yaitu seperti biji sesawi yang ditaburkan seseorang di ladang, yang kemudian menjadi besar dan memberi kesempatan bagi burung-burung datang dan bersarang pada cabang-cabangnya. Biji sesawi memang biji yang sangat kecil, namun dapat tumbuh menjadi pohon yang dapat mencapai 4 meter, sehingga dapat memberikan keteduhan bagi makhluk hidup, seperti burung-burung. Injil Kristus yang diumpamakan seperti biji sesawi memang kecil dan bahkan menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi dan menjadi kebodohan bagi orang-orang non-Yahudi (lih. 1Kor 1:23). Namun ajaran akan Kristus yang tersalib dan bangkit telah mengubah dunia dan menjadi jalan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

Kita juga mengingat perkataan Kristus yang mengatakan bahwa jika biji tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap satu biji saja, namun jika ia mati, maka ia akan menghasilkan banyak buah (lih. Yoh 12:24). Dengan kata lain, biji ini adalah Kristus sendiri, yang telah mati di kayu salib dan ditanam di makam dan setelah kebangkitan-Nya, maka tumbuh menjadi begitu besar menjadi Gereja, yang menjangkau umat Yahudi dan non-Yahudi seluruh dunia.

e. Kerajaan Sorga seperti ragi (ay.33)

Yesus kemudian memberikan perumpamaan berikutnya, yaitu Kerajaan Sorga adalah seperti ragi yang diambil oleh seorang perempuan dan dapat membuat adonan roti. Ragi yang sedikit sekali dapat dicampurkan ke adonan dan membuat adonan roti tersebut berkembang. St. Hieronimus mengartikan perempuan tersebut adalah Gereja, yang mengumpulkan umat Allah dari segala bangsa, sehingga menjadi kumpulan umat Allah yang besar, yang berada dalam kesatuan umat Allah di dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Lebih lanjut, secara alegoris, St. Bernardus (l. 5. de Consider.) menjelaskan bahwa perempuan yang mengambil tepung terigu tiga sukat itu adalah Bunda Maria yang bersatu dengan Kristus yang mempunyai kodrat yang terdiri dari tubuh, jiwa (tubuh dan jiwa adalah kodrat manusia) dan ke-Allahan. Atau St. Agustinus menjelaskan bahwa ragi melambangkan kasih, karena menyebabkan aktifitas dan fermentasi. Sedangkan perempuan tersebut adalah kebijaksanaan dan tiga sukat melambangkan tiga hal dalam manusia, yaitu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa dan dengan segenap pengertian; atau tiga tingkatan hasil, seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, tiga puluh kali lipat.[2]

Perikop ini juga menjadi peringatan bagi kita semua yang telah menerima Kristus dalam Sakramen Baptis dan juga dalam Sakramen Ekaristi, agar dapat menjadi ragi di dalam keluarga dan masyarakat.

4. Mensyukuri karunia Gereja Katolik

Akhirnya, dari perikop di atas, maka kita dapat melihat bahwa untuk dapat memahami misteri Kerajaan Sorga, diperlukan sikap pertobatan atau sikap miskin di hadapan Allah. Namun, pada saat yang bersamaan diperlukan sikap yang senantiasa berjaga-jaga, mengingat bahwa ada begitu banyak tantangan di dunia saat ini, termasuk pengajaran-pengajaran yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Kristus. Hanya dengan terus berpegang pada pengajaran Kristus yang diteruskan dan dijaga secara murni oleh Magisterium Gereja, maka umat Allah dapat mempunyai pondasi yang kokoh, yang tahan terhadap serangan dari luar. Dengan pondasi yang kokoh ini, maka umat Allah dapat menjadi ragi bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Mari, sebagai umat Katolik, kita mensyukuri karunia Gereja Katolik yang telah diberikan oleh Kristus untuk menjaga kita semua. Dan mari kita senantiasa berjaga-jaga sehingga pada saatnya nanti, kita akan bersinar di dalam Kerajaan Sorga, seperti yang dijanjikan sendiri oleh Kristus.


CATATAN KAKI:
  1. lih. St. Thomas Aquinas, ST, III, q.42, a.3 []
  2. St. Augustine, Quaest. Ev., i, 12 []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamus Indonesia