Kalender Liturgi

Rabu, 29 Oktober 2008

EPISTULA_Cerpen2

Calon St. Yusuf Era Globalisasi

”Hallo... Eki?. Ki, kami ingin bertemu kamu, kalau bisa secepatnya kamu datang ke rumah Redi, penting sekali!!!, kami tunggu ya!” minta Steka via telepon. Tanpa bertanya-tanya lagi, Eki langsung meluncur dengan sepeda motor bututnya ke rumah Redi. Eki ditunggu dengan sejuta harapan oleh sahabat-sahabat mudikanya.

”Begini loh...Ki, kami memerlukanmu untuk memecahkan persoalan kami. Kami tahu pasti kamu dapat menolong. Tapi, itu jika kamu berkenan” ujar Redi yang lebih dewasa saat itu.

”Lantas apa yang harus kulakukan?”, tanya Eki dengan spontan. ”Bagaimana... menjelaskannya ya?” pikir Redi sejenak. ”Ayo katakan saja, jangan buat aku jadi penasaran” tegas Eki.

”Ohya Ki...., kamu tahu kan Puspa?. Dia sekarang sedang hamil lima bulan. Dan Puspa saat ini belum menerima pemberkatan sakramen pernikahan. Kamu juga tahu kan kalau pacarnya itu belum meyakini agama kita?” ungkap Redi. ”Puspa yang aktif ikut mudika itu?” ceplos Eki. ”Iya” jawab Redi dan Stika bersamaan.

”Duh... apa yang aku harus perbuat dalam hal ini?, sedangkan aku belum berpengalaman, umurku saja baru setinggi pohon jagung” linglung Eki sambil meminum secangkir air putih.

”Kami tadi telah berembuk sebelum kamu datang, kami berharap kamu dapat menjadi penolong bagi Puspa. Siapa tahu kamu mau menolong bayi yang sedang dikandung Puspa. Dan kami berharap ada seorang yang mau menjadi seperti teladan Bapak Yusuf, apalagi di era globalisasi ini” ujar Redi.

”Kenapa tidak kan?!, jika ada seorang pria, yang mau menjadi seperti Bapak Yusuf 2000 tahun yang lalu” celetuk Stika. ”Ah... yang benar saja kalian, masa mau menjerumuskan aku sebagai Bapak Yusuf zaman global warming” canda Eki memberi tanggapan.

”Haha…haha...ha..” semua tertawa sambil menikmati kue kering diruang tamu, yang sedikit terang itu.

Dengan sedikit serius Eki berkata, ”Apakah kalian berpikir, bahwa menjadi seperti Bapak Yusuf itu ternyata tidaklah mudah. Di era sebelum Masehi, memang tidak ada yang mengira Bapak Yusuf menjadi Ayah bagi Yesus Kristus dan menjadi suami bagi Ibu Maria. Apalagi anak yang dikandung Bunda Maria bukan dari hasil hubungan suami-istri melainkan dari Roh Kudus. Namun dalam hal ini, berbeda dengan Puspa yang hamil akibat 'sex before marriage’, melakukan hubungan suami-istri sebelum pemberkatan pernikahan. Dan kalian sekarang mau menjadikan aku pengganti Bapak Yusuf?. Kalian itu sama saja menjadikan aku seperti telur diujung tanduk” ungkap Eki sedikit tidak mengenakan.

”Kami minta maaf Ki, kami tidak berpikir sejauh itu. Kami hanya berpikir ada yang mau menolong keselamatan bayi yang sedang dikandung Puspa.” ujar Steka menenangkan Eki. ”Kan sudah jelas, apalagi yang mau dipikirkan, bukankah yang berbuat itu harus bertanggung jawab?” sahut Eki sedikit menenang. ”Iya memang benar Ki, tapi kamu belum tahu kalau bayi yang dikandung Puspa itu telah menerima obat-obatan keras untuk digugurkan oleh Arbiso, kekasihnya yang melepas tanggung jawab itu. Bagi Gereja, hal itu kan dosa yang sangat berat dan perbuatan pencobaan arbosi itu dilarang keras” tegas Redi dengan penuh kebijaksanaan.

Malam yang dingin saat itu ikut merasakan pembicaraan yang lebih dari tiga jam. Canda-tawa, serius-memanas, menghampiri setiap kali pembicaraan. Hanya beberapa kali bisa tertawa terbahak-bahak. Eki dan Steka pun pamit dari kediaman Redi.

Dalam perjalan pulang Eki memikirkan hasil pembincangannya dengan sahabat-sahabatnya. Eki tidak menyangka, pembicaraan malam itu menjadi gangguan dalam pikirannya hingga menjelang tidur.

Sejak malam itu pula Eki selalu berkontemplasi, mencari kehendak Tuhan selama 14 hari tanpa henti. ”Dapatkah aku menjadi seperti teladan Bapak Yusuf ?. Kenapa aku harus menghadapi semua ini?. Akukah yang harus menyelesaikan pergumulan ini?. Apa yang harus aku perbuat dalam pergumulan ini?” tanya Eki setiap doa malam.

Sementara Eki terus bergelut dengan pencobaannya, pada malam yang ketiga Eki berdoa dengan lebih kusuk dihadapan altar kecil yang berada di sudut kamarnya. Di depan patung Bunda Maria dan patung Tuhan Yesus serta ditemani cahaya lilin, Eki berkeluh kesah dengan pergumulannya. ”Ya Bunda, engkau adalah Ibu bagi Yesus Tuhanku, aku tahu engkau adalah istri bapak Yusuf. Aku sekarang sedang linglung mencari jawaban atas pergumulan ini. Aku mau mencari jawaban yang seperti engkau Bunda, bukan kehendakku yang terjadi melainkan kehendak Bapa yang terjadi” doa Eki yang hingga meneteskan air mata.

Malam-malam berikutnya adalah hari yang ketujuh bagi Eki. Ketika malam itu Eki berdoa, melintas dengan indah dalam bayang-bayang keheningan, kenangan masa lalu Eki bersama Puspa. Saat Eki mengejar asa cinta dari Puspa yang adalah teman seangkatannya waktu duduk di bangku SMP. Eki juga teringat akan uang koin yang selalu dikumpulkannya setiap minggu. Uang koin itu digunakan hanya untuk menelepon Puspa di malam minggu sepulang Gereja.

Pada hari kesembilan, Eki makin risih karena doa-doanya tak kunjung terjawab. Suara hatinya terganggu oleh berbagai macam jalan yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa. Sangkin kawatirnya, Eki menderaskan lagi novena tiga kali Salam Maria untuk memperkuat barisan depan intensinya. Hari-hari berlalu sebelum hari pemberkatan Puspa dan Arbiso, terkadang Eki melamun di siang hari bolong. Sapaan terik matahari dibawah pohon rindang tak membuat Eki sadar akan Tuhan yang sedang menemani kesendiriannya.

Pagi berikutnya Eki terburu-buru pergi ke Kapel Jhon Baptis, meski tidak begitu jauh dari rumahnya. Eki ingin menyaksikan hari yang bersejarah bagi Puspa dan Arbiso. Sabtu 7 Juli 2008, merupakan hari pemberkatan bagi Puspa dan Arbiso yang menjadi mempelai yang sepadan. Arbiso telah menjadi katolik dan menjadi bagian dari keluarga katolik yang telah resmi menurut Kitab Hukum Kanonik, yang disahkan Gereja melalui Sakramen Pernikahan.

Disudut barisan depan, Eki menyaksikan kebahagian Puspa. Yang juga merupakan kado terbesar bagi Puspa dari Eki. Inilah jawaban akhir dari pergumulan dan kecemasan Eki yang berlarut hingga berhari-hari. Meski sempat hati Eki mau memberontak saat acara berlangsung, namun Eki dapat menenangkan diri dan mengikhlaskan pernikahan Puspa.

Sejak saat itu Eki menyadari, pergumulannya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan pertolongan Tuhan indah pada waktu-Nya. Eki berharap agar dapat menemukan gadis yang sepadan, yang takut akan Tuhan dan seiman baginya. Yang saling mencintai serta tak terpisahkan oleh manusia, yang sesuai dengan kehendak Tuhan, doa Eki dihadapan tarbenakel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kamus Indonesia