Kalender Liturgi

Sabtu, 27 Agustus 2011

Mukjizat Penggandaan Roti Adalah Gambaran Akan Sakramen Ekaristi

I. Pemberian diri, Mukjizat dan Ekaristi

Kita mungkin sering mendengar ulasan tentang mukjizat penggandaan roti dan ikan. Tulisan ini mencoba mengupas bahwa mukjizat ini terjadi karena peran serta para murid dan orang-orang yang hadir, yang mau menyediakan apa yang ada pada diri mereka, sehingga Kristus dapat mengambil dan menyempurnakannya, yang pada akhirnya dapat dipergunakan untuk kebaikan bersama serta menyatakan kemuliaan Tuhan. Mukjizat ini juga menjadi gambaran akan apa yang terjadi pada Perjamuan Terakhir, yang juga terjadi sampai saat ini dalam Sakramen Ekaristi. Pemberian diri inilah yang juga dituntut dari semua umat Allah yang berpartisipasi dalam setiap perayaan Ekaristi, sehingga setiap orang dapat menyatukan persembahan dirinya dengan korban Kristus.

II. Teks Matius 14:13-21

Dalam minggu ke-18 masa biasa tahun A ini, bacaan liturgi memberikan bacaan dari: Yes 55:1-3; Mzm 145:8-9,15-18; Rom 8:35,37-39; dan Mat 14:13-21. Mari sekarang kita melihat teks dari Injil Matius yang diberikan [penekanan dari saya]:

13. Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.
14. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.
15. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.
16. Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.
17. Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.
18. Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.”
19. Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
20. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh.
21. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

III. Telaah dan interpretasi Matius 14:13-21

1. Yesus menyingkir ke tempat yang sunyi (ay.13)

Kalau kita melihat konteksnya, maka perikop ini terjadi setelah Yohanes Pembaptis dipenjara dan kemudian dibunuh oleh Herodes, sang raja di wilayah itu (lih. Mat 14:1-12; Mrk 6:14-29; Luk 9:7-9; Luk 3:19-20). Di dalam Injil, disebutkan ada empat Herodes: (a) Herodes Agung atau Raja Herodes (Mat 2:1), (b) Herodes Antipas, yang membunuh Yohanes Pembaptis (Mat 14:1-12) dan yang mengolok-olok Yesus yang menderita (Luk 23:7-11), (c) Herodes Agripa I – keponakan dari Herodes Agung, yang membunuh Yakobus, saudara Yohanes (Kis 12:1-3) dan yang memenjarakan rasul Petrus (Kis 12:4-7) serta yang meninggal secara mendadak dan misterius (Kis 12:20-23), (d) Herodes Agripa II – yaitu anak Herodes Agripa I, yang kepadanya Paulus dihadapkan untuk menjawab tuduhan dari kaum Yahudi ketika Paulus dipenjara di Kaisaria (Kis 25:23).

Herodes Antipas inilah yang membunuh Yohanes Pembaptis. Dia adalah anak dari Herodes Agung dan dia diberi kekuasaan untuk memerintah daerah Galilea dan Perea dari tahun 4 SM sampai tahun 39. Walaupun dia telah menikah dengan puteri Raja Arab, namun dia hidup bersama dengan selirnya yang bernama Herodian, istri dari saudaranya, Herodes Filipus. [1] Dan karena mengkritik kehidupan moral dari Herodes Antipas yang mengawini istri saudaranya, serta jebakan licik dari Herodian, maka Yohanes Pembaptis dipenjara dan akhirnya dipenggal kepalanya (lih. Mat 14:1-12; Mrk 6:16-29). Disebutkan juga bahwa Herodes ingin bertemu dengan Yesus, karena berpikir bahwa Yesus adalah penjelmaan Yohanes Pembaptis yang telah dibunuhnya, atau penjelmaan Elia, atau penjelmaan salah satu nabi dari Perjanjian Lama (lih. Luk 9:7-9). Dalam keadaan setelah Yohanes Pembaptis dibunuh dan Herodes mencoba bertemu dengan Yesus, dikatakan bahwa Yesus menyingkir ke tempat yang sunyi (lih. Mat 14:1).

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Yesus harus menyingkir? Apakah Yesus takut untuk dibunuh? Beberapa interpretasi dari Bapa Gereja mungkin dapat membantu. Alasan mengapa Yesus menyingkir adalah karena memang waktu yang ditetapkan oleh Bapa atau kematian Yesus belum tiba, seperti yang dikemukakan oleh St. Yohanes Krisostomus. Dan alasan ini juga dikemukakan oleh rasul Yohanes yang menuliskan “Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.” (Yoh 7:30, lih. Yoh 8:20) Santo Hieronimus memberikan tambahan penjelasan bahwa menyingkirnya Yesus merupakan bentuk belas kasih Yesus kepada musuhnya, sehingga Dia tidak menambah dosa Herodes yang telah membunuh Yohanes Pembaptis dan kemudian nantinya harus membunuh Yesus. [2] Alasan yang lain adalah karena Yesus ingin menghindari paksaan umat Yahudi yang ingin menjadikan Dia seorang raja (lih. Yoh 6:15). Kemungkinan yang lain adalah karena Yesus dan para murid-Nya memang membutuhkan istirahat, karena mereka sama sekali tidak mempunyai waktu untuk makan (lih Mrk 3:20) dan beristirahat (lih. Mrk 6:31). Dan memang walaupun Yesus dan para murid-Nya menyingkir ke tempat yang sunyi, namun orang-orang mendengar tentang hal ini dan mencoba menemukan mereka. Dan orang-orang yang melihat ke mana mereka pergi, kemudian menyusul mereka lewat jalan darat (lih. Mrk 6:33).

2. Seperti domba tanpa gembala (ay. 14)

Ketika Yesus dan para murid-Nya sampai di tempat tujuan dan mendarat, Dia melihat sejumlah besar orang, sehingga tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Yesus melihat bahwa mereka tercerai berai, sama seperti domba-domba tanpa gembala (lih. Mat 9:36; bdk. Bil. 27:17; 1Raj 22:17). Tergerak oleh belas kasihan, maka tanpa diminta, Yesus menyembuhkan mereka yang sakit (ay.14) dan tanpa kenal lelah Yesus dan para murid-Nya membantu orang- orang itu sampai menjelang malam. Hal ini menjadi peringatan kepada para pelayan umat agar tanpa lelah melayani umat.

3. Kamu harus memberi mereka makan (ay.15-16)

Menyadari bahwa hari telah menjelang malam dan mereka semua berada di tempat yang sunyi, maka para murid meminta kepada Yesus untuk menyuruh orang-orang pergi dan membeli makanan di desa-desa (ay.15; bdk. Mrk 6:36; Luk 9:12). Namun kemudian Yesus membuat jawaban yang sungguh mengejutkan para murid, karena Dia berkata, “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” (ay.16) Para murid terbiasa untuk menyaksikan Yesus membuat mukjizat dan merasa aman akan posisi mereka. Namun, tiba-tiba dalam kondisi yang sungguh tidak memungkinkan untuk memberi makan lebih dari 5.000 orang, Yesus justru mengatakan bahwa merekalah yang harus memberi makan orang banyak itu. Para murid yang telah mengikuti Yesus dan melihat bagaimana Yesus telah melakukan banyak mukjizat, kini dihadapkan untuk menangani keadaan yang sulit ini. Berapa sering dalam situasi paroki, seseorang dapat merasa diri tidak siap, ketika harus menjadi seorang ketua lingkungan, ketua wilayah, ketua seksi maupun bidang, atau harus menjadi koordinator untuk acara tertentu. Mereka tiba-tiba berhadapan dengan perkataan Yesus, “Kamu harus memberi mereka makan“.

Di Injil Yohanes, Yesus bertanya kepada Filipus, di manakah mereka dapat membeli roti supaya semua orang yang berkumpul dapat makan (lih. Yoh 6:5). Dan Filipus menimbang apa yang mereka punyai, lalu mengatakan “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (lih. Yoh 6:7) Menjawab perkataan Yesus agar para murid yang memberi makan orang-orang, St. Markus melaporkan hal yang sama dengan menuliskan, “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” (Mrk 6:37) Jawaban yang seolah-olah merupakan pertanyaan yang mempunyai konotasi tidak yakin.

4. Mengakui keterbatasan dan membawanya kepada Yesus (ay.17-18)

Dalam kondisi kebingungan ini, kini mereka mulai melihat apa yang mereka punyai pada saat itu. Injil Matius dan Lukas melaporkan bahwa para murid mengatakan bahwa mereka hanya mempunyai lima roti dan dua ikan (Lih. Mat 14:17; Luk 9:13). Injil Yohanes menuliskan bahwa Andreas, saudara Petrus melaporkan bahwa ada seorang anak kecil yang membawa lima roti dan dua ikan (lih. Yoh 6:9). Namun, di ayat yang sama, Rasul Andreas berkata, “tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?

Para murid tidak yakin, bahwa apa yang mereka punyai cukup untuk memberi makan begitu banyak orang. Kita juga dapat melihat bagaimana para nabi di dalam Perjanjian Lama melakukan hal yang sama: mereka tidak yakin ketika Tuhan mempercayakan suatu tugas kepada mereka. Ketika Tuhan menyuruh Musa menghadap Firaun, maka Musa menjawab, “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?” (Kel 3:11) Bahkan ketika Tuhan telah membuktikan bahwa Dia dapat membuat mukjizat melalui Musa, Musa masih meragukan dirinya dan berkata, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (Kel 4:10) Dan bahkan ketika Tuhan menyatakan bahwa Dia akan menyertai dan mengajar Musa akan apa yang harus dikatakan, Musa tetap ragu dan menjawab, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (Kel 4:13) Kita juga melihat bahwa Gideon merasa terlalu muda untuk melawan orang Midian. (lih. Hak 6:15). Bahkan nabi Yeremiah merasakan keterbatasan seperti musa dan Gideon, sehingga dia mengatakan “Ah, Tuhan Allah! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yer 1:6)

Dengan demikian, janganlah kita merasa rendah diri akan keterbatasan kita. Justru Tuhan memilih orang-orang yang terbatas kemampuannya, sehingga kemuliaan dan kuasa Tuhan menjadi sempurna (lih. 2Kor 12:9). Namun, satu hal yang harus kita lakukan agar mukjizat dapat terjadi adalah membawa semua yang ada pada diri kita, baik waktu, harta, talenta dan juga semua kelemahan kita di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Yesus berkata, “Bawalah kemari kepada-Ku….” (Mat 14:18)

5. Lihat, mukjizat itu nyata! (ay. 19-21)

Pada saat para murid membawa membawa lima roti dan dua ikan atau pada saat kita membawa apa yang ada pada diri kita kepada Yesus, maka mukjizat akan terjadi. Ada dua mukjizat penggandaan roti dan ikan. Mukjizat penggandaan roti dan ikan yang pertama diberikan dalam Mat 14:13-21; Mrk 6:30-44; Luk 9:10-17; dan Yoh 6:1-13. Setelah itu mukjizat penggandaan roti dan ikan yang kedua dituliskan dalam Mat 15:32-39; Mrk 8:1-10. Ada perbedaan jumlah orang yang diberi makan serta sisa roti antara mukjizat pertama dan kedua, yaitu yang pertama 5,000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak, sisa dalam mukjizat itu adalah 12 bakul, sedangkan yang kedua berjumlah 4,000 dan sisanya adalah 7 bakul.

Di salah satu diskusi dalam situs katolisitas, seorang pembaca menuliskan bahwa dia pernah mendengar bahwa ada sebagian umat Katolik yang mengatakan bahwa mukjizat tersebut tidaklah benar-benar terjadi, karena mereka berpendapat bahwa yang terjadi hanyalah orang-orang tersebut saling berbagi, yang dimulai oleh anak kecil yang memberikan lima roti dan dua ikan (lih. Yoh 6:9). Dalam dialog ini, saya memberikan beberapa argumentasi sebagai berikut:

1. Dalam kaitan dengan makna literal. Kalau kita mau tetap setia terhadap teks, maka yang pertama kali yang harus kita lihat adalah makna literal. Ini berarti apakah dengan mengatakan bahwa kejadian ini hanyalah “saling berbagi” merupakan manifestasi bahwa kita tidak percaya bahwa Kristus dapat melakukan hal ini. Apakah dengan demikian, kita ingin menghilangkan dimensi mukjizat yang dilakukan oleh Kristus? Di satu sisi, dari teks juga tidak dapat disimpulkan secara pasti bahwa kejadian penggandaan roti dan ikan hanyalah merupakan peristiwa berbagi dalam komunitas.

Bahkan dari teks “14 Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakan-Nya, mereka berkata: “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”
“Karena Yesus tahu, bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir pula ke gunung, seorang diri.
” (Yoh 6:14-15) maka kita melihat bahwa orang-orang yang hadir mengganggap bahwa kejadian penggandaan roti dan ikan adalah suatu mukjizat, sehingga mereka ingin menjadikan Yesus sebagai raja. Kalau hanya peristiwa berbagi dalam komunitas, mungkin reaksi dari orang-orang tidak akan sampai ingin menjadikan Yesus sebagai raja dan hanya menganggap bahwa kejadian tersebut adalah hal yang biasa saja.

2. Dalam kaitannya dengan komentar dari Bapa Gereja. Dalam Catena Aurea, St. Thomas mengutip St. Agustinus dan Bede yang mengatakan:

“AGST. Dia memperbanyak lima roti di tangan-Nya, sebagaimana Dia menghasilkan panen dari beberapa bulir. Ada kekuatan di tangan Kristus; dan yang terjadi pada lima roti itu, seolah-olah, biji, yang tidak jatuh ke bumi, namun menjadi berlipat ganda oleh-Nya, yang menciptakan bumi.

BEDE. Ketika orang banyak melihat mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan kita, mereka kagum; karena mereka belum tahu bahwa Dia adalah Allah. Kemudian orang-orang, Penginjil menambahkan, yaitu orang-orang duniawi, yang pemahamannya adalah duniawi, ketika mereka telah merasakan keajaiban bahwa Yesus, mengatakan, ini adalah kebenaran bahwa seorang Nabi telah datang ke dalam dunia.

Dari dua kutipan di atas, kita dapat melihat bahwa mereka menangkap bahwa peristiwa ini adalah suatu mukjizat dan bukan hanya sekedar kejadian berbagi dalam komunitas.

3. Dalam kaitan dengan Ekaristi. Kalau kita melihat konteks dari Yoh 6, maka kita akan melihat kaitan antara mukjizat penggandaan roti (Yoh 6:1-13) dan mukjizat penggandaan Roti Hidup, yaitu Yesus sendiri dalam Sakramen Ekaristi (Yoh 6:25-68). Dengan mereduksi mukjizat penggandaan roti menjadi sekedar kejadian berbagi di dalam komunitas, menjadi sulit untuk melihat konteks Ekaristi sebagai suatu mukjizat, di mana Kristus hadir secara nyata (Tubuh, Jiwa dan ke-Allahan) dalam setiap partikel roti dan anggur, serta menggandakan Diri-Nya, sehingga Dia dapat tinggal dan bersatu dengan seluruh umat beriman.

6. Lihat, mukjizat itu adalah gambaran dari Ekaristi. (ay.19)

Sebelum Yesus melakukan mukjizat penggandaan roti dan ikan, maka disuruh-Nya orang banyak itu untuk duduk di rumput. Injil Markus dan Lukas menerangkan bahwa orang-orang dibagi dalam kelompok-kelompok berjumlah lima puluh atau seratus, serta duduk di rumput (lih. Mrk 6:40; Luk 9:14). Ini menunjukkan keteraturan dan juga Kristus menginginkan suasana perjamuan yang formal.

Setelah semua berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, maka dituliskan “diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.” (Mat 14:19). Kita melihat beberapa kata kunci di ayat ini, seperti: mengambil, mengucap syukur, memecah-mecah dan memberikan atau membagikan. Kita dapat melihat apa yang terjadi dalam Perjamuan Suci, di mana dituliskan, “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” (Mat 26:26) Bahkan ketika Kristus wafat, Dia melakukan hal yang sama kepada dua orang murid yang mengadakan perjalanan ke Emaus. Dituliskan, “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.” (Luk 24:30) Di ayat berikutnya, dikatakan bahwa pada saat itulah mata mereka terbuka dan mengenal Kristus. Mengapa mata mereka terbuka pada saat Kristus mengambil, mengucap berkat, memecah-mecah, dan memberikannya kepada mereka? Karena kata-kata itulah yang diucapkan oleh Kristus pada saat Dia masih hidup, yaitu ketika Kristus mengadakan mukjizat penggandaan roti, yang tidak hanya dilakukan sekali namun dua kali.

Menarik untuk disimak, bahwa kata-kata yang sama -mengambil roti, mengucap berkat, memecah- mecahkannya dan memberikannya- diucapkan juga oleh Yesus pada saat Perjamuan Terakhir. Namun, pada saat Perjamuan Terakhir, Kristus memberikan makna yang lebih dalam lagi. Pada saat Perjamuan Terakhir, Kristus tidak hanya memperbanyak roti dan mengenyangkan perut, namun Dia memberikan Diri-Nya sendiri, sehingga Dia mengatakan, “Ambillah, makanlah, inilah Tubuh-ku” (Mat 26:26). Dan orang yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya akan mendapatkan kehidupan yang kekal dan akan dibangkitkan pada akhir zaman (lih. Yoh 6:54). Dan perkataan dan makna yang sama terjadi dalam setiap perayaan Ekaristi.

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1335) menegaskan bahwa mukjizat penggandaan roti adalah merupakan gambaran akan Sakramen Ekaristi.

KGK, 1335. Mukjizat perbanyakan roti menunjukkan lebih dahulu kelimpahan roti istimewa dari Ekaristi-Nya (Bdk. Mat 14:13-21; 15:32-39.): Tuhan mengucapkan syukur, memecahkan roti dan membiarkan murid-murid-Nya membagi-bagikannya, untuk memberi makan kepada orang banyak. Tanda perubahan air menjadi anggur di Kana (Bdk. Yoh 2:11.) telah memaklumkan saat kemuliaan Yesus. Ia menyampaikan penyempurnaan perjamuan pernikahan dalam Kerajaan Bapa, di mana umat beriman akan minum (Bdk. Mrk 14:25.) anggur baru, yang telah menjadi darah Kristus.

7. Lihat, mereka makan sampai kenyang (ay.20-21)

Dituliskan bahwa para murid membantu membagi-bagikan roti tersebut kepada orang banyak yang telah duduk dalam kelompok-kelompok kecil. Dan di ayat 20 disebutkan bahwa mereka semua yang berjumlah 5.000 pria ditambah dengan wanita dan anak-anak, makan sampai kenyang. Roti dan ikan yang telah diberkati Kristus bukan hanya cukup mengenyangkan semua orang, bahkan tersisa 12 bakul penuh. Mukjizat yang sama terjadi setiap hari di seluruh dunia dalam setiap perayaan Ekaristi. Kalau jumlah umat Katolik seluruh dunia adalah 1,2 milyar, dan kalau yang mengikuti misa harian adalah satu persen dari total umat, maka setiap hari terjadi penggandaan roti sebanyak 12 juta. Pada hari Minggu, terjadi lebih banyak lagi penggandaan roti. Dan mereka semua dikenyangkan dengan makanan rohani, yaitu Kristus sendiri.

IV. Mari kita memperbaharui iman kita akan Sakramen Ekaristi

Dari ulasan di atas, maka kita dapat melihat adanya kaitan yang sangat erat antara mukjizat penggandaan roti, Perjamuan Terakhir dan Sakramen Ekaristi. Hal ini seharusnya memperkuat iman kita akan Kristus yang sungguh-sungguh hadir (Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan) dalam setiap perayaan Ekaristi. Bahkan kalau Kristus sendiri menyediakan Diri-Nya untuk bersatu dengan umat-Nya dalam setiap perayaan Ekaristi, maka sudah seharusnya umat Allah dapat datang kepada Kristus serta berpartisipasi secara aktif, bukan hanya saat Misa Minggu, namun juga berusaha untuk hadir dalam misa harian. Mari, kita menyediakan diri kita, menyisihkan waktu kita, membawa beban dan sukacita kita, serta menyatukannya dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi.


CATATAN KAKI:
  1. Flavius Josephus, Jewish Antiquities, XVIII, 5,4, – yang dikutip oleh The Navarre Bible, St. Matthew []
  2. lih. St. Thomas Aquinas, Catena Aurea, commentary on the Gospel of Matthew 14:13-14 []
sumber: http://katolisitas.org/2011/07/26/mukjizat-penggandaan-roti-adalah-gambaran-akan-sakramen-ekaristi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamus Indonesia