Kalender Liturgi

Sabtu, 06 November 2010

SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA 2010 (6)



Nov 6, '10 1:24 AM
for everyone
SIDANG AGUNG GEREJA KATOLIK INDONESIA 2010

“Ia Datang Supaya Semua Memperoleh Hidup Dalam Kelimpahan”
(bdk. Yoh 10:10)

1-5 November 2010

“Mengenali Wajah Yesus dalam Pergumulan Hidup Kaum Marjinal dan Terabaikan”


Kamis, 4 November 2010, peserta SAGKI diajak untuk mengenali wajah Yesus dalam pergumulan hidup kaum marjinal dan terabaikan. Narasi publik disampaikan oleh Pst. John Bunay dari Keuskupan Jayapura, dan oleh Bp. Benedictus Gimin Setyo Utomo dari paroki Sumber Keuskupan Agung Semarang, yang menyampaikan pengalaman imannya, sangat mengharukan, yang diberinya judul "Karena Yesus Aku Bebas".


KARENA YESUS AKU BEBAS
oleh Benedictus Gimin Setyo Utomo

(Paroki Sumber, Keuskupan Agung Semarang)


Berkah Dalem,

Pertama-tama saya mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan dan Keuskupan Agung Semarang (KAS) dan Panitia SAGKI 2010, atas kesempatan yang baik ini.

Wilayah Ngargomulyo, salah satu bagian dari paroki Sumber, terletak di sebelah barat (8 km) dari puncak gunung Merapi. Mayoritas warga masyarakat berprofesi sebagai petani dan peternak, sebagian menjadi penggali pasir dan mencari kayu bakar di sekitar Merapi.

Saya tamatan SD Kanisius. Karena tidak adanya biaya saya tidak bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Berbagai pekerjaan sudah saya jalani: buruh kasar, menjual kayu bakar, jualan buah, ikut MLM. Kami salah satu kelaurga yang tidak punya agama, lima kakaku masuk agama setelah menikah. Orangtuaku terlibat G 30 S PKI, sehingga aku harus mengalami banyak tantangan dalam perjalanan hidupku, dicap sebagai anak PKI, biadab. Gelisah hatiku setiap malam 1 Oktober, bila dipertontonkan film G 30 S PKI. Pada tahun 1991 saya memutuskan menjadi orang Katolik, dan ikut ke gereja.

Meskipun sudah menjadi Katolik, saya tidak menjadi semakin baik juga. Masih suka melawan orangtua. Sering mengeluarkan kata-kata kotor, memukul, dan berlaku kasar. Tetapi Tuhan mengingatkan saya dan menolong saya. Ketika menjambret dengan teman, kami tertangkap. Warga mengepung kami, dan saya meloncat di bawah tebing, dalam suasana takut. Tak seorang pun mencari saya, walau saya tidak jauh dari tempat itu. Ketika menjambret kedua kalinya, saya tertangkap. Namun karena pertolongan teman, kami tidak sampai masuk penjara.

Ribut-ribut dengan orangtua kerap terjadi. Niat membunuh orangtua pun muncul. Namun, orangtua tetap pasrah. Karena sikap itulah, saya merasa dipanggil Tuhan untuk kembali ke jalan-Nya. Akhirnya, saya sadar, dan kembali ke gereja lagi. Panggilan untuk semakin aktif dalam kegiatan Gereja juga sangat kuat, sehingga sering mengikuti rekoleksi, pendalaman niman, Mudika, hingga aktif di salah satu Parpol. Saya bekerja menjadi tukang pemecah batu sambil menggaduh sapi. Dua tahun kemudian Tuhan memberi saya jalan membeli kebun kelapa wawit di Sumatera Selatan,dan dari hasil kelapa sawit itulah, perubahan secara materi saya dapatkan. Dari bangun rumah, beli motor hingga membayar hutang. Melihat kondisi ekonomi keluarga kami, semua itu mustahil saya dapatkan. Saya rasa semua itu sudah menjadi bagian dari rencana panggilan Tuhan untuk saya.

Kemudian, setelah satu tahun lebih bersama Bapak, saya memutuskan untuk me nikah, lalu pada tahun 1998 saya menerima sakramen Baptis dan Komuni. Tubuh dan Darah Kristus memberi kekuatan baru dalam diri saya. Saya bersyukur, Tuhan masih memberi kesempatan untuk hidup, karena satu dari teman saya penjambret dibunuh massa. Kasih Tuhan mendorong saya untuk membagikan sebagian hidup saya untuk Gereja dan masyarakat sebagai bentuk kesaksian saya.

Saya bertani dan menjadi pencoker di lokasi penambangan pasir dengan alat berat. Hingg pada tahun 2000 Romo V. Kirjito, Pr bertugas di paroki Sumber, dan sepertinya Rama menangkap suatu keprihatinan dengan rusaknya lingkungan di sekitar Merapi. Rama membentuk kelompok kecil, 20 orang, yang disebut “Semut Merapi”, suatu gerakan mencintai lingkungan hidup. Dalam perkembangan selanjutnya gerakan tersebut menjadi Gerakan Masyarakat Cinta Air (GMCA) yang semakin meluas ke semua lapisan masyarakat.

Pada tahun 2001 paroki Sumber mengadakan Gelar Budaya Merapi, berupa pentas seni yang ada di lereng Merapi, dan Dialog Budaya. Gerakan ini searah dengan dengan pastoral KAS yang mengembangkan Pastoral Budaya di paroki Sumber yang memihak budaya petani.

Sekarang paroki Sumber dan masyarakat Merapi mulai menuai hasil dari 10 tahun mengembangkan Pastoral Budaya. Hubungan an tar umat beragama menjadi semakin harmonis, menumbuhkan sikap kecintaan masyarakat pada Alam Merapi, yang diwujudkan dalam sebuah PERDES (Peraturan Desa) tentang lingkungan dan tidak lagi dikeluarkannya ijin penambangan pasir dengan alat berat. Mulai tumbuh kesadaran masyarakat mengelola sampah plastik di tingkat keluarga dan sikap mengharga “yang kecil” dengan mengumpulkan uang receh di tingkat keluarga yang sudah berjalan sekitar tiga tahun untuk pembangnan gedung gereja.

Saya pribadi menjadi sadar bahwa hidup saya tidak lepas dari Alam, khususnya dari Air yang sudah lebih dulu ada sebelum yang lain diciptakan, seperti tertulis dalam Kitab Kejadian (Kej 1: 1-2). Saya tidak lagi minder menjadi petani “ndeso”. Dengan pendidikan saya yang rendah, Pastoral Budaya juga menjadi sarana saya belajar tentang hidup, dan menambah wawasan, hingga beberapa kali saya dikasih kesempatan oleh KAS untuk terlibat dalam Tepas (Temu Pastoral), acara Kaum Muda, dan juga menjadi Komite Sekolah, Ketua LKMD, dan menjadi Ketua Wilayah.

Sepuluh tahun terlibat dalam proses Pastoral Budaya membela Kebudayaan Petani, lingkungan hidup, banyak tantangan yang saya hadapi. Saya merasa ini sebagai cara Tuhan menyentuh umat. Keterlibatan saya membuat saya sebagai orang desa bangga dan tidak lagi terbebani dengan masa lalu saya. Saya hanya beraharap kepada semua pihak, agar lebih mencintai Alam ini, dan Kebudayaan Petani, dan Ger ewja menjadi teman kami memihak Kebudayaan petani, supaya ke depan genersai kami terbebas dari sebuah sisteim yang tidak adil.

Narasi tersebut dituturkan oleh Benedictus Gimin Setyo Utomo, dan untuk keperluan publikasi ini disampaikan dalam format lebih ringkas.

Bandung, 6 November 2010

Salam, doa ‘n Berkat Tuhan,
+ Johannes Pujasumarta

sumber: http://pujasumarta.multiply.com/journal/item/279/SIDANG_AGUNG_GEREJA_KATOLIK_INDONESIA_2010_6
6 Nov 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamus Indonesia